Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Kamis, 23 Juli 2015

Belajar Rendah Hati


Bismillah..
Waktu tepat menunjukkan pukul 14.30, itu berarti sudah 2 jam lebih terjaga. Flashback ke belakang lagi, 2 jam yang lalu ngapain aja yaa?

Penyakit sekaligus kekurangan yang belum bisa diatasi dari sekarang, target-target berceceran, DL banyak yang kelewatan. Yah, semoga selanjutnya tersadar deh. 

Niatnya sih, mau latihan bikin esai terus latihan bahasa inggris, terus latihan bangun pagi juga tapi lagi-lagi rencananya melenceng ke sana kemari. Jadi, sebelum saya melanjutkan latihan bikin esai, saya ingin bercerita sedikit, sejenak melepas penat karena aktivitas yang tidak sesuai hati. Entah kenapa sulit banget menyatukan perasaan dengan tulisan nonsastra. Ya sudah lah mungkin butuh banyak belajar lagi dan lagi.

Jadi beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga pergi ke suatu tempat makan di salah satu mall Solo, yang sudah pasti brandnya terkenal banget dan tidak perlu disebutkan. Dan kembali pada kebiasaanku yang suka mengamati orang, layaknya detektif, haha. Tapi entahlah, menurutku pribadi dan psikologi orang lain selalu menarik uintuk dibahas. 

Ada salah satu pelayan tempat makan tersebut, tepatnya seorang office boy. Yah sepertinya dia masih sangat muda, wajahnya masih terlihat polos dengan bibir merah merekahnya. Bukan gambaran wajahnya yang membuatku terpana. Tapi ekspresi yang pasti menunjukkan kepribadiannya yang membuatku semakin penasaran hingga pengamatanku tak berhenti ketika dia sedang disibukkan dengan pekerjaannya mengepel lantai di sampingku.

Jadi seperti ini, dari office boy tadi, aku sedikit menebak bahwa anak muda itu menjalankan seluruh pekerjaannya dengan ikhlas dan sangat sungguh-sungguh. Dari office boy itu, aku tersadar bahwa, pekerjaan apapun yang mungkin dianggap orang lain rendah dan tidak bernilai bisa sangat berarti bagi orang lain. Dan Kita tidak bisa menghakimi bahwa pekerjaan itu lebih rendah dibanding yang lain, bisa saja dia menyimpan berjuta rahasia dari pekerjaannya tersebut. 

Seperti kisah dari pemulung yang dapat melanjutkan studinya hingga S2 dan juga cerita dari kakak tingkat SMAku yang harus bekerja dari pukul 1 dini hari hingga fajar untuk membiayai sekolahnya, dan sekarang dia berhasil menempuh studi di perguruan tinggi kenamaan di Bandung.

Dari situ, aku belajar tentang sikap menghargai dan rendah hati. Diri ini ternyata tidak berarti apa-apa dibanding mereka. Diriku yang sudah menginjak semester 3 tapi masih menggantungkan diri pada orang tua, dan masih bersikap manja di kesehariannya. Ahh, malu sekali rasanya.

Dari situ saya juga belajar, bahwa tidak baik merendahkan orang dari segi pekerjaan, status, atau hartanya. bisa jadi mereka lebih unggul dan mandiri dibanding kita, jadi teringat pesan umi pipik di salah satu seminar yang saya hadiri dahulu.

``Jangan berpikir bahwa orang lain lebih rendah dari kita hanya karena segi penampilan dan pekerjaan, bias jadi mereka lebih rajin dalam hal beribadah dan beramal, serta lebih mulia dihadapan ALLAH SWT``

Semoga dari sini bisa semakin memperbaiki diri dan belajar dari segala yang berlalu dan yang diamati. Kagum sama Mas-mas Office Boy dengan wajah polos dan ikhlas itu, rasanya ingin sekali memberi semangat dan belajar banyak hal darinya. 

 #BelajarBersyukur #BelajarKerjaKeras #BelajarIkhlas #BelajarRendahHati

Rabu, 15 Juli 2015

はっぴいい度あるふぃとる

selamat hari raya idul fitri
saya sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin teman-teman :)
ini judulnya hiragana version, barusan keyboard udah bisa nulis bahasa jepang yee >u<
dadaadadada.....

Kamis, 09 Juli 2015

[Cerpen] Janji Masa Depan



Aku menatap diriku di depan cermin besar ini. Sosok berpakaian rapi lengkap dengan atribut wisuda itu bersiap-siap menjalani masa terpentingnya hari ini. Rasanya seperti mimpi bahwa orang sesederhana aku bisa mengantongi predikat wisudawan beberapa detik lagi. Tiba-tiba pikiranku terbang ke sebuah masa, masa dimana perjuangan terasa kental untuk mencapai titik ini. Ah, sebuah masa yang mestinya dilupakan, namun aku tak sanggup menghapusnya, karena bagaimana pun masa itu sudah menjadi bagian terpenting dalam pencapaian ini.
###
Aku menatap jam dinding di samping kamarku dengan sesekali mengedipkan mata yang masih sulit terbuka ini. Waktu masih menunjukkan pukul 02.00 WIB, tapi aku harus segera bangun. Ya aku memang berbeda, namun tepatnya aktivitasku lah yang berbeda. Di umurku yang ke-20 ini, Aku tetap seorang mahasiswa yang masih menuntut ilmu seperti orang-orang seumuranku lainnya. Namun pembedanya adalah aku harus bekerja lebih keras dari mereka.
Kupaksakan badanku beranjak dari tempat tidur yang nyaman itu, lalu mengambil beberapa perlengkapan yang aku butuhkan untuk bekerja. Bukan pekerjaan yang penting sebenarnya, namun aku harus benar-benar giat, karena aku masih butuh banyak uang untuk menopang biaya kuliahku dan kehidupanku. Untung saja aku adalah mahasiswa bidik misi, jadi uang beasiswa itu dapat kumanfaatkan juga.
“Ibu, Andi berangkat ke pasar dulu.”
Aku berpamitan dengan Ibu yang sudah berkecimpung di dapur lebih dahulu dariku, beliau pun harus bangun sepagi itu untuk mempersiapkan makanan yang akan dijualnya nanti. Beliau lah salah satu semangatku untuk terus berjuang mencapai kesuksesan.
“Iya, le. Hati-hati.”
Setelah kudapat ijin ibu tersebut, segera kukayuh sepeda dengan dua keranjang penuh sayuran di sebelah sampingnya. Meski masih pagi – pagi buta, namun aku yakin suasana pasar sudah penuh sesak dengan hiruk pikuk pembeli dan pedagang yang lainnya.
Ya, dugaanku tepat. Aku segera menuju  lapak daganganku, kemudian berjualan seperti yang lain. Satu pembeli terlihat menghamipiriku kemudian diikuti pembeli lainnya.
Fajar mulai menyingsinlg, Alhamdulillah daganganku pun sudah hampir habis. Aku menatap lembaran kertas bernilai itu dengan senyuman puas sembari menghitungnya sebentar. Namun, aku segera sadar, di sini bukan tempat yang aman untuk menghitung uang. Pernah suatu ketika ada preman pasar yang merebut hasil jerih payahku itu, dan alhasil aku pulang dengan tangan hampa.
Sepulang dari pasar, tak serta merta aku harus membaringkan tubuhku lagi dan beristirahat, karena aku harus menunaikan kewajibanku yang lain yaitu kuliah. Dengan belajar di fakultas hukum di salah satu universitas negeri di kota ini, kugantungkan harapan untuk mengubah hidupku ini, tak apa aku bersusah-susah terlebih dahulu, namun kelak aku ingin hidup dengan genggaman kesuksesan yang berhasil kuraih.
Untung saja jarak rumah dengan pasar tidak terlalu jauh, jadi aku bisa tiba di rumah lebih cepat dan menyiapkan perlengkapan kuliahku setelahnya.
“Ini bekal makanmu, Nak.”
Kulihat ibu menghampiriku yang sudah siap dengan tas di pundak dan sepeda yang sama sembari tersenyum tulus. Ibu sangat sayang kepada anak-anaknya, beliau selalu menyiapkan segela kebutuhan untukku dan adikku. Begitu pun dengan bekal makanan yang selalu beliau berikan di setiap pagi.
“Terima kasih bu, Andi berangkat dulu ya.”
Kucium tangan Ibu dan meminta restu beliau demi kelancaran kuliahku. Kukayuh sepedaku segera, karena aku harus segera tiba di kampus dan mata kuliah pertamaku dimulai pukul 7, jadi aku harus bergerak cepat.
Namun tiba-tiba, ada yang aneh pada sepedaku. Aku tidak bisa menahan keseimbanganku saat aku sadar bahwa sepedaku mulai oleng.
“Ah, bannya bocor.” Keluhku seketika. Aku harus bagaimana? Padahal kuliah akan dimulai sebentar lagi. Aku menyebar pandangan di sekelilingku, kutemukan tambal ban tak jauh dari tempatku berdiri. Tak perlu berpikir lama, segera ku berlari ke sana.
“Pak, kira-kira tambal ban butuh berapa lama?” Tanyaku kepada bapak-bapak tambal ban tersebut.
“Kira-kira setengah jam.”
Ah, tidak bisa. Aku harus sudah sampai kurang dari setengah jam lagi. “Ya, sudah pak. Saya titip sepeda dulu.”
Karena jarak ke kampus tinggal 1 km, akhirnya aku putuskan untuk berjalan menuju kampus. Sekuat tenaga, aku berusaha datang tepat waktu pagi itu. Dengan sesekali berlari, aku tidak memperdulikan pakaianku yang mulai basah oleh peluh dan keringat, yang ada di pikiranku adalah jangan sampai aku terlambat pagi itu.
Akhirnya, dari kejauhan gedung-gedung bertingkat itu mulai terlihat. Aku menambah kecepata kakiku dan akhirnya, tepat sekali. Aku sampai di ruang kelas pukul 7 tepat. Alhamdulillah.
“Kamu kenapa basah kuyup seperti ini? Kehujanan?” Tanya salah satu teman sekelasku keheranan.
“Ban Sepedaku bocor.” Jawabku langsung menyandarkan punggungku di kursi yang kududuki kala itu dan menghela napas berulang kali untuk melepas penat akibat berlarian tadi.
Cahaya siang sudah tergantikan oleh senja, dan mata kuliah hari itu pun telah usai. Aku segera mempersiapkan diri untuk segera pulang. Ya, aku harus cepat, karena aku harus berjalan terlebih dahulu untuk mengambil sepedaku di bengkel pagi tadi. Syukurlah, sepedaku telah selesai diperbaiki dan aku dapat menaikinya kembali. Sepertinya hari ini aku pulang lebih malam, semoga saja Ibu tidak cemas menantiku. Tetapi mengapa hari ini perasaanku tidak enak.
“Assalamualaikum.” Kuketuk pintu rumahku berulang kali, namun tak kunjung ada yang membuka. Hingga kemudian ada yang mendorong pintu tersebut perlahan. Desi. Tetapi mengapa wajahnya begitu sedih?
“Desi? Kok menangis?” Tanyaku sembari sedikit membungkukkan punggungku untuk menatap mata kecilnya.
“Ibu sakit kak.”
Deg. Jantungku serasa berhenti, kecemasan langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhku.  Aku Segera masuk rumah kemudian menuju kamar tidur Ibu. Ya benar saja, Ibu terbaring lemas dan terlihat pucat. Aku mendekatinya perlahan.
“Nak, maaf Ibu tidak bisa bekerja hari ini.”
“Sudah, Ibu istirahat saja. Biar Andi yang bekerja.” Ujarku menyela perkataan Ibu baru saja. Tak terasa air mataku menetes perlahan, kutatap wajah yang mulai renta itu. Aku sadar Ibu sudah berjuang sejauh ini, berjuang sendirian demi kelangsungan hidup kami berdua. Aku merasa amat bersalah selama ini, merasa belum bisa membalas jasa Ibu kepadaku.
Hingga kemudian aku tersadar, aku harus segera bangkit. Mulai hari itu, aku meneguhkan janji di dalam hatiku, meneguhkan semangat sekaligus harapan untuk membahagiakan Ibu dan mencapai kesuksesan kelak.
###
Ya sesuai janjiku, perjuangan dan pengorbananku berjalan lebih keras lagi, tak pernah terhenti pun hingga detik ini. Hingga detik dimana hari wisuda itu pun datang. Hari dimana aku mencapai puncak tertinggiku sebagai mahasiswa yang akan membuka pintu kesuksesan setelahnya.
Hari ini pula, aku melihat senyum Ibu melebar, wajah tulus terpancar, dan mata itu tetap berkaca-kaca. Belum pernah aku melihat Ibu sebahagia ini, Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku, meridhoi harapanku untuk membahagiakan beliau. Akhirnya satu predikat sebagai wisudawan terbaik itu berhasil kugenggam, dan janji itu pun berhasil kuhidupkan secara nyata, janji untuk membuka gerbang kesuksesan mmenuju masa depan yang cerah. 

Sabtu, 06 Juni 2015

[Cerpen] Hujan Senja


Daririntik ini, Apakah kau bisa melihat wajah yang begitu merindukanmu
Daritetes ini, Apakah terbesit sedikit saja bayangan wajahku dalam pikirmu
Dariembun ini, Apakah namaku pernah singgah dalam ingatanmu?
Apakahkau pernah bertanya pada senja, siapa yang benar-benar hadir untukmu?

}={}={}={}={}={

Lagi-lagihujan turun menemaniku menghirup aroma senja, tepat ketika kudengarkan laguciptaanmu, lagu tentang hujan dan senja yang begitu sarat akan makna. Dalamlagumu, suara itu kudengar begitu lembut dan merdu. Aku memang mengaggumiindahnya suara tersebut, begitupun dengan mereka, fans-fans wanita setiamu itu.Iya kan?

Kulepasearphone yang sudah 5 menit menempel di rongga telingaku. Aku cukup puas denganlantunan lagu ciptaanmu ini. Kata demi kata yang terangkai pada sebuah lirikitu selalu terngingang di kepalaku. Hanya itu yang bisa kulakukan karena akuhanya bisa mendengar suaramu yang berada jauh di sana, yang pasti tidak kausadari. Tapi mengapa aku tetap bertahan seperti ini, bertahan menunggukepastian yang sangat mustahil untuk terwujud.

“Yukimi,Bukankah itu Kai-senpai?”

Suarariang itu kudengar, sontak mataku melihat sosok yang menjadi sumber lamunankubaru saja. Kai Yutaka, pemuda yang membuatku terkagum-kagum itu kini berlarian menghindarihujan sembari menangkupkan kedua telapak tangan di atas kepalanya, berusahamenghindari air hujan yang terus menerus menetes.

“Hah?Dia mendekati kita?”
Ya,wajah itu semakin jelas kulihat seiring langkahnya yang mulai mendekati gazebotempat kami berteduh.

“Gomen,Boleh aku berteduh di sini?”

Tepatsekali. Wajah itu sedang menatapku, raga yang basah kuyup itu kini berdiri dihadapanku. Aku terdiam, masih tidak percaya bisa berjumpa dengannya sedekatini. Dan kini, dia duduk tepat di sampingku

“Ah,andai saja, aku memiliki payung. Aku harus segera berlatih band.”

Mulutitu terus bergumam. Walaupun sampai saat ini, tak satupun kalimatnya kurespon.Hati ini semakin membeku seiring kenyataan yang berjalan begitu indah.Kenyataan bersama Kai-senpai. Untuk pertama kalinya, kutolehkan wajahku kearahnya. Oh Tuhan, aku menatapnya. Kugerakkan payung dalam genggaman tangankuke arahnya,

“Inipakailah.”

Untukwaktu yang lama, aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum puas menyambutpayungku. Senyum yang begitu menghangatkan untuk mengobati kerinduankukepadanya.

Ucapanterima kasih itu begitu tulus ku dengar setelah ku lihat raganya begitucepat  menerobos hujan. Mungkin untukhari ini, harus kubiarkan ragaku menggantikannya basah kuyup. Sebuah pengorbananakan dimulai.

}={}={}={}={}={


Haridemi hari semenjak kejadian hujan itu, kami semakin dekat. Tak jarang, akumenjumpai wajah ramahnya menyapaku, meski hanya ku balas dengan senyuman kecil.Karena aku harus menahan diriku, menyembunyikan perasaan tanpa seseorangpunyang tahu.

“Janganlupa, hari ini aku tampil lho.”

Undanganyang langsung ku sambut antusias, saat kuketahui kau dan bandmu akan tampil dipensi hari ini. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh-jauh hari. Hari ini punaku berniat memberikannya sebuah coklat beserta sebuah surat yang terselip didalamnya. Surat tentang sebuah rasa. Rasa yang kupendam begitu lama.

Lagi-lagi,lagu tentang hujan senja dan suara merdumu berkolaborasi apik di panggung pagiitu.  Ramai, riuh, dan semangat memenuhiruangan dengan dominasi gadis-gadis belia. Mereka mengapresiasi aksi panggungmuyang memukau, begitu pun denganku.

Namunkebahagiaanku tidak berlangsung lama. Saat ku melihat seorang wanita berlari kearahmu, memberikan balon merah berbentuk cinta. Untuk sesaat rasa sesakmemenuhi dadaku.

Danapa yang kulihat setelahnya? Kau menerimanya. Tepat di hadapanku, masih jelasteringat senyum yang dulu kau berikan saat menyambut payungku, kini kau ulaskanuntuk gadis lain. Tepat  sekejapsetelahnya, seisi ruangan memberikan sorak sorai bahagia saat mendapatitanganmu meraih tangannya mesra.

Kutundukkanwajahku, tak mampu melihat mereka kembali. Aku menatap coklat di tanganku. Sepertinyaaku terlambat. Segera kumasukkan bingkisan itu ke dalam tasku.

Putusasa.

Ya,Aku sadar ruangan ini terlalu ramai untuk mengharap Kai dapat melihatku. Mungkinaku harus segera sadar, mana mungkin dia menerima sosok gadis biasa sepertiku.Sosok biasa yang mengagumi seseorang yang semua orang tahu tentangnya. Tapimengapa rasa ini tidak luntur sedikitpun? 

}={}={}={}={}={

Hinggasuatu ketika, aku melihatmu berada di bawah pohon pada suatu senja, sendirian.Aku tidak berniat menghampirimu waktu itu, tapi sapaan ramahmu kembalikudengar. Aku mendekat, tepat saat senyuman itu menyambutku.

Diatidak sendiri.

Yaa,aku tercekat, saat gadis cantik itu keluar dari sebuah kelas danmenghampirinya. Gadis yang sebelumnya kulihat memberikan balon berbentuk cintauntuk Kai. Apa maksud semua ini?

“Yukimi-san,kenalkan dia kekasihku.”

Ya,aku tahu, Kai. Tolong jangan ucapkan lagi. Mengapa harus aku yang mengetahuifakta bahwa dia kekasihmu? Harusnya kau beritahu kabar bahagia itu kepada oranglain. Bukan untukku, karena kabar itu hanya akan menjadi kabar buruk untukkudengar. Kujulurkan tanganku meraih tangan gadis itu. Dia tersenyum, senyumyang sangat cantik. Pantas saja Kai tertarik, bahkan senyum itu mampumeluluhkan hatiku sebagai wanita. Kupaksakan wajahku menarik kedua sudutbibirku untuk tersenyum, walaupun sebenarnya berat sekali untuk kuulas. Aku tidak tahu harus berbuat apaketika memandannya. Rasanya, ingin segera pergi dari tempat itu.

Sesak.Itulah perasaan yang masih tertimbun di dadaku. Kuletakkan kedua tanganku didada. Aku takut, aku tidak bisa menahan rasa yang telah lama kusembunyikan inisaat melihat kedekatan kalian.
Tolongberakhirlah…

}={}={}={}={}={

Tolongberakhirlah? Apakah aku berdoa saat itu? Seingatku aku hanya berharap luka initidak merembes semakin luas melumuri penuh seisi ruang hatiku. Aku tidakmenyangka saat kutemui fakta bahwa kalian berakhir? Apakah itu benar?

Akusangat ingat, seminggu setelah itu. Kau duduk di bawah pohon yang sama, dibawah hujan dan langit senja yang begitu tenang. Aku tidak melihat wajah ramahyang selalu menghangatkan itu. Aku juga tak mendengar sapaan yang biasa kauberikan untuk menyambutku. Untuk kali pertama, aku menghampirimu tanpa dorongansiapapun.

Kaumenangis?

Apabenar?

Tolong,berhentilah menangis. Rasanya sakit sekali saat melihat air mata itu membasahipipi tirusmu. Apakah dia terlalu berharga untukmu, Kai? Sampai-sampai, wajahmuberubah lusuh dan pucat seperti ini, jauh sekali dari Kai yang kukenal. Apakahlukamu begitu besar saat kehilangan dia? Rasanya ingin kuteriakkan segalaperasaan yang sudah menyesakkan dada ini kepadanya. Segala perasaan dan lukayang lebih besar dari apapun, bahkan jauh lebih besar dari luka kehilanganmu, Kai.

Kuseka air mata itu. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihatnya bahagia. Yaa,tepat sekali. Saat tak kujumpai sedetikpun wajah itu menoleh ke arahku, walautangan ini tak berhenti menyeka air matamu. Akankah kau sadar Kai? 

}={}={}={}={}={

Sudahkuputuskan untuk mengakhiri semuanya, termasuk kekaguman semu, yang benar-benarsemu ini. Aku sangat sadar, bahwa hati ini tak selayaknya mengagumi seseorangsesempurna dan sebaik dirimu. Aku ingin menyudahi semuanya. Menyudahi semuaharapan dan khayalan-kahayalan tabu tentangmu. Kupandang langit senja dengantetesan  hujan di atas sana, tepat saatearphone ku mengalunkan sebuah lagu hujan dan senja miliknmu.

Apakahkau sempat bertanya pada hujan senja? Tentang seseorang yang begitu mengaggumimu lebih dari kekaguman pada indahnya insane semata.

Apakah sekali saja kau pernah bertanya pada hujansenja yang telah menemani dan mempertemukanmu dengannya? Dengan seseorang yangbegitu tulus menjaga hatinya untukmu.

Akuyakin tidak. Aku yakin kau tidak pernah bertanya dan merasakan aroma hujan senjawalau sedetikpun.

Kuberanjak dari tempat dudukku, berniat mengambil jalan pulang. Membiarkan hujansenja kali ini membasahi tubuhku untuk yang terkakhir kalinya. Hujan senja yangtidak akan kurasakan lagi seiring lunturnya rasaku untuknya.

TAMAT

Selasa, 02 Juni 2015

Kokoro No Placard (Papan Penanda Isi Hati)



Lihat kesini sebentar saja
Ayo sadarlah pada keberadaanku
Lihat kesini lima detik pun
Lihatlah diriku yang didekatmu

Tetapi sebenarnya
Walau mata bertemu
Sebentar dan tidak sempat
Mengucapkan apapun



Ini ceritanya lagi dengerin lagunya JKT48 yang kokoro no placard. Ternyata lagunya easy listening sekali ya. Kalau didengar lama-lama, ada makna yang tersembunyi di balik lagu tersebut. Kalau sepenangkapku lagu itu ditujukan untuk orang yang sulit mengungkapkan perasannya, ya seperti aku ini hehe. Karena hampir setiap hari mendengar lagu itu, Aku pun tergerak untuk membuat papan penanda isi hatiku versiku sendiri. Eciyee. Ini dia!!

Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti, perasaanku

Jika disini aku tulis
Aku suka pada dirimu
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta


 



 







Apa yang kalian pikirkan setelah melihat papan kertas milikku tersebut. Aku sengaja memotretnya waktu senja, dan itupun juga mencuri-curi waktu sepulang kuliah. Entah mengapa senang sekali bisa menuliskan hal ini. Mungkin karena aku tidak pintar mengungkapkan perasaan, jadi aku hanya mampu menuliskan saja. Jadi gini, tulisan pada foto ini didedikasikan penuh untuk keluarga, sahabat, teman, dan inspirasiku sepenuhnya. Mengapa? Karena mereka sangat berharga untukku, merekalah yang telah menerimaku dan menghiburku ketika keterpurukan itu datang. Rasanya itu ya, aku ingin peluk satu per satu teman-teman, kakak-kakak tingkat, dan keluargaku kemudian meneriakkan beribu terima kasih kepada mereka atas segala penerimaan selama ini. Namun sayang hatiku terlalu lemah untuk berbuat demikian, maaf yaa. Tapi jujur, aku sayang kalian :’)

Give me a chance, Sekali saja
Berdoa sendirian sambil menunggu
Give me a chance, Kebetulan pun
Ayolah kau menengok kearahku

Harus beranikan diri
Lalu mulai menyapa
Meski mudah diucapkan
Sulit tuk dilakukan

Papan penanda isi hati
Masukkan tangan dari mulut
Ganjalan hatiku ayo ambillah

Aku suka pada dirimu
Jikalau itu ku sampaikan
Walau tidak dijawab
Walau tampak kesulitan
Bisa jadi hepi

 












Nah untuk foto yang ini, emm, kayaknya tidak terlalu berbeda dengan foto yang sebelumnya. Tapi ada tulisan yang berbeda di bagian akhir dan apakah itu? Keep shining, good bye. Haha. Sebenarnya itu ungkapan patah hatiku kemarin. Ada seorang inspirasiku yang mulai menjauh nih, semenjak dia suka sama seseorang . Sebenarnya aku kecewa, mengapa? Karena aku jadi canggung sama orang yang dia suka begitupun dengannya. Eh, eh jangan salah paham. Sama sekali aku tidak cemburu, aku hanya ingin menjalin hubungan pertemanan lagi dengan inspirasi dan dia(pasangan inspirasi), tidak lebih. Rasanya itu, kisah-kisah sinetron itu muncul di dunia nyata lho, dan aku jadi tokoh ketiga diantara mereka berdua. Lucu sebenarnya. Sempat khawatir juga ketika melihat teman-temannya jadi nggak enak sama aku, padahal aku tidak seperti yang mereka pikirkan. Jadi, tidak usah mempedulikan perasaanku ya, kan aku sudah bilang selama ini aku hanya mengagguminya dan menghormatinya. Tolong jangan membuat jarak denganku, bukankah kita teman? Tapi karena inspirasi itu orang yang baik, aku harap dia bisa menjaganya,


Semua orang menyimpan
Kata-kata yang penting
Jauh di suatu tempat
Didalam lubuk hati



 
Dan ini ungkapan terakhirku. Target impianku, tau tidak? Untuk menulis ini butuh keberanian dan mental yang kuat. Karena apa? Karena tahun 2016 itu tidak lama dan aku belum menyiapkan apapun. Tapi mengapa aku begitu berani dan yakin? karena sebelum aku memutuskan untuk memasang impian ke jepang di kertas penanda isi hatiku ini, aku bertemu dengan sosok kalem penuh inspirasi yang selalu memberi motivasi bagi semua mahasiswa untuk berani bermimpi dan kelak Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Jadi, kuberanikan diri untuk memasangnya dan memposting di facebook. Tahu tidak? Sebelumnya aku tidak pernah mempublikasikan impianku ke khalayak ramai, dan tanpa kuduga ternyata banyak sekali yang merespon. Bukannya senang, malah ada perasaan mengganjal dalam hatiku sampai sekarang. Apakah aku bisa? Tapi setidaknya aku ingin memulai cara baru dalam mewujudkan impianku, dengan begitu ada tanggung jawab dalam diri ini untuk tidak bermalas-malasan lagi dalam belajar. Yoshh. I will do my best

Nah itulah kertas penanda isi hatiku. Sebuah cara bagi manusia tertutup seperti ku dalam mengungkapkan perasaan hehe. Walaupun kekanak-kanakan, yang penting happy kan? Terimakasih telah menyempatkan memabaca. See you to the next post J

Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti, perasaanku

Jika disini aku tulis
Aku suka pada dirimu
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta

Papan penanda isi hati
Hey, Cobalah kau keluarkan
Apa yang kau pikirkan
Terus teranglah

Jika tak bisa diucapkan
Cukuplah dituliskan saja
Yang ingin disampaikan
Yang ingin diucapkan
Sadarilah tandaku



#‎NulisRandom2015