Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Sabtu, 18 April 2015

Antara aku, kamu, dan HIMA


Apakah aku menyangka pertemuan ini?
Apakah kau juga menyangka pertemuan ini?
Apakah kita juga menyangka akan ada pertemuan ini?
Dalam ukhuwah HIMA, kita dipertemukan.
Semua kebersamaan yang terjalin indah tak selamanya berasal dari kehangatan dan keharmonisan juga bukan?
Juga seperti kita? 
Apakah terbesit sekali saja di dalam benak kita, akan ada kehangatan yang benar-benar mampu menghangatkan hatiku untuk menghadapi segala penat, yang selama ini hanya kubisa pendam sendirian ?
Dan aku memilih jalan yang tepat dalam menyudahi semua terpaan itu.
Sebuah Jalan bernama HIMA.
--##--##--##--
Yaa, semua berawal dari saat itu, saat aku memasuki gerbang kampus IV PGSD dan mulai mengenal beberapa organisasi di sana.  HIMA menjadi salah satu dari beberapa Organisasi di PGSD. Ketika aku mengetahuinya, apakah aku langsung berminat memasuki organisasi ini?
Sama sekali tidak. Pada Osmaru pertama, aku tidak menjadi orang yang mengacungkan jari untuk mendaftar organisasi ini. Entah Mengapa aku begitu menganggap sebelah mata sebuah organisasi saat itu. Aku beranggapan bahwa setiap organisasi hanyalah menyita waktu kita untuk bermimpi dan meraih prestasi. Namun anggapanku salah besar dan aku semakin  menyesali dugaan itu, saat aku melihat beberapa prestasi dari pengurus HIMA sendiri. Semenjak saat itu, aku mulai membukaa hati untuk mengikuti organisasi di kampus itu dan mencoba keluar dari zona nyuamanku selama ini. Di samping mengikuti SIM dan SKI, akhirnya aku memilih HIMA sebagai salah satu organisasi yang kuharapkan dapat mengembangkan softskillku ke depannya.
Dan pada saat kuliah umum pertama itu, aku memutuskan untuk mengambil formulir pendaftaran tersebut. Awalnya aku sangat pesimis dengan kemampuanku. Pasalnya, tidak ada organisasi yang benar-benar kutekuni selama SMA, paling lama hanya 1 tahun saja itupun tidak terlalu aktif, hehe. Satu per satu agenda seleksi pun aku ikuti, dari HIMASCO, PGSD Cup, Wawancara hingga PLDK. Dan Semuanya berkesan. Aku bertemu teman-teman dan kakak-kakak tingkat yang sangat mengisnpirasi.
HIMASCO
Mungkin aku tidak terlalu mengingat materi yang di sampaikan pembicara super saat itu. Karena review nya sudah kupost di blogku juga yaitu ingridelvina.blog.uns.ac.id (Eheem promosi :D). Yang jelas, HIMASCO benar-benar membuka hatiku untuk keluar dari zona nyamanku. Keluar dari kemalasan yang menipu dan menghalangi mimpi-mimpiku itu.
PGSD Cup
Nah, nah... Kemampuanku dalam berorganisasi benar-benar diuji di sini. Sebenarnya, aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian dari sana yang kebanyakan sangat memalukan. Tetapi, aku berusaha bernostalgia kembali, mengenang masa-masa yang tentu saja memiliki banyak hikmah dan pengalaman itu.

PGSD Cup adalah salah satu program kerja dari HMA yang  memiliki beberapa lomba bidang olahraga untuk dipertandingkan. Yang membuat berbeda adalah panitianya berasal dari angkatan 2014, yang notabenenya adalah mahasiswa baru saat itu. Mungkin bagi yang lain menjadi salah satu panitia di sana adalah hal yang biasa. Tapi tidak untukku. Tidak akan menjadi hal biasa saat aku benar-benar tak memiliki pengalaman untuk mengkoordinir acara selama ini. Apalagi aku ditempatkan menjadi salah satu penanggung jawab lomba di sana. Jeng, jeng… Dan perjuangan itu pun dimulai.
Setiap detik hari-hariku selama sebulan itu pun dipenuhi kegugupan. Perasaan was-was, takut, dan cemas bercampur jadi satu, teraduk-aduk dan menetap di kepalaku. Hanya saja aku tidak terlalu menampakkannya jadi tidak secemas seperti yang kalian pikirkan bukan? Padahal isinya? Jangan tanya deh!
Namun, aku sedikit merasa lega, karena setiap lomba terdapat dua temanku lain dan kakak kelas yang menjadi pendamping. Nah untuk tenis meja sendiri ada mas Bima.  Ya, sedikit lega. Setidaknya aku tidak bekerja seorang diri. Walau begitu, sepertinya ada masalah yang akan memenuhi kepalaku kembali. Kok cowok? 
Masalah itu adalah saat aku harus meminta arahan lomba dari kakak kelasku itu. Bukan apa-apa, tapi aku dulunya adalah perempuan pemalu, yang sama sekali nggak biasa interaksi dengan laki-laki yang baru kukenal apalagi sama kakak kelas . Aduuh -.-
Walau sebenarnya aku begitu ingin berkata segala hal, tapi keraguanku mengalahkan segalanya. Butuh pikiran berpuluh-pluh kali, untuk tanya kepada Mas Bima, walaupun hanya sekedar menanyakan “Mas, nanti jadi wasit ya?” atau “Mas, bisa pinjam bet?” Aaaa maluu banget. Nggak bisa, nggak bisa! Jadi, jangan salah paham dengan sifatku, ya. Walau pun aku terkesan pendiam dan jarang menunjukkan keramahan, tapi aku nggak sombong kok. Itulah salah satu sifat yan menjadi kekuranganku selama ini, sifat pendiam, pemalu dan nggak enakan. Duh, kok kekurangan semua u,u.
Walau begitu, berkat bantuan mas Bima semuanya dapat  lancar. Walaupun banyak sekali masalah-masalah dan konflik batin di setiap perjalanan PGSD Cup. Dari banyak kakak kelas yang protes, kakak kelas yang tiba-tiba ganti jam karena ada kuliah dadakan, atau dari pemain yang lama banget nggak datang, sampai-sampai ditunggu 1 jam dan akhirnya nggak jadi. Ya Allah, aku harus kuat. Dan pada suatu hari, ada saatnya benar-benar kualami kecemasan yang begitu nyata. Mengapa Dari 10 wasit yang saya hubungi dan lagi-lagi dengan dorongan yang begitu kuat dari dalam diri. Semuanya mengatakan,” Aku nggak bisa dek” So, This is the heartache?

Ada lagi! Saat itu, di tengah pelajaran aku diam-diam mengetik SMS kepada mereka untuk sekedar meminta konfirmasi atau mengobrol dengan temanku yang sesama PJ lomba agar tidak terjadi tabrakan waktu. Tapi ada saatnya dosenku menngetahuiku mengirim sms, walaupun sebenarnya beliau hanya memandangku sinis tanpa menegurku. Tapi aku jadi nggak enak juga, jadi merasa bersalah lhoo, masa calon guru nggak memperhatikan pelajaran?  Tapi itu murni kesalahanku, aku yang tidak bisa membagi waktu berorganisasi dan belajar. Dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Maklum, anak baru.

Dan ketika kita sudah memfix an jadwal pertandingan, ada ada saja yang masih protes. Ya ampun, terkadang saya frustasi sendiri. Bukankah HIMA itu udah baik hati ya? Ada kuliah jadwal lomba bisa diundur, dimajuin bisa, itupun masih banyak yang protes. Ya Allah berilah pahala yang banyak untuk HIMA, Hhehe :D. Tidak berhenti di situ saja. Entah mengapa, mulai saat itu, Pembicaraanku dengan ganing (temanku di PJ badminton) tak pernah lepas dari pertandingan, jadwal kuliah kakak tingkat, wasit, dan lain sebagainya. Ahh, kenapa kita terlalu kepo kpada mereka. Ckckckck. Namun, Kabar baiknya Aku pun jadi kenal beberapa kakak tingkat, yang ternyata ada kakak tingkat masa SMP dan SMA yang belum kuketahui sebelumnya. Lalu, Aku yang buta pengetahuan dari tenis meja pun sampai hapal peraturan mainnya. Alhamdulillah deh. :o
Pokoknya hari-hariku dipenuhi dengan rasa nggak enak sama kakak tingkat dan itu berlangsung lama. Walau begitu, Mas Bima, mas baim, mbak Sandra, mas hendrik sebagai wasit dan  teman-teman lain alifah, dwi arum, rosa, ganing, dan lain sebagainya yang tidak bisa kusebutkan satu persatu selalu berbaik hati membantuku dan mampu menjadikan pertandingan kembali seperti yang sudah direncanakan. Terima kasih sekali. Kalau tidak ada kalian entah aku jadi apa? Tapi emang karena saya orangnya belum ahli mengkoordinir acara, ada-ada saja halangan yang terjadi, dan ujung-ujungnya rasa nggak enakanku itu hadir lagi. Maaf ya.
 
Dan ketika semua itu akan berakhir, ada kelegaan sendiri. Namun mengapa harus ada air mata di ujungnya? Yaa, ada di saat aku tidak bisa menahan air mataku  saat itu. Aku lelah dengan semua ini, aku lelah dengan kondisi yang selalu kontra denganku, aku lelah menjadi kecemasan orang tuaku, dan aku lelah jika saja aku tidak bisa bekerja dengan baik di setiap acara. Malam itu, aku ingat sekali, air mata ini tidak bisa kutahan, kubiarkan mengalir begitu deras selepas sholat maghrib. Dan aku tidak berhasil menutuupinya, aku tidak berhasil menyembunyikan kesedihanku dari Mbak Hana, linda, Ita, Alifah, ganing dan Rosa yang saat itu mengetahuiku menangis. Mereka bertanya alasannya?
Tapi, maaf atas segala kebohongan setiap kali kalian bertanya alasanku menangis. Aku hanya tidak ingin kalian merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan. Jadi, yang kubutuhkan adalah sendiri. Maaf. Dan di tengah perjalanan pulang, aku melanjutkan tangisanku. Waktu yang tEpat untuk menangis di tengah kegelapan malam dan di sela deru kendaraan yang mampu menutupi tangis dan isakanku kala itu. 
Pesan dari mbak Hana yang benar-benar kuingat adalah biarkan terpaan dan cobaan itu menghampirimu. Karena mereka akan menguatkan jiwamu. Di tengah hiburan dan tepukan pundak yang menghangatkan itu, ada rasa yang tidak pernah berubah dari sini, dari sebuah organisasi bernama HIMA.
Pgsd Cup telah berakhir. Alhamdulillah setidaknya aku sedikit lega.  Walaupun masih ada rangkaian seleksi yang menunggu, tetapi entah mengapa aku ingin mengakhiri semua ini. Bagiku sudah terlalu banyak pengorbanan yang aku jalani. Namun, Apakah aku akan mundur begitu saja, ketika semua rintangan itu sudah berhasil kulewati. Apa yg harus kulakukan?
Dan selama seleksi selanjutnya adalah wawancara. Ketika seleksi wawancara itu berlangsung, banyak pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, ada yang bisa kujawab, ada yang nggak bisa, ada yang ngawur. Tapi kebanyakan nggak bisa jawab.  Dan tiba saatnya, Ketika pengumuman hasil seleksi itu keluar, aku hanya bisa pasrah. Aku tidak berharap banyak atau sampai berharap diterima, sama sekali tidak. Tetapi, kenyataan berkata lain. Kertas putih itu menuliskan statusku sebagai calon pengurus HIMA selnjutnya. Satu amanah menunggu untuk dikerjakan. Aku terpaku sejenak, kebingungan menyelimuti diriku. Terkadang aku berpikir, apa alasan mereka memilihku? Apa kelebihan yang aku miliki hingga mereka menunjukku menjadi salah satu di antara orang-orang berpengalaman dan berprestasi di sana? Bukankah, mereka juga sudah melihat kinerjaku selama magang. Banyak sekali kekurangan yang kulakukan, tapi aku hanya dapat menerimanya dengan lapang dada. Allah pasti memiliki rencana lain di balik semua ini. I will do my best !
Dari segala aktivitas di atas, banyak hikmah yang dapat kuambil. Bahkan ketika aku sadar, keuntungan dan hikmah itu lebih besar dari segala rintangan dan terpaan selama ini. Sebuah pengalaman yang sangat berat untuk ditinggalkan apalagi diabaikan. Pokoknya aku tidak pernah menyesal bergabung dengan HIMA, aku tidak pernah menyesal atas semua rintangan selama ini, dan aku tidak akan menyesali banyaknya air mata yang telah tumpah. Karena semua sudah terbayarkan. Terbayarkan dengan segala bentuk pengalaman dan hikmah di setiap kebersamaan ini, bersama mereka. Keluarga baruku. Sepertinya pilihanku sangatlah tepat.
PLDK
Salah satu program kerja PKO yang diikuti oleh calon pengurus HIMA yang baru. Salah satu pengalaman yang lagi-lagi menjadi sangat berharga untukku. Pasalnya aku belum pernah menanjak setinggi itu? Hahaha.  Bagi yang mau melihat rincian pengertiannya bisa dilihat di blog UNSku “INGRIDELVINA.BLOG.UNS.AC.ID” *Err promosi lagi? Abaikan :D*
Ya, apa kata yang tepat saat menggambarkan PLDK?
Mengejutkan!!!
Benar-benar mengejutkan. Oh, ternyata ini to yang dibincang-bincangkan teman-teman dulu. Kalau PLDK itu menegangkan dan bakal menguji mental dan fisik. Yup, kalian benar. Dan itu semua diluar dugaan. Pikiranku sebelumnya, PLDK itu bakalan piknik bareng, makan bareng, nyanyi bareng, liat bintang bareng-bareng di malam hari. Tapi itu semua salah besar teman- teman, dan saya menyesal sudah mengkhayalkannya. 
Pertama kalinya kami dipanggil , sekitar 30 orang dikumpulkan di Gor PGSD. Aku sudah berprasangka buruk terus waktu itu. Gimana tidak, kami sudah telat 10 menit dan dengan santainya kita ngobrol dan ketawa-ketawa di tengah ekspresi kakak-kakak tingkat yang serius-serius itu. Bayangkan!
Lalu kami disuruh berbaris. Dan diberi pengarahan, dan terkejutnya lagi! Perbincangan di luar itu menjadi kenyataan. Kami harus pergi ke tempat tujuan naik bis dengan uang yang sudah ditentukan, lalu masih mendaki dengan tas carrier yang beratnya itu lhoo. 
Sebenarnya, banyak sekali pengalaman selama di bis. Bagaimana tidak? Selama perjalanan, di tengah penumpang lain kami bernyanyi mars HIMA. Bisa dibayangkan, ketika penumapng lain diam, kita seperti berubah menjadi penyanyi yang siap menghibur mereka. Woow, teman-temanku benar-benar keren.
Ada juga mas-mas penumpang Bis yang baik banget sama kita. Kebetulan, bisanya lagi penuh sesak, dan semakin bertambah sesak ketika tas carrier kami memasukinya. Kebetulan sekali aku dan dwi arum berada di belakang ya. Terus tiba-tiba kernetnya nyuruh tas carrier kita dipindah ke pojok atas bis, karena dinilai makan banyak tempat. Hla memang iya :D. Terus kita kan bingung, nanti yen jatuh gimana? Lalu ada mas-mas yang duduk di belakang juga menawarkan diri untuk menjaga tas-tas kita dengan senang hati. Jadi mas-masnya itu duduk di pojokan atas terus megangi tas kita gitu, tanpa rasa malu. Oh, jangan meleleh ya, biasa aja! Big thanks banget deh buat mas-mas tanpa nama itu hehe.
Di tengah perjalanan panjang itu, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sebenarnya bukan tempat tujuan yang sebenarnya sih. Karena tempat tujuannya itu masih ada di atas nan jauh di sana. Ada beberapa pos yang menunggu kita, dan saat itu pula aku hampir menyerah. Bagaimana tidak? Aku sangat kelelahan memikul beban itu apalagi di tambah jalan yang menanjak. Walau sebenarnya teman-teman lain saling memberi semangat dan dorongan. Tapi itu tidak cukup membantu mengatasi rasa lelahku. Rasanya ingin sekali menyerah.
Aku pengen berhenti sedikit lama, tapi karena mendengar semangat dari kakak tingkat, siapa ya? Mas nanda sama mas dayat yang nasihatin temenku lain, “Masa sudah sampai sini sudah mau nyerah dek?”. Aku pun jadi semangat lagi. Perjalanan panjang itu benar-benar bermakna sekaligus berkesan. Perjalanan bersama dengan suasana malam yang begitu syahdu, ketawa bareng, istirahat bareng, capek bareng, minum bareng, makan bareng, dan berkeluh kesah bareng, semuanya komplit deh. Dan best momen adalah, saat kita beristirahat sejenak untuk sekedar melepas penat kemudian Ribuan bintang dan kemerlip cahaya kota di bawah sana menyambut mata kami malam itu. Aku dapat melihatnya, keindahan dan pengalaman yang tidak dapat terbayarkan oleh apapun. Dan sejatinya aku baru menyadari makna dari perjalanan panjang ini.
Dan akhirnya sampailah kita dipuncak tujuan kami. 2 hari kami habiskan untuk mendapatkan pelatihan kepemimpinan itu. Waktu yang benar-benar berharga untuk dilewatkan, dari tidur di tenda bareng-bareng, masak bareng, makan bareng, sholat bareng, dan berpetualang bareng dengan keadaan yang sangat menegangkan :D. Dari ditegur habis-habisan sama mas Bima, mas Ento, mas reza. Duh, bener-bener menguji mental. Tapi di antara semuanya, aku paling takut sama mas Reza. Gimana ya, walau pun setiap teguran dan ketegasan mereka nggak pernah tak masukin hati. Tapi kenapa marahnya mas Reza itu ngena banget ya? Kenapa ya? Entah lah
Ketika hari terakhir PLDK itu akan tiba. Pada waktu fajar yang tak akan terlupa. Kami berkumpul meneriakkan nama seseorang. Hari itu dimana saya teriak-teriak nggak jelas buat mengejar seseorang. Dan seumur-umur saya nggak pernah ngejar seseuatu sampai segitu perjuangannya. Sampe harus nangis, sakit, pegel. Rasanya itu aku sudah mencurahkan segala isi hatiku, kemudian mbak-mbak yang mendampingku masih suruh teriak-teriak lagi. Ya Allah, aku sudah kehabisan kata-kata hehe. Dan kalian tahu apa rasanya jadi aku? Rasanya jadi orang yang biasanya pendiam terus disuruh teriak-teriak sekuat tenaga seperti itu? Malunya nggak ketulungan, malu banget. Bahkan aku sampai nggak tega lihat diriku di videonya.

Tapi sekali lagi, semua itu benar-benar berhikmah. Setelah kita bernangis-nangis ria. Semuanya kembali normal. Tak ada ketegangan, tak ada teguran, tak ada dendam. Semuanya berbaur menjadi satu kembali dalam sebuah kebersamaan. Tahukah kalian apa yang dibenakku saati itu?

Aku terharu..
Tak ada kalimat yang lebih tepat menggambarkan keadaanku saat itu selain haru. Aku bersyukur bahwa seseorang penuh kekurangan sepertiku bisa menjadi keluarga dalam lingkup HIMA. Sebuah keluarga yang tidak bisa kudapatkan di lain tempat. Alhamdulillah.
Semenjak itu, kami saling memperbaiki diri, menambah komitmen, dan semakin mengikat tali persaudaraan kami di dalam keluarga besar HIMA. Banyak sekali kenangan hingga akhirnya aku ditempatkan dalam divisi kominfo dengan kisah antara aku, kamu dan kominfo  yang akan saya liput pada edisi selanjutnya. Eciee :D
Ada yang beda sepulang PLDK. Alhamdulillah kita jadi semakin solid saja, mungkin itulah alasan dari tujuan PLDK sesungguhnya. Dan yang paling aneh, saya jadi nggak gampang nangis lagi pas nonton film atau baca cerita sedih. T_T. Padahal mereka genre favoritku. Yaaa, mungkin hikmah yang lain adalah itu, hal yang membuat kita lebih tegar dan kuat, serta lebih yakin dalam menjalankan segala program kerja HIMA.
HIMA telah mengajarkanaku banyak hal. Pilihanku sungguhlah tepat. Benar-benar banyak yang berubah dari diriku. Dari diriku yang mulai bersikap sedikit terbuka, berlatih ngomong di depan banyak orang, dan juga pengalaman handle acara. Aaah, lagi-lagi tak ada kata yang pas selain haru. Malam itu, UP GRADING HIMA 1.
 
Sebuah acara yang keren dan kece. Karena kami bisa didekatkan lagi dan  diharmoniskan kembali dalam lingkup sebuah keluarga. Sebuah acara yang membuatku seperti bernostalgia kembali. Bernostalgia tentang masa itu, masa dimana kita dipertemukan dengan ketidaksengajaan. Dan sekarang kita sudah bertransformasi menjadi sebuah keluarga yang sangat kompak. 
Banyak sekali perubahan dari diriku. Banyak sekali inspirasi yang datang, kekaguman yang datang, dan pengalaman yang berharga pula. Aku banyak mengambil figur dari kakak tingkat dan  teman-teman yang semakin membuatku mengintropeksi diriku kembali, menyadari bahwa diri ini masih terlalu banyak kekurangan dalam segala hal. Aku bahagia bisa belajar bersama kalian. Aku bahagia, ketika aku berhasil melegakan setiap beban yang terkadang menghampiri, dan seakan semua beban itu lenyap tak berbekas ketika wajah-wajah itu menyuguhkan keramahan dan canda tawa yang selalu menentramkan.  Tahukah kalian seberapa besar perasaan bahagiaku? Besar sekali. Sebuah rasa yang tak mungkin aku ungkapkan melalui lisan. Karena pun aku tidak berani melakukannya. Aku terharu. Apapakah kalian tahu? Entah mengapa aku tiba-tiba ingin menangis di saat materi pertama kala itu, tapi aku tidak tahu alasannya. Mungkin karena kalian dan kebersamaan ini. Aku ingin kebersamaan ini terus terjalin sekarang dan seterusnya. Aku ingin selalu menatap mereka, wajah-wajah penuh keceriaan dan senyuman yang menenangkan. 
Lagi-lagi dibalik diamku, aku menatap  satu per satu sinar wajah itu, tepat di sana, di bawah lampu malam hari. Tepat ketika suara-suara itu saling menyahut penuh kehangatan bersama canda dan tawa yang tak pernah lepas darinya
Terima kasih telah menerimaku, terima kasih atas ukhuwah ini. Maaf apabila kalian tidak nyaman berada di dekatku dengan sifatku ini. Maaf telah menjadi teman yang membosankan bagi kalian, walau sebenarnya aku juga ingin menjadi salah satu orang yang dapat berbaur dan mencairkan suasana seperti yang lain. Tetapi, itulah kalian, ketulusan hati itu sangatlah kental terasa. Aku beruntung bisa mengenal kalian. Aku beruntung bisa berada di sini. Sebuah organisasi yang awalnya terjalani penuh ketegangan dan kesedihan. Tapi bukankah kebahagiaan itu tak selalu berawal indah. Dan bukankah kita akan bisa lebih memaknai kebahagiaan setelah melalui kejadian yang menyakitkan terlebih dahulu? Dengan begitu kita akan lebih menghargainya, berusaha menjaga, dan berharap kebersamaan berharga ini akan tetap ada, selamanya.
Terima kasih untuk segalanya
Aku sayang kalian
Sukoharjo, 18 April 2015
Untuk kalian, keluarga besarku.
Ditulis dengan curahan perasaan yang  sesungguhnya

Jumat, 10 April 2015

Sebuah Penghargaan



Alhamdulillah punya kesempatan untuk menulis lagi,
 Lagi-lagi Tulisan ini berawal dari sebuah memori sederhana penuh rasa.

Hati yang berdebar masih mengiringi jari-jariku yang lincah menari di atas keyboard lama.
Sunggingan senyum ini masih nampak di setiap memori yang berlalu baru saja.
Sebuah memori sederhana yang membuat perasaanku luluh seketika
Sebuah memori berupa tulisan denotatif yang sangat dimengerti maknanya.

Sebuah tulisan dari salah satu pemimpin sekaligus inspirasiku dalam berorganisasi.
Bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya ketika sifat – sifat kalian dipuji oleh mereka yang kalian hormati?
Aku dapat menebaknya..
Terharu, bahagia, bangga?
Tapi hati yang tak berhenti berdebar ini menjadi jawaban yang paling tepat
Untuk menggambarkan sebuah debaran tanpa makna.

Sebuah tulisan mengenai penghargaan terhadap sifat-sifat buruk.
Apakah hal itu bisa dipercaya?
Apa manfaat dari sifat buruk hingga mereka dapat dihargai?
Aku juga tak mengerti,
Aku hanya manusia yang hina tanpa kelebihan yang berarti
Tapi mengapa sifat yang ku anggap buruk itu malah kau puji?
Sifat buruk yang ingin sekali kusingkirkan jauh - jauh
Tapi, Apakah aku akan tetap menghilangkannya meskipun pujian itu justru datang untuknya?

Sekalipun pujian itu bukan untukku, tapi aku sudah sangat berbahagia..
Tidakkah kau mengetahui betapa bahagianya aku?
Hatiku yang masih tak berhenti berdebar inilah yang menjadi penandanya

Aku pun penasaran, sama sepertimu
Penasaran mengenai seseorang yang kau kagumi akan sifatnya, bukan?
Seseorang yang memiliki sifat sepertiku.

Ah, aku terlalu tinggi berkhayal
Mana mungkin 'seseorang' itu aku?
Tidak Mungkin! Sangat Tidak Mungkin!
Yang pasti aku sudah cukup bahagia dengan penghargaanmu
Terlepas seseorang itu bukan diriku
Yang terpenting sifat-sifatku pun sudah berada pada dirinya
Namun, Apakah aku juga mendapat penghargaan yang sama sepertinya?


--Untukmu,
Inspirasiku :)

Senin, 23 Maret 2015

[Lyric] Good Bye Days - Taeyeon (Korean Ver.)

Weorobdeon naldeul ijeneun annyeong
nan dallajilgeoya

jumeoni soge i norael dam-ah
neoege dallyeogalgeoya

moreun cheok hagi ije himdeuleo
na-ege soljikhal geoya

Oh Good Bye Days
honja gaseum jolyeottdeon naldeul

jeo haneul neomeoro
So Long

eojewaneun dalla
modeun geol saero dashi shijakhalgeoya
La la la la la with you

naui noraereul deudgo ittnayo
dangshineul wihan noraejyo

geudaega naege gareuchyeojwottjyo
mwol bulleoya halji

ttaeroneun weroum-e uleottjyo
geudaereul jikyeoman bwattjyo

Oh Good Bye Days
ije naneun dallajingeojyo

modu saeropge
All Right

eojewaneun dalla
modeungeol saero dashi shijakhangeoya

La la la la la with you

seulpeun saenggak duryeoun mam
modu norae-e damaseo deonjyeobwa

yonggi naeeo malhaeyo
neoui mameul mollado dwae

Yeah Hello My Friend gwaenchanha
naega dallajin ge joongyohae

maeumsogui sori gwireul giwoolyeo deuleo
geureogil barae I Wish

eojewaneun dalla
modeungeol saero dashi shijakhangeoya

La la la la la Good Bye Days


Credits:
Rom:cedge@soshified
Trans:Hyunjin808,soshi00 & taengbear@soshified

Minggu, 22 Maret 2015

Karya Seni Mural SEMARFEST 2015

SEMARFEST 2015 adalah rangkaian acara dalam memeriahkan HUT UNS ke 39. Salah satu acara yang diselenggarakan adalah lomba melukis mural. Berikut adalah hasil karya seni mural dari mahasiswa PGSD dan PGPAUD di kampus 4 Universitas Sebelas Maret











[Songfict] Hoshi no Nai Yoru ni -Malam Tanpa Bintang-


 Title                 : Hoshi No Nai Yoru Ni [Malam Tanpa Bintang]
Author             : Ingrid Elvina 
Chapter           : Oneshot
Genre              : Angst | Drama
Pairing            : YuixTaka
Rated              : NC - 13
Summary        : karena aku akan selalu ingat permohonan kecil itu, karena ada wajah yang tersenyum, gapaikan dan ikatlah kami berdua, pada malam tanpa bintang
Note                :  Vakum kelamaan, terakhir bikin cerita setahun yang lalu sebelum persiapan UN dan tes-tes lain jadi diksinya sangat tidak indah, maaf. Gaya ceritapun sudah berubah. Judulnya malam tanpa bintang, tapi kok malah jadi langit tanpa bintang ya -_-, tapi setidaknya saya ingin kembali menulis, Mari mulai lagi, Ganbarimasu :3
=====[]======[]======
“kita berdua sudah mati sejak waktu itu
tak perduli meski kita memikirkannya
sudah tak bisa kembali, hal yang tak bisa dikembalikan meski berapa kalipun, berapa kalipun”
Malam ini, rembulan terlihat begitu pucat, tergantung sendirian pada langit hitam di atas sana. Sama sekali tak begitu memikat, suasana malam serasa tidak lengkap tanpa kerlip bintang yang biasa menghiasi langit malam bersama bulan.
Di sini, Aku mengenang kembali sebuah bintang yang selalu bersamaku, di taman ini aku merindukan sosoknya sebuah bintang yang selalu mencintaiku, itu ucapnya, 5 tahun yang lalu sebelum dia pergi ke sana, ke tempat yang sangat jauh, yang akupun tak tahu dimana itu berada.
--Flashback—
“Yui, Hei Apa kau ingin main bersamaku?”
Sebuah suara sumbang menggugah pemilik nama Yui itu untuk bangun dari posisinya semula yang sebelumnya menyembunyikan wajahnya di atas meja kelas.
“Taka?”
Ya, namanya Taka, Seorang pemuda yang mampu meredam penatnya kesepian di dada Yui. Dia hanya seorang gadis SMU yang pendiam, polos, dan susah bergaul. Semua keterbatasannya itulah yang membuatnya tidak memiliki teman, mungkin salahnya juga mengapa dia mempertahankan segala sifat lemahnya ini, hei tapi bukankah seorang teman itu selalu bisa menerima kekurangan seseorang teman lainnya? Tapi, itu semua hanya masa lalu, kini dia tidak semenderita yang dulu, yang terus hidup dalam kesepian yang sangat menyiksa, karena kini ada seorang malaikat yang hadir menyejukkan hatinya.
“Hei, Yui, Ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
Perkataan Taka baru saja membangunkan lamunan Yui tentangnya. Ternyata, Yui terlalu lama melamuninya.
“Eh, tidak apa-apa, aku hanya melamun saja.” Ucapnya tersimpuh malu
“Kau ini, selalu saja menggemaskan, ya.”
Taka mencubit pipi Yui dengan gemasnya, bersama senyum yang mulai melebar dan matanya yang menyempit membuat Yui gugup tak karuan. Tiba-tiba timbul getaran dalam dadanya, Sontak Yui mengalihkan mukanya ke arah yang berlawanan.
“Eh, apakah cubitanku terlalu keras? Maafkan aku ya.” Sepertinya Taka merasa bersalah pasca melihat reaksi Yui yang sempat menghindarinya. Dia hanya menggeleng mengelak dugaannya tersebut, dia hanya tidak ingin terlihat begitu gugup di hadapannya, dia hanya tidak ingin membuat Taka merasa tidak nyaman berada bersamanya.
“Ah, kalau begitu, Ayo main Yui-san.” Ajak Taka sembari menarik tangannya, lagi-lagi bibirnya tmelebar menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis.
Taka-san, Sepertinya aku mulai menyukaimu
=====[]======[]======
Aku ingat sekali, pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku yang hanya gadis polos yang sangat tidak istimewa ini teramat mengagumimu, yang dapat kulakukan hanyalah memandangimu dari kejauhan berharap di kemudian hari kau akan menyadarinya. Hingga kemudian, entah karena angin apa, kau datang menemaniku, menghiburku di setiap waktu.
Bahkan engkau rela menurunkan harga dirimu sendiri demi membelaku. Sebesar itukah kepedulianmu untukku? Hanya untuk seorang gadis yang sama sekali tidak istimewa ini. Tapi aku sama sekali tak mempedulikan anggapan mereka. Karena aku hanya butuh tempat istimewa darimu,
Flashback---
Dari kejauhan, terlihat Yui berjalan sembari berlarian kecil memasuki pelataran sekolah. Langkah kakinya yang bertempo cepat beriringan menandakan sepenggal semangat sedang memenuhi raganya. Wajah yang riang, dengan senyuman kecil di bibirnya menunjukkan kebahagiaan sedang menyelimuti hatinya. Di sisi lain, terlihat kedua tangannya sedang menggenggam erat sebuah kotak makan yang terbungkus rapi.
“Hari ini pertama kalinya aku membawakan bento untuk Taka, aku harap ia menyukainya.” Yui berbisik lirih sembari menatap kotak makan itu sumringah.
“BRUKK,”
Tiba – tiba Yui tersandung jatuh tanpa sadar, kotak makannya terlepas dan jatuh berantakan di hadapannya. Yui hanya bisa meringis kesakitan, ia kesulitan bergerak, tangannya masih berusaha menopang tubuhnya untuk segera bangkit, tapi sepertinya terlalu susah karena ia jatuh begitu keras. Dipandanginya lututnya yang memerah mengeluarkan darah karena benturan tadi. Rasa sakit itu semakin bertambah ketika ia kemudian teringat bentonya yang terlepas tadi, terlihat seluruh bekal makanan yang ia siapkan tadi pagi berceceran di halaman sekolah. Sembari menahan rasa sakit, Yui berusaha merangkak ke depan mendekati bento yang dibuatnya untuk Taka.
“Kasihan sekali kau. Kenapa kau tidak melihat kakiku, hah?”
Yui mendongakkan wajahnya mencari sumber suara itu. Mika? Ah, kenapa dia terus menerus mengganggunya,
“Mengapa kau berbuat seperti itu?” Tanya Yui kesal. Dengan susah payah ia berusaha melindungi sisa-sisa makanan yang masih bisa diselamatkan. “Mengapa kau selalu menggangguku, tidakkah kau lihat bentoku untuk Taka…”
Yui menutup mulutnya, sepertinya perkataannya baru saja sudah keceplosan
“Oh, untuk Taka ya ?” Mika tersenyum sengit, Ia mendekati Yui yang masih duduk tersimpuh. “Memangnya Taka mau makan bento busuk buatanmu ini, hah?” Tiba – tiba Mika, mengangkat kakinya dan menginjak-injak bento milik Yui.
“Jangan lakukan itu.” Sontak Yui melawan berusaha melindungi bento miliknya. Tapi usahanya sepertinya sia-sia, bentonya sudah terlanjur rusak dan kotor.
“Mika, apa yang kamu lakukan?” Tiba-tiba terdengar suara tegas meredam keributan tadi. Mika terkaget – kaget saat dijumpainya Taka berjalan mendekati dirinya.
“Taka?”
‘PLAK’
Sebuah tamparan melayang cepat ke arah Mika. Mika hanya bisa meringis kesakitan memegangi pipinya. Ia sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Taka menamparnya? Begitupun dengan Yui, Ia tidak menyangka, Taka akan berbuat seberani itu demi membela dirinya, Ia tega menampar gadis paling popular di sekolahnya.
“Taka, Kau sadar tidak atas sikapmu tadi?” Mika berteriak ke arah Taka. Sepertinya ia tidak terima dengan perlakuan yang ditujukan kepadanya. “Kau berani menamparku demi melindungi gadis kampung ini.” Kekesalan Mika memuncak,
“Iya, aku sadar, Yui itu wanita berharga dan kau tidak pantas memperlakukannya seperti tadi. Anggap saja tamparan tadi pembalasan untukmu.” Jawab Taka datar
Mika terbungkam tak percaya , Ia berlari menjauhi mereka, sepertinya Ia sudah terlalu kesal untuk melanjutkan pertengkarannya dengan Taka.
Terlihat Taka menundukkan wajahnya, sebelum kemudian ia beranjak mendekati Yui,
“Mengapa kamu berbuat demikian hanya untuk melindungiku?” Yui menundukkan wajahnya, menyembunyikan dalam-dalam ekspresi sedihnya.
“Tidak ada seseorangpun yang tidak pantas untuk ditolong termasuk dirimu.” Taka membungkukkan badannya, merangkul pundak Yui dan membangunkannya pelan-pelan.
“Jadi ijinkan aku melindungimu.”
=====[]======[]======
“hembusan angin dan sinar matahari yang harum diantara pepohonan
Sejak hari itu semua telah berubah warna
begitu banyak musim bisa kurasakan
tapi.. kau tak ada”
Aku merindukan segala bentuk perhatianmu untukku, senyummu dan mata teduh itu, Aku rindu segala yang menyangkut tentangmu, Taka. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menangis setiap saat kerinduan itu datang menghantuiku.
Andai saja semua kenangan itu kembali lagi. Mengisi kembali kekosongan hidupku, yang sekarang hanya sendirian,  menapaki setiap hari yang telah berganti minggu, bulan bahkan tahun, yang berjalan begitu lama, Taka. Sadarkah engkau? Begitu lama kau meninggalkanku.
Flashback---
Sepulang sekolah, Yui terlihat duduk sembari melipat kakinya di tepi danau dekat sekolahnya, sebuah tempat favoritnya sejak ia menginjakkan kaki di SMU, mungkin danau itu sudah menjadi saksi bisu liku-liku kehidupan Yui di sekolah itu juga. Lagi-lagi ia melamun, akhir-akhir ini kebiasaannya melamun terus saja dipertahankan, tetapi Ia hanya ingin sedikit merenungi kejadian yang menimpanya tadi pagi.
Kejadian pagi yang menyakitkan tadi cukup menghibur hati Yui, kedatangan Taka bak malaikat pelindung yang menyelamatkannya dari Mika begitu menyentuh hatinya. Pantas saja, selama ini sebelum pertemuannya dengan Taka, Yui hanya bisa memendam rasa sakit karena ulah teman-temannya itu sendirian. Namun semua beban yang menyesakkan hati itu perlahan-lahan mulai lenyap karena peran seorang Taka.
DEG…
Ah, mengapa getaran ini datang kembali?
“Konnichiwa, Yui-san.” Suara yang bak asing itu kembali menyapanya, sepertinya Yui dapat langsung menebak siapa gerangan yang datang tersebut.
“Taka?” Yui menyambut kedatangan Taka dengan heran, dia hanya bertanya-tanya mengapa setiap kali pikirannya menyebut nama Taka, dia langsung muncul.
“Jadi kau sering ke sini ya?” Tanya Taka yang kemudian memposisikan duduknya di dekat Yui.
Yui hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kecil, ia gugup.
“Kau ini, pendiam sekali ya. Oh ya, aku membawakan sesuatu untukmu.” Taka mengeluarkan  sebuah kotak makan dari tasnya.
“Apa kau sudah makan siang?”
“Belum.” Jawab Yui
“Kalau begitu, mari kita makan bersama.”  Disodorkannya tempat makan itu di dekat Yui.
“Eh, tapi kan ini milikmu?” Jawab Yui sungkan
“Ah, tidak apa-apa. Hitung-hitung sebagai pengganti bentomu yang rusak tadi pagi.” Ujar Taka kembali tersenyum, senyuman yang begitu dirindukan Yui. “Ittadakimasu.” Lanjut Taka riang.
Yui mengambil beberapa sushi di sana untuk ia makan. Sepertinya dia sangat menikmati siang itu, siang bersama orang yang di sayanginya.
“Totemo oishii.” Ujar Yui sembari mengunyah bento Sushi milik Taka
“Oh ya? Kalau begitu, ini ambil lagi.” Taka tersenyujm, hingga kemudian ia mengambilkan sepotong sushi dan disuapkannya ke mulut Yui. Yui agak canggung melihat perlakuan Taka kepadanya, tapi sebenarnya ia begitu senang.
Mereka melanjutkan makan siangnya hari itu. Tak pernah terbesit di benak Yui untuk menyantap makan siang ditemani seseorang. Maklum saja, selama ini dia lebih sering sendirian dalam melakukan berbagia aktivitas di sekolahnya. Ia tidak memiliki seorang teman yang benar-benar tulus bersamanya, mereka lebih memilih bergaul dengan orang-orang yang sama-sama popular di sekolah. Dan hal itu sangat menyakitkan, tapi tidak untuk saat ini. Bukankah Tuhan itu Maha adil, memberikan anugerah seorang Taka yang kini hadir menemaninya, menjadi pengganti yang jauh lebih baik dari teman-temannya itu.
“Yui-san, apakah kau senang?” Perkataan Taka tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
“Tentu saja, Aku belum pernah merasa sesenang ini. Terima kasih.” Jawab Yui jujur
“Apakah, selama ini kau tidak senang?” Kini Taka menolehkan wajahnya menatap Yui. Yui yang merasa sedang dipandangi kemudian menatapnya balik.
Ya Tuhan, mata itu Mengapa terlihat sangat teduh?
“Tidak Taka, Aku kesepian selama ini, sebelum kau datang.” Jawab Yui memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Tiba-tiba suasana berubah serius.
“Aku juga. Aku ingin tetap seperti ini. Tahukah kamu? Aku menyukaimu.”
Kalimat terakhir yang Taka lontarkan baru saja, sukses membuat Yui terperangah. Taka mencintainya? Apakah benar adanya? Apa hanya salah dengar? Yui terbungkam, tak ada satu katapun yang mampu keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin memastikan apakah ia salah dengar atau tidak.
“Yui-san, kimi ga suki desu.”
Kalimat kedua yang bermakna sama ini meyakinkan Yui, ia benar-benar mendengarnya sebuah pernyataan cinta dari laki-laki yang ia sayangi pula, yang tak ia sangka-sangka akan ada tapi sekarang menjadi benar – benar nyata.
“Aku juga.” Jawab Yui lirih
Suara indah Yui mampu meluluhkan hati Taka, ditundukkan kepalanya, tersenyum sesudahnya, kebahagiaan yang sekarang melingkupi hatinya terpeta jelas di wajah Taka. Mungkin jawaban itu tepat adanya, jawaban yang dapat mewakili perasaan Yui sekarang, Dia benar-benar mengagumi sosok pria itu, malaikat pelindungnya selama ini.
“Arigatou.” Taka memeluk Yui erat, mereka melebur dalam suasana bahagia,
“Taka, Terima kasih telah hadir di sampingku, Aku tak tahu apa jadinya hidupku tanpamu, Aku tak tahu apakah aku masih bisa bertahan mengahadapi kondisi yang sangat kontra denganku, Aku benar-benar tidak tahu. Terima kasih telah menghentikan tangisku karena ulah teman-temanku, terima kasih telah melindungiku dari mereka. Terima kasih telah mencintaiku.” Yui berbisik tulus di telinga Taka,
“Taka, Aku mencintaimu, tolong jangan menatap mata yang lain selain mataku, tolong jangan menggenggam tangan lainnya selain tangan ini, dan tolong tetaplah bersamaku.”
“Aku janji.”
Aku mendengar janjimu Taka, Aku mendengarnya, tapi dimana dirimu sekarang?
=====[]======[]======
“karena aku akan selalu ingat permohonan kecil itu
karena ada wajah yang tersenyum
gapaikan dan ikatlah kami berdua
pada malam tanpa bintang”
Apakah aku terlalu bodoh untuk terlalu menuruti segala keinginanmu, Mungkin salahku saat kuputuskan untuk melepasmu pergi. Tapi di sisi lain, aku tak ingin melihatmu terlarut dalam kesedihan, menahan keinginan untuk meraih cita – citamu. Tidak masalah bagiku, tapi mengapa harus sejauh itu, mengapa harus di luar Jepang, Apakah Jepang tidak cukup bagimu untuk menimba ilmu?
Namun, Aku tidak akan pergi Taka, aku masih setia menunggumu di sini, karena kita pernah berjanji bersama. Ya, janji yang akan selalu kuingat, serangkaian kalimat indah yang kau ucapkan dulu, bahwa dimana pun kamu berada , sekalipun jarak itu memisahkan, kita masih bisa memandangi langit yang sama, bukan?
Jadi, tetaplah pandangi langit itu walau tanpa bintang sekalipun dan aku juga akan tetap memandanginya,
Lalu apakah kau dapat melihat sebuah wajah yang begitu merindukanmu, Taka?
Tepat pada tahun terakhir masa sekolah,
Pada Malam itu, Yui dan Taka berjalan bersama sepulang dari kursus praUjian. Mereka berhenti di sebuah gazebo yang cukup sepi malam itu, Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di hadapan mereka, terlihat pula cahaya remang-remang terpantul dari beberapa lampu yang terpasang rapi di sepanjang jalan membuat kesunyian malam semakin terasa. Mereka duduk bedampingan, sedikit berbincang-bincang mengisi keheningan malam.
“Yui-san, coba lihat ke atas, langit itu indah sekali ya.” Ujar Taka mengawali pembicaraan.
 “Iya, tapi sayangnya malam ini tidak ada bintang, hanya ada bulan yang sendirian di atas sana.” Jawab Yui sedikit mengerucutkan bibirnya.
“Oh iya, mungkin hubungan mereka sedang tidak baik.” Ujar Taka sedikit bercanda.
“Hahaha, mungkin, jadi mereka tidak saling bertemu.” Yui sedikit terhibur di tengah pembicaraan santai tersebut.
“Tapi, karena mereka berpisah mereka tidak bisa menciptakan malam yang indah bukan? Bulan pasti akan selalu merindukan bintang.”
Yui mengamati baik-baik bulan di atas sana. Benar saja, malam ini begitu sepi kelam, mungkin bulan yang sendirian itu merasa kesepian. Jika saja bintang-bintang itu hadir bertaburan menghias langit, mereka pasti akan membuat malam yang sangat indah.
“Coba renungkan Yui, langit seluas ini tidak mungkin memisahkan mereka, bulan dan bintang pasti  akan berada pada langit yang sama. Jadi jika suatu saat kita berpisah, cukup pandangi langit bersama dan hati kita pasti akan dipertemukan kembali.”
Kata-kata yang terkesan indah dari Taka tadi tidak sebanding dengan maknanya, hal itu membuat Yui sedikit tidak nyaman ketika mendengarnya. Penggunaan kata perpisahanlah yang tidak disukainya, apa maksud semua ini? Apa Taka akan meninggalkannya?
Mereka terdiam cukup lama, hingga kemudian Yui melanjutkan pembicaraan berusaha memecah keheningan di antara mereka.
“Taka, Apa kau ada rencana melanjutkan studi di Universitas Tokyo? Aku ingin sekali ke sana, Aku ingin masuk jurusan Teknik Lingkungan, agar kelak aku bisa membangun kota yang ramah lingkungan untuk Jepang.” Ucap Yui sumringah.
“Mungkin tidak?”
“Jadi kemana? Universitas Kyoto? Nagoya?” Yui semakin penasaran dengan jawaban Taka.
“Amerika.”
Jawaban singkat dari Taka tadi membuat Yui tersentak kaget.
“Mengapa sejauh itu?” Tanya Yui lirih
“Itu cita-citaku sejak kecil, aku ingin mengenyam pendidikan di sana. Orang tuaku pun juga berharap demikian, mereka ingin aku tinggal bersama mereka kembali.”
Raut muka Yui berubah sedih, sangat sedih, Yui menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan kesedihannya malam itu. Dia tidak percaya, kata-kata perpisahan yang Taka katakan tadi akan benar-benar terjadi.
“Apakah kau akan kembali ke Jepang?” Tanya Yui yang masih tertunduk tak bersemangat.
“Aku belum tahu.” Taka menghembuskan napasnya berulang kali ke udara, sembari menahan embun-embun di matanya yang mulai berdesakan ingin keluar.
Hawa dingin yang bertiup menemani mereka seakan tidak dirasakan lagi. Keheningan yang sebenarnya melingkupi suasana malam itu seakan tertutupi oleh hati yang berkecamuk tidak karuan di antara mereka. Apakah akan berakhir seperti ini? Sebuah perpisahan yang terlalu menyakitkan untuk dirasakan.
=====[]======[]======
hari-hari yang biasa kebahagiaan yang biasa tampak bersinar
sekarang ingin kusentuh, sekali lagi aku ingin menyentuhmu
dalam kesunyian aku tetap menutup mata
5 tahun semenjak kejadian itu, Tahukah kamu Taka? Aku tidak berubah, aku masih Yui yang pendiam, sederhana, dan polos. Mungkin aku sudah sedikit bisa bergaul dengan beberapa teman di universitas. Oh ya, Tahukah kamu? Aku berhasil masuk Universitas Tokyo dengan jurusan Teknik Biologi sesuai keinginanku, Aku bersyukur sekali.
Tapi sayang, kebahagiaanku serasa tidak lengkap tanpa engkau yang harusnya mendampingiku di sini. Hei, Apa kabarmu di sana? Aku harap kau baik-baik saja. Sungguh aku begitu merindukan sosokmu.
Ingin kuteriakkan semua rasa rindu yang kini memenuhi dadaku, tetapi apakah angin mampu membawa suaraku terbang berbisik ke telingamu, Aku yakin tidak. Karena kau begitu jauh Taka, sangat jauh.
Ingin rasanya aku menyentuhmu, memelukmu erat seperti waktu itu, tapi perih rasanya saat tangan ini tak mampu berbuat demikian.
Taka, Apakah kau juga merasakan rasanya kesepian yang teramat semenjak kita berpisah, aku harap tidak, Aku harap kau bahagia di sana, aku hanya takut, kesepianmu itu yang akan mengundang sosok indah lain yang mampu memikatmu. Aku yakin, kau masih meingat janji manismu itu, janji untuk selalu bersamaku selamanya.
Tapi, pesan singkat terakhirmu meragukanku,
Flashback---
Kesendirian kini kurasakan kembali, kesepian yang menyesakkan dada itu datang lagi, walaupun aku benar-benar tak mengharapkan semua perasaan pilu itu, tapi apalah daya. Pasca kepergianmu 3 tahun yang lalu, aku masih belum sepenuhnya merelakanmu, Taka.
Kesedihan itu semakin berarti ketika tak pernah kudapati sedikitpun kabar meyangkut tentangmu, Mengapa sekejam itu. Mengapa kau tega membiarkanku terjebak dalam kecemasan dan kerinduan yang begitu nyata?
Ditutupnya kedua mata Yui sejenak, air mata ini sudah terlalu kering untuk menetes lagi dan lagi, mata ini sudah mulai bosan menangisi kepergianmu, Taka.
Bunyi ponsel yang berdering menyadarkan Yui dari kebiasaan yang selalu tenggelam dalam lamunan , tak lama setelah itu ditatapnya layar ponsel miliknya. Sebuah nomor asing tertera di sana, terbaca meninggalkan pesan singkat yang membuat Yui penasaran.
From : 3357788
“Yui-san, Sudah lama tidak berjumpa. Aku begitu merindukanmu,
Bagaimana keadaanmu? Aku harap kau baik-baik saja, Aku harap kau sudah menemukan pengganti diriku.
--Taka—“
Nama terakhir yang ia baca membuat kedua matanya terbelalak. Dibukanya lagi lebar-lebar kedua mata itu, dibacanya berulang-ulang pesan yang tiba-tiba masuk baru saja, sejenak memastikan bahwa ia tak salah baca. Apakah benar itu dari Taka?
“Lalu apa Maksudmu pengganti diriku? Hah, Apa maksudmu?” Ujar Yui, terlihat masih mengotak-atik ponsel miliknya, Diletakkan ponsel itu ditelinganya, sepertinya dia sedang mencoba menghubungi seseorang yang sangat penting.
“Moshii Moshi..?”  Suara wanita yang sangat asing di seberang sana terdengar lembut di telinga Yui, walaupun demikian ia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran suara itu.
Siapa dia?
Yui terdiam cukup lama, pikirannya masih sibuk mencerna maksud semua ini. Tapi ia tak kunjung menemukan jawabannya, hingga kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Bukankah ini ponsel Taka, siapa anda?” Ujar Yui terbata-bata.
“Oh, benar ini milik Taka, dia sedang sarapan sekarang, dan saya calon tunangannya.”
Jantung Yui serasa berhenti, tubuhnya kebas tak mampu bergerak. Kalimat yang masuk di dalam telinganya baru saja membuat keadaannya semakin terpuruk. Apa benar? Apakah ini mimpi? Apa hanya rekayasa darimu, Taka. Tapi ini sama sekali tidak lucu.
Hingga kemudian terdengar lagi suasana ribut di seberang sana, sepertinya seseorang laki-laki sedang bergabung dalam percakapan mereka.
“Yui-san.”
Suara itu, Suara sumbang yang sangat diharapkan Yui. Suara yang dapat mengobati kerinduan Yui selama ini.
Yui mencoba membuka mulutnya yang masih terkatup
“Taka, Apakah ini kamu?” Ujar Yui dengan penuh harap.
“Yui-san, maafkan aku.”
Suara di seberang sana terlihat sangat lemah, seperti bukan Taka yang dulu dikenalnya, Taka yang selalu ceria. Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Taka, Aku harap kau menjelaskan ucapan wanita tadi.” Suara Yui terdengar sangat lirih, bahkan nyaris tak terdengar
“Iya, Dia calon tunanganku. Orang tua kamilah yang menjodohkan kami. Maafkan aku Yui,”
Mulut Yui terbungkam tak bergerak.
Tidak, Bukan itu yang ingin Yui dengar, bukan sebuah kata maaf. Melainkan ungkapan cinta dan rindu darinya, dari seorang Taka yang teramat ia rindukan bertahun-tahun, yang ia harapkan kedatangannya selama ini, yang selalu membuatnya menangis setiap kali teringat wajahnya.
Tapi kali ini nada bicara yang sangat pelan dari Taka membuatnya banyak kehilangan harapan. Jadi dia sudah memiliki pengganti lain? Jadi, dia mengingkari semua janjinya dulu? Mengapa jadi seperti ini? Seharusnya percakapan yang sangat ia dinantikannya bertahun-tahun ini berjalan membahagiakan, tapi fakta menyakitkan lah yang ternyata menggantikannya.
“Aku harap kau melupakanku, Yui.”
“Kau ini kenapa? Tidak semudah itu Taka, bukankah kau sendiri yang menginginkanku untuk selalu menjaga ikatan ini?” Jawab Yui, setetes embun jatuh perlahan mengalir di pipinya.
“Aku pun tak mengharapkannya, Aku juga lemah tak berdaya, Aku tak bisa menolak begitu saja permintaan keluargaku. Aku ingin kehidupanmu berlanjut tanpaku, Yui. Aku mohon,”
“Maaf, Aku tidak bisa.”
Tak terasa Ponsel di genggamannya terjatuh dengan sendirinya. Tetes demi tetes embun mengalir bersama isakan tangis yang terdengar sesenggukan, perih sekali.
“Mengapa semudah ini kau melupakan semuanya, Taka?” Ucap Yui sedikit berteriak dilemparkan ponsel miliknya jauh dari posisi duduknya saat itu, ditenggelamkan wajahnya di atas lutut yang ia tekuk,  Ia tak peduli apakah orang-orang akan menganggapnya gila saat itu, Ia tak peduli lagi ketika kesan pendiamnya mulai luntur akibat kelakuannya baru saja. Ia hanya ingin mencurahkan segala kekesalan, kecemasan, dan kerinduan yang selama ini hanya bisa dipendamnya sendirian, ingin sekali ia menangis sekeras-kerasnya, jika saja hal itu dapat melegakannya. Tetapi sayang, dia tak bisa, sebanyak apapun air mata yang akan menetes, tidak membuat Taka kembali bukan? Ia tetap berada jauh di sana bukan?
suara dan wajah yang tersenyum lembut itu saling memanggil
meski sudah tak bisa lagi…
Kutatap sebuah foto yang terpampang jelas menggambarkan dirimu yang sedang merangkulku saat itu. Di bawah sini, tepat di bawah langit tanpa bintang. Aku masih ingat akan suara kita yang saling memanggil, Aku juga masih ingat akan senyum manismu yang selalu menenangkan jiwaku setiap keresahan itu muncul, aku sangat mengingatnya. Tuhan, Mengapa perpisahan selalu hadir di sela kebersamaan yang telah terjalin indah? Adakah hari di mana semua kenangan indah masa lalu itu terulang? Aku harap demikian.
Tapi, Keraguanku tumbuh lebih besar dibanding semua harapan itu. Keraguan akibat pernyataan paling menyakitkan yang aku dengar dari mulutmu. Apakah kau bisa merasakan kepedihan yang teramat ketika mendengar suara wanita lain sedang mendampingimu? Apakah kau juga merasakan sakit hati yang begitu dalam ketika mendengar suara tangis yang terdengar lemah meratapi kepergianmu?  Aku harap iya, Aku harap kau pun juga terpaksa menikahinya, sama sepertiku, yang kini juga terpaksa harus meninggalkanmu demi dia. Tapi, Kenapa bukan aku? Kenapa?
Aku masih sendiri, Ya, apakah kamu percaya Taka? Selama 5 tahun ini, aku masih menyimpan semua janji-janji itu dibenakku, berharap kau masih berniat menepatinya suatu saat nanti, sama sepertiku yang masih setia mengingatnya sampai kapanpun. Kau lah yang pertama mencuri hatiku, Aku ingin kau jugalah yang akan mengakhirinya dengan perasaan yang sama. Tapi sayang, semua harapan itu hanya tabu belaka. Aku yang begitu mempercayaimu, kini kau khianati begitu saja.
Taka, apakah kau juga sedang memandang langit? Kau lihat tidak? Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, bintang masih segan menampakkan sinarnya, mungkin karena bintang yang paling terang sedang tidak berada di sini. Apakah kau juga menemui bulan yang tergantung  sendirian, terlihat lesu mengiri malam-malam yang selalu kelam. Walau demikian, sebersit harapan itu masih ada. Harapan akan hadirnya dirimu menemuiku, bersama janji-janji indah yang kau bawa, meski aku tak tahu kapan harapan itu akan terwujud. Meski raga ini mulai melemah, hati ini mulai lelah bahkan sampai mata ini mulai tertutup di sepanjang penantian dalam kesunyian malam,
 Taka, Hari ini dan seterusnya, aku akan tetap menunggumu di sini, di bawah langit tanpa bintang.
Owari