Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Senin, 23 Maret 2015

[Lyric] Good Bye Days - Taeyeon (Korean Ver.)

Weorobdeon naldeul ijeneun annyeong
nan dallajilgeoya

jumeoni soge i norael dam-ah
neoege dallyeogalgeoya

moreun cheok hagi ije himdeuleo
na-ege soljikhal geoya

Oh Good Bye Days
honja gaseum jolyeottdeon naldeul

jeo haneul neomeoro
So Long

eojewaneun dalla
modeun geol saero dashi shijakhalgeoya
La la la la la with you

naui noraereul deudgo ittnayo
dangshineul wihan noraejyo

geudaega naege gareuchyeojwottjyo
mwol bulleoya halji

ttaeroneun weroum-e uleottjyo
geudaereul jikyeoman bwattjyo

Oh Good Bye Days
ije naneun dallajingeojyo

modu saeropge
All Right

eojewaneun dalla
modeungeol saero dashi shijakhangeoya

La la la la la with you

seulpeun saenggak duryeoun mam
modu norae-e damaseo deonjyeobwa

yonggi naeeo malhaeyo
neoui mameul mollado dwae

Yeah Hello My Friend gwaenchanha
naega dallajin ge joongyohae

maeumsogui sori gwireul giwoolyeo deuleo
geureogil barae I Wish

eojewaneun dalla
modeungeol saero dashi shijakhangeoya

La la la la la Good Bye Days


Credits:
Rom:cedge@soshified
Trans:Hyunjin808,soshi00 & taengbear@soshified

Minggu, 22 Maret 2015

Karya Seni Mural SEMARFEST 2015

SEMARFEST 2015 adalah rangkaian acara dalam memeriahkan HUT UNS ke 39. Salah satu acara yang diselenggarakan adalah lomba melukis mural. Berikut adalah hasil karya seni mural dari mahasiswa PGSD dan PGPAUD di kampus 4 Universitas Sebelas Maret











[Songfict] Hoshi no Nai Yoru ni -Malam Tanpa Bintang-


 Title                 : Hoshi No Nai Yoru Ni [Malam Tanpa Bintang]
Author             : Ingrid Elvina 
Chapter           : Oneshot
Genre              : Angst | Drama
Pairing            : YuixTaka
Rated              : NC - 13
Summary        : karena aku akan selalu ingat permohonan kecil itu, karena ada wajah yang tersenyum, gapaikan dan ikatlah kami berdua, pada malam tanpa bintang
Note                :  Vakum kelamaan, terakhir bikin cerita setahun yang lalu sebelum persiapan UN dan tes-tes lain jadi diksinya sangat tidak indah, maaf. Gaya ceritapun sudah berubah. Judulnya malam tanpa bintang, tapi kok malah jadi langit tanpa bintang ya -_-, tapi setidaknya saya ingin kembali menulis, Mari mulai lagi, Ganbarimasu :3
=====[]======[]======
“kita berdua sudah mati sejak waktu itu
tak perduli meski kita memikirkannya
sudah tak bisa kembali, hal yang tak bisa dikembalikan meski berapa kalipun, berapa kalipun”
Malam ini, rembulan terlihat begitu pucat, tergantung sendirian pada langit hitam di atas sana. Sama sekali tak begitu memikat, suasana malam serasa tidak lengkap tanpa kerlip bintang yang biasa menghiasi langit malam bersama bulan.
Di sini, Aku mengenang kembali sebuah bintang yang selalu bersamaku, di taman ini aku merindukan sosoknya sebuah bintang yang selalu mencintaiku, itu ucapnya, 5 tahun yang lalu sebelum dia pergi ke sana, ke tempat yang sangat jauh, yang akupun tak tahu dimana itu berada.
--Flashback—
“Yui, Hei Apa kau ingin main bersamaku?”
Sebuah suara sumbang menggugah pemilik nama Yui itu untuk bangun dari posisinya semula yang sebelumnya menyembunyikan wajahnya di atas meja kelas.
“Taka?”
Ya, namanya Taka, Seorang pemuda yang mampu meredam penatnya kesepian di dada Yui. Dia hanya seorang gadis SMU yang pendiam, polos, dan susah bergaul. Semua keterbatasannya itulah yang membuatnya tidak memiliki teman, mungkin salahnya juga mengapa dia mempertahankan segala sifat lemahnya ini, hei tapi bukankah seorang teman itu selalu bisa menerima kekurangan seseorang teman lainnya? Tapi, itu semua hanya masa lalu, kini dia tidak semenderita yang dulu, yang terus hidup dalam kesepian yang sangat menyiksa, karena kini ada seorang malaikat yang hadir menyejukkan hatinya.
“Hei, Yui, Ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
Perkataan Taka baru saja membangunkan lamunan Yui tentangnya. Ternyata, Yui terlalu lama melamuninya.
“Eh, tidak apa-apa, aku hanya melamun saja.” Ucapnya tersimpuh malu
“Kau ini, selalu saja menggemaskan, ya.”
Taka mencubit pipi Yui dengan gemasnya, bersama senyum yang mulai melebar dan matanya yang menyempit membuat Yui gugup tak karuan. Tiba-tiba timbul getaran dalam dadanya, Sontak Yui mengalihkan mukanya ke arah yang berlawanan.
“Eh, apakah cubitanku terlalu keras? Maafkan aku ya.” Sepertinya Taka merasa bersalah pasca melihat reaksi Yui yang sempat menghindarinya. Dia hanya menggeleng mengelak dugaannya tersebut, dia hanya tidak ingin terlihat begitu gugup di hadapannya, dia hanya tidak ingin membuat Taka merasa tidak nyaman berada bersamanya.
“Ah, kalau begitu, Ayo main Yui-san.” Ajak Taka sembari menarik tangannya, lagi-lagi bibirnya tmelebar menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis.
Taka-san, Sepertinya aku mulai menyukaimu
=====[]======[]======
Aku ingat sekali, pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku yang hanya gadis polos yang sangat tidak istimewa ini teramat mengagumimu, yang dapat kulakukan hanyalah memandangimu dari kejauhan berharap di kemudian hari kau akan menyadarinya. Hingga kemudian, entah karena angin apa, kau datang menemaniku, menghiburku di setiap waktu.
Bahkan engkau rela menurunkan harga dirimu sendiri demi membelaku. Sebesar itukah kepedulianmu untukku? Hanya untuk seorang gadis yang sama sekali tidak istimewa ini. Tapi aku sama sekali tak mempedulikan anggapan mereka. Karena aku hanya butuh tempat istimewa darimu,
Flashback---
Dari kejauhan, terlihat Yui berjalan sembari berlarian kecil memasuki pelataran sekolah. Langkah kakinya yang bertempo cepat beriringan menandakan sepenggal semangat sedang memenuhi raganya. Wajah yang riang, dengan senyuman kecil di bibirnya menunjukkan kebahagiaan sedang menyelimuti hatinya. Di sisi lain, terlihat kedua tangannya sedang menggenggam erat sebuah kotak makan yang terbungkus rapi.
“Hari ini pertama kalinya aku membawakan bento untuk Taka, aku harap ia menyukainya.” Yui berbisik lirih sembari menatap kotak makan itu sumringah.
“BRUKK,”
Tiba – tiba Yui tersandung jatuh tanpa sadar, kotak makannya terlepas dan jatuh berantakan di hadapannya. Yui hanya bisa meringis kesakitan, ia kesulitan bergerak, tangannya masih berusaha menopang tubuhnya untuk segera bangkit, tapi sepertinya terlalu susah karena ia jatuh begitu keras. Dipandanginya lututnya yang memerah mengeluarkan darah karena benturan tadi. Rasa sakit itu semakin bertambah ketika ia kemudian teringat bentonya yang terlepas tadi, terlihat seluruh bekal makanan yang ia siapkan tadi pagi berceceran di halaman sekolah. Sembari menahan rasa sakit, Yui berusaha merangkak ke depan mendekati bento yang dibuatnya untuk Taka.
“Kasihan sekali kau. Kenapa kau tidak melihat kakiku, hah?”
Yui mendongakkan wajahnya mencari sumber suara itu. Mika? Ah, kenapa dia terus menerus mengganggunya,
“Mengapa kau berbuat seperti itu?” Tanya Yui kesal. Dengan susah payah ia berusaha melindungi sisa-sisa makanan yang masih bisa diselamatkan. “Mengapa kau selalu menggangguku, tidakkah kau lihat bentoku untuk Taka…”
Yui menutup mulutnya, sepertinya perkataannya baru saja sudah keceplosan
“Oh, untuk Taka ya ?” Mika tersenyum sengit, Ia mendekati Yui yang masih duduk tersimpuh. “Memangnya Taka mau makan bento busuk buatanmu ini, hah?” Tiba – tiba Mika, mengangkat kakinya dan menginjak-injak bento milik Yui.
“Jangan lakukan itu.” Sontak Yui melawan berusaha melindungi bento miliknya. Tapi usahanya sepertinya sia-sia, bentonya sudah terlanjur rusak dan kotor.
“Mika, apa yang kamu lakukan?” Tiba-tiba terdengar suara tegas meredam keributan tadi. Mika terkaget – kaget saat dijumpainya Taka berjalan mendekati dirinya.
“Taka?”
‘PLAK’
Sebuah tamparan melayang cepat ke arah Mika. Mika hanya bisa meringis kesakitan memegangi pipinya. Ia sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Taka menamparnya? Begitupun dengan Yui, Ia tidak menyangka, Taka akan berbuat seberani itu demi membela dirinya, Ia tega menampar gadis paling popular di sekolahnya.
“Taka, Kau sadar tidak atas sikapmu tadi?” Mika berteriak ke arah Taka. Sepertinya ia tidak terima dengan perlakuan yang ditujukan kepadanya. “Kau berani menamparku demi melindungi gadis kampung ini.” Kekesalan Mika memuncak,
“Iya, aku sadar, Yui itu wanita berharga dan kau tidak pantas memperlakukannya seperti tadi. Anggap saja tamparan tadi pembalasan untukmu.” Jawab Taka datar
Mika terbungkam tak percaya , Ia berlari menjauhi mereka, sepertinya Ia sudah terlalu kesal untuk melanjutkan pertengkarannya dengan Taka.
Terlihat Taka menundukkan wajahnya, sebelum kemudian ia beranjak mendekati Yui,
“Mengapa kamu berbuat demikian hanya untuk melindungiku?” Yui menundukkan wajahnya, menyembunyikan dalam-dalam ekspresi sedihnya.
“Tidak ada seseorangpun yang tidak pantas untuk ditolong termasuk dirimu.” Taka membungkukkan badannya, merangkul pundak Yui dan membangunkannya pelan-pelan.
“Jadi ijinkan aku melindungimu.”
=====[]======[]======
“hembusan angin dan sinar matahari yang harum diantara pepohonan
Sejak hari itu semua telah berubah warna
begitu banyak musim bisa kurasakan
tapi.. kau tak ada”
Aku merindukan segala bentuk perhatianmu untukku, senyummu dan mata teduh itu, Aku rindu segala yang menyangkut tentangmu, Taka. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menangis setiap saat kerinduan itu datang menghantuiku.
Andai saja semua kenangan itu kembali lagi. Mengisi kembali kekosongan hidupku, yang sekarang hanya sendirian,  menapaki setiap hari yang telah berganti minggu, bulan bahkan tahun, yang berjalan begitu lama, Taka. Sadarkah engkau? Begitu lama kau meninggalkanku.
Flashback---
Sepulang sekolah, Yui terlihat duduk sembari melipat kakinya di tepi danau dekat sekolahnya, sebuah tempat favoritnya sejak ia menginjakkan kaki di SMU, mungkin danau itu sudah menjadi saksi bisu liku-liku kehidupan Yui di sekolah itu juga. Lagi-lagi ia melamun, akhir-akhir ini kebiasaannya melamun terus saja dipertahankan, tetapi Ia hanya ingin sedikit merenungi kejadian yang menimpanya tadi pagi.
Kejadian pagi yang menyakitkan tadi cukup menghibur hati Yui, kedatangan Taka bak malaikat pelindung yang menyelamatkannya dari Mika begitu menyentuh hatinya. Pantas saja, selama ini sebelum pertemuannya dengan Taka, Yui hanya bisa memendam rasa sakit karena ulah teman-temannya itu sendirian. Namun semua beban yang menyesakkan hati itu perlahan-lahan mulai lenyap karena peran seorang Taka.
DEG…
Ah, mengapa getaran ini datang kembali?
“Konnichiwa, Yui-san.” Suara yang bak asing itu kembali menyapanya, sepertinya Yui dapat langsung menebak siapa gerangan yang datang tersebut.
“Taka?” Yui menyambut kedatangan Taka dengan heran, dia hanya bertanya-tanya mengapa setiap kali pikirannya menyebut nama Taka, dia langsung muncul.
“Jadi kau sering ke sini ya?” Tanya Taka yang kemudian memposisikan duduknya di dekat Yui.
Yui hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kecil, ia gugup.
“Kau ini, pendiam sekali ya. Oh ya, aku membawakan sesuatu untukmu.” Taka mengeluarkan  sebuah kotak makan dari tasnya.
“Apa kau sudah makan siang?”
“Belum.” Jawab Yui
“Kalau begitu, mari kita makan bersama.”  Disodorkannya tempat makan itu di dekat Yui.
“Eh, tapi kan ini milikmu?” Jawab Yui sungkan
“Ah, tidak apa-apa. Hitung-hitung sebagai pengganti bentomu yang rusak tadi pagi.” Ujar Taka kembali tersenyum, senyuman yang begitu dirindukan Yui. “Ittadakimasu.” Lanjut Taka riang.
Yui mengambil beberapa sushi di sana untuk ia makan. Sepertinya dia sangat menikmati siang itu, siang bersama orang yang di sayanginya.
“Totemo oishii.” Ujar Yui sembari mengunyah bento Sushi milik Taka
“Oh ya? Kalau begitu, ini ambil lagi.” Taka tersenyujm, hingga kemudian ia mengambilkan sepotong sushi dan disuapkannya ke mulut Yui. Yui agak canggung melihat perlakuan Taka kepadanya, tapi sebenarnya ia begitu senang.
Mereka melanjutkan makan siangnya hari itu. Tak pernah terbesit di benak Yui untuk menyantap makan siang ditemani seseorang. Maklum saja, selama ini dia lebih sering sendirian dalam melakukan berbagia aktivitas di sekolahnya. Ia tidak memiliki seorang teman yang benar-benar tulus bersamanya, mereka lebih memilih bergaul dengan orang-orang yang sama-sama popular di sekolah. Dan hal itu sangat menyakitkan, tapi tidak untuk saat ini. Bukankah Tuhan itu Maha adil, memberikan anugerah seorang Taka yang kini hadir menemaninya, menjadi pengganti yang jauh lebih baik dari teman-temannya itu.
“Yui-san, apakah kau senang?” Perkataan Taka tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
“Tentu saja, Aku belum pernah merasa sesenang ini. Terima kasih.” Jawab Yui jujur
“Apakah, selama ini kau tidak senang?” Kini Taka menolehkan wajahnya menatap Yui. Yui yang merasa sedang dipandangi kemudian menatapnya balik.
Ya Tuhan, mata itu Mengapa terlihat sangat teduh?
“Tidak Taka, Aku kesepian selama ini, sebelum kau datang.” Jawab Yui memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Tiba-tiba suasana berubah serius.
“Aku juga. Aku ingin tetap seperti ini. Tahukah kamu? Aku menyukaimu.”
Kalimat terakhir yang Taka lontarkan baru saja, sukses membuat Yui terperangah. Taka mencintainya? Apakah benar adanya? Apa hanya salah dengar? Yui terbungkam, tak ada satu katapun yang mampu keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin memastikan apakah ia salah dengar atau tidak.
“Yui-san, kimi ga suki desu.”
Kalimat kedua yang bermakna sama ini meyakinkan Yui, ia benar-benar mendengarnya sebuah pernyataan cinta dari laki-laki yang ia sayangi pula, yang tak ia sangka-sangka akan ada tapi sekarang menjadi benar – benar nyata.
“Aku juga.” Jawab Yui lirih
Suara indah Yui mampu meluluhkan hati Taka, ditundukkan kepalanya, tersenyum sesudahnya, kebahagiaan yang sekarang melingkupi hatinya terpeta jelas di wajah Taka. Mungkin jawaban itu tepat adanya, jawaban yang dapat mewakili perasaan Yui sekarang, Dia benar-benar mengagumi sosok pria itu, malaikat pelindungnya selama ini.
“Arigatou.” Taka memeluk Yui erat, mereka melebur dalam suasana bahagia,
“Taka, Terima kasih telah hadir di sampingku, Aku tak tahu apa jadinya hidupku tanpamu, Aku tak tahu apakah aku masih bisa bertahan mengahadapi kondisi yang sangat kontra denganku, Aku benar-benar tidak tahu. Terima kasih telah menghentikan tangisku karena ulah teman-temanku, terima kasih telah melindungiku dari mereka. Terima kasih telah mencintaiku.” Yui berbisik tulus di telinga Taka,
“Taka, Aku mencintaimu, tolong jangan menatap mata yang lain selain mataku, tolong jangan menggenggam tangan lainnya selain tangan ini, dan tolong tetaplah bersamaku.”
“Aku janji.”
Aku mendengar janjimu Taka, Aku mendengarnya, tapi dimana dirimu sekarang?
=====[]======[]======
“karena aku akan selalu ingat permohonan kecil itu
karena ada wajah yang tersenyum
gapaikan dan ikatlah kami berdua
pada malam tanpa bintang”
Apakah aku terlalu bodoh untuk terlalu menuruti segala keinginanmu, Mungkin salahku saat kuputuskan untuk melepasmu pergi. Tapi di sisi lain, aku tak ingin melihatmu terlarut dalam kesedihan, menahan keinginan untuk meraih cita – citamu. Tidak masalah bagiku, tapi mengapa harus sejauh itu, mengapa harus di luar Jepang, Apakah Jepang tidak cukup bagimu untuk menimba ilmu?
Namun, Aku tidak akan pergi Taka, aku masih setia menunggumu di sini, karena kita pernah berjanji bersama. Ya, janji yang akan selalu kuingat, serangkaian kalimat indah yang kau ucapkan dulu, bahwa dimana pun kamu berada , sekalipun jarak itu memisahkan, kita masih bisa memandangi langit yang sama, bukan?
Jadi, tetaplah pandangi langit itu walau tanpa bintang sekalipun dan aku juga akan tetap memandanginya,
Lalu apakah kau dapat melihat sebuah wajah yang begitu merindukanmu, Taka?
Tepat pada tahun terakhir masa sekolah,
Pada Malam itu, Yui dan Taka berjalan bersama sepulang dari kursus praUjian. Mereka berhenti di sebuah gazebo yang cukup sepi malam itu, Hanya sedikit orang yang berlalu lalang di hadapan mereka, terlihat pula cahaya remang-remang terpantul dari beberapa lampu yang terpasang rapi di sepanjang jalan membuat kesunyian malam semakin terasa. Mereka duduk bedampingan, sedikit berbincang-bincang mengisi keheningan malam.
“Yui-san, coba lihat ke atas, langit itu indah sekali ya.” Ujar Taka mengawali pembicaraan.
 “Iya, tapi sayangnya malam ini tidak ada bintang, hanya ada bulan yang sendirian di atas sana.” Jawab Yui sedikit mengerucutkan bibirnya.
“Oh iya, mungkin hubungan mereka sedang tidak baik.” Ujar Taka sedikit bercanda.
“Hahaha, mungkin, jadi mereka tidak saling bertemu.” Yui sedikit terhibur di tengah pembicaraan santai tersebut.
“Tapi, karena mereka berpisah mereka tidak bisa menciptakan malam yang indah bukan? Bulan pasti akan selalu merindukan bintang.”
Yui mengamati baik-baik bulan di atas sana. Benar saja, malam ini begitu sepi kelam, mungkin bulan yang sendirian itu merasa kesepian. Jika saja bintang-bintang itu hadir bertaburan menghias langit, mereka pasti akan membuat malam yang sangat indah.
“Coba renungkan Yui, langit seluas ini tidak mungkin memisahkan mereka, bulan dan bintang pasti  akan berada pada langit yang sama. Jadi jika suatu saat kita berpisah, cukup pandangi langit bersama dan hati kita pasti akan dipertemukan kembali.”
Kata-kata yang terkesan indah dari Taka tadi tidak sebanding dengan maknanya, hal itu membuat Yui sedikit tidak nyaman ketika mendengarnya. Penggunaan kata perpisahanlah yang tidak disukainya, apa maksud semua ini? Apa Taka akan meninggalkannya?
Mereka terdiam cukup lama, hingga kemudian Yui melanjutkan pembicaraan berusaha memecah keheningan di antara mereka.
“Taka, Apa kau ada rencana melanjutkan studi di Universitas Tokyo? Aku ingin sekali ke sana, Aku ingin masuk jurusan Teknik Lingkungan, agar kelak aku bisa membangun kota yang ramah lingkungan untuk Jepang.” Ucap Yui sumringah.
“Mungkin tidak?”
“Jadi kemana? Universitas Kyoto? Nagoya?” Yui semakin penasaran dengan jawaban Taka.
“Amerika.”
Jawaban singkat dari Taka tadi membuat Yui tersentak kaget.
“Mengapa sejauh itu?” Tanya Yui lirih
“Itu cita-citaku sejak kecil, aku ingin mengenyam pendidikan di sana. Orang tuaku pun juga berharap demikian, mereka ingin aku tinggal bersama mereka kembali.”
Raut muka Yui berubah sedih, sangat sedih, Yui menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan kesedihannya malam itu. Dia tidak percaya, kata-kata perpisahan yang Taka katakan tadi akan benar-benar terjadi.
“Apakah kau akan kembali ke Jepang?” Tanya Yui yang masih tertunduk tak bersemangat.
“Aku belum tahu.” Taka menghembuskan napasnya berulang kali ke udara, sembari menahan embun-embun di matanya yang mulai berdesakan ingin keluar.
Hawa dingin yang bertiup menemani mereka seakan tidak dirasakan lagi. Keheningan yang sebenarnya melingkupi suasana malam itu seakan tertutupi oleh hati yang berkecamuk tidak karuan di antara mereka. Apakah akan berakhir seperti ini? Sebuah perpisahan yang terlalu menyakitkan untuk dirasakan.
=====[]======[]======
hari-hari yang biasa kebahagiaan yang biasa tampak bersinar
sekarang ingin kusentuh, sekali lagi aku ingin menyentuhmu
dalam kesunyian aku tetap menutup mata
5 tahun semenjak kejadian itu, Tahukah kamu Taka? Aku tidak berubah, aku masih Yui yang pendiam, sederhana, dan polos. Mungkin aku sudah sedikit bisa bergaul dengan beberapa teman di universitas. Oh ya, Tahukah kamu? Aku berhasil masuk Universitas Tokyo dengan jurusan Teknik Biologi sesuai keinginanku, Aku bersyukur sekali.
Tapi sayang, kebahagiaanku serasa tidak lengkap tanpa engkau yang harusnya mendampingiku di sini. Hei, Apa kabarmu di sana? Aku harap kau baik-baik saja. Sungguh aku begitu merindukan sosokmu.
Ingin kuteriakkan semua rasa rindu yang kini memenuhi dadaku, tetapi apakah angin mampu membawa suaraku terbang berbisik ke telingamu, Aku yakin tidak. Karena kau begitu jauh Taka, sangat jauh.
Ingin rasanya aku menyentuhmu, memelukmu erat seperti waktu itu, tapi perih rasanya saat tangan ini tak mampu berbuat demikian.
Taka, Apakah kau juga merasakan rasanya kesepian yang teramat semenjak kita berpisah, aku harap tidak, Aku harap kau bahagia di sana, aku hanya takut, kesepianmu itu yang akan mengundang sosok indah lain yang mampu memikatmu. Aku yakin, kau masih meingat janji manismu itu, janji untuk selalu bersamaku selamanya.
Tapi, pesan singkat terakhirmu meragukanku,
Flashback---
Kesendirian kini kurasakan kembali, kesepian yang menyesakkan dada itu datang lagi, walaupun aku benar-benar tak mengharapkan semua perasaan pilu itu, tapi apalah daya. Pasca kepergianmu 3 tahun yang lalu, aku masih belum sepenuhnya merelakanmu, Taka.
Kesedihan itu semakin berarti ketika tak pernah kudapati sedikitpun kabar meyangkut tentangmu, Mengapa sekejam itu. Mengapa kau tega membiarkanku terjebak dalam kecemasan dan kerinduan yang begitu nyata?
Ditutupnya kedua mata Yui sejenak, air mata ini sudah terlalu kering untuk menetes lagi dan lagi, mata ini sudah mulai bosan menangisi kepergianmu, Taka.
Bunyi ponsel yang berdering menyadarkan Yui dari kebiasaan yang selalu tenggelam dalam lamunan , tak lama setelah itu ditatapnya layar ponsel miliknya. Sebuah nomor asing tertera di sana, terbaca meninggalkan pesan singkat yang membuat Yui penasaran.
From : 3357788
“Yui-san, Sudah lama tidak berjumpa. Aku begitu merindukanmu,
Bagaimana keadaanmu? Aku harap kau baik-baik saja, Aku harap kau sudah menemukan pengganti diriku.
--Taka—“
Nama terakhir yang ia baca membuat kedua matanya terbelalak. Dibukanya lagi lebar-lebar kedua mata itu, dibacanya berulang-ulang pesan yang tiba-tiba masuk baru saja, sejenak memastikan bahwa ia tak salah baca. Apakah benar itu dari Taka?
“Lalu apa Maksudmu pengganti diriku? Hah, Apa maksudmu?” Ujar Yui, terlihat masih mengotak-atik ponsel miliknya, Diletakkan ponsel itu ditelinganya, sepertinya dia sedang mencoba menghubungi seseorang yang sangat penting.
“Moshii Moshi..?”  Suara wanita yang sangat asing di seberang sana terdengar lembut di telinga Yui, walaupun demikian ia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran suara itu.
Siapa dia?
Yui terdiam cukup lama, pikirannya masih sibuk mencerna maksud semua ini. Tapi ia tak kunjung menemukan jawabannya, hingga kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Bukankah ini ponsel Taka, siapa anda?” Ujar Yui terbata-bata.
“Oh, benar ini milik Taka, dia sedang sarapan sekarang, dan saya calon tunangannya.”
Jantung Yui serasa berhenti, tubuhnya kebas tak mampu bergerak. Kalimat yang masuk di dalam telinganya baru saja membuat keadaannya semakin terpuruk. Apa benar? Apakah ini mimpi? Apa hanya rekayasa darimu, Taka. Tapi ini sama sekali tidak lucu.
Hingga kemudian terdengar lagi suasana ribut di seberang sana, sepertinya seseorang laki-laki sedang bergabung dalam percakapan mereka.
“Yui-san.”
Suara itu, Suara sumbang yang sangat diharapkan Yui. Suara yang dapat mengobati kerinduan Yui selama ini.
Yui mencoba membuka mulutnya yang masih terkatup
“Taka, Apakah ini kamu?” Ujar Yui dengan penuh harap.
“Yui-san, maafkan aku.”
Suara di seberang sana terlihat sangat lemah, seperti bukan Taka yang dulu dikenalnya, Taka yang selalu ceria. Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Taka, Aku harap kau menjelaskan ucapan wanita tadi.” Suara Yui terdengar sangat lirih, bahkan nyaris tak terdengar
“Iya, Dia calon tunanganku. Orang tua kamilah yang menjodohkan kami. Maafkan aku Yui,”
Mulut Yui terbungkam tak bergerak.
Tidak, Bukan itu yang ingin Yui dengar, bukan sebuah kata maaf. Melainkan ungkapan cinta dan rindu darinya, dari seorang Taka yang teramat ia rindukan bertahun-tahun, yang ia harapkan kedatangannya selama ini, yang selalu membuatnya menangis setiap kali teringat wajahnya.
Tapi kali ini nada bicara yang sangat pelan dari Taka membuatnya banyak kehilangan harapan. Jadi dia sudah memiliki pengganti lain? Jadi, dia mengingkari semua janjinya dulu? Mengapa jadi seperti ini? Seharusnya percakapan yang sangat ia dinantikannya bertahun-tahun ini berjalan membahagiakan, tapi fakta menyakitkan lah yang ternyata menggantikannya.
“Aku harap kau melupakanku, Yui.”
“Kau ini kenapa? Tidak semudah itu Taka, bukankah kau sendiri yang menginginkanku untuk selalu menjaga ikatan ini?” Jawab Yui, setetes embun jatuh perlahan mengalir di pipinya.
“Aku pun tak mengharapkannya, Aku juga lemah tak berdaya, Aku tak bisa menolak begitu saja permintaan keluargaku. Aku ingin kehidupanmu berlanjut tanpaku, Yui. Aku mohon,”
“Maaf, Aku tidak bisa.”
Tak terasa Ponsel di genggamannya terjatuh dengan sendirinya. Tetes demi tetes embun mengalir bersama isakan tangis yang terdengar sesenggukan, perih sekali.
“Mengapa semudah ini kau melupakan semuanya, Taka?” Ucap Yui sedikit berteriak dilemparkan ponsel miliknya jauh dari posisi duduknya saat itu, ditenggelamkan wajahnya di atas lutut yang ia tekuk,  Ia tak peduli apakah orang-orang akan menganggapnya gila saat itu, Ia tak peduli lagi ketika kesan pendiamnya mulai luntur akibat kelakuannya baru saja. Ia hanya ingin mencurahkan segala kekesalan, kecemasan, dan kerinduan yang selama ini hanya bisa dipendamnya sendirian, ingin sekali ia menangis sekeras-kerasnya, jika saja hal itu dapat melegakannya. Tetapi sayang, dia tak bisa, sebanyak apapun air mata yang akan menetes, tidak membuat Taka kembali bukan? Ia tetap berada jauh di sana bukan?
suara dan wajah yang tersenyum lembut itu saling memanggil
meski sudah tak bisa lagi…
Kutatap sebuah foto yang terpampang jelas menggambarkan dirimu yang sedang merangkulku saat itu. Di bawah sini, tepat di bawah langit tanpa bintang. Aku masih ingat akan suara kita yang saling memanggil, Aku juga masih ingat akan senyum manismu yang selalu menenangkan jiwaku setiap keresahan itu muncul, aku sangat mengingatnya. Tuhan, Mengapa perpisahan selalu hadir di sela kebersamaan yang telah terjalin indah? Adakah hari di mana semua kenangan indah masa lalu itu terulang? Aku harap demikian.
Tapi, Keraguanku tumbuh lebih besar dibanding semua harapan itu. Keraguan akibat pernyataan paling menyakitkan yang aku dengar dari mulutmu. Apakah kau bisa merasakan kepedihan yang teramat ketika mendengar suara wanita lain sedang mendampingimu? Apakah kau juga merasakan sakit hati yang begitu dalam ketika mendengar suara tangis yang terdengar lemah meratapi kepergianmu?  Aku harap iya, Aku harap kau pun juga terpaksa menikahinya, sama sepertiku, yang kini juga terpaksa harus meninggalkanmu demi dia. Tapi, Kenapa bukan aku? Kenapa?
Aku masih sendiri, Ya, apakah kamu percaya Taka? Selama 5 tahun ini, aku masih menyimpan semua janji-janji itu dibenakku, berharap kau masih berniat menepatinya suatu saat nanti, sama sepertiku yang masih setia mengingatnya sampai kapanpun. Kau lah yang pertama mencuri hatiku, Aku ingin kau jugalah yang akan mengakhirinya dengan perasaan yang sama. Tapi sayang, semua harapan itu hanya tabu belaka. Aku yang begitu mempercayaimu, kini kau khianati begitu saja.
Taka, apakah kau juga sedang memandang langit? Kau lihat tidak? Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, bintang masih segan menampakkan sinarnya, mungkin karena bintang yang paling terang sedang tidak berada di sini. Apakah kau juga menemui bulan yang tergantung  sendirian, terlihat lesu mengiri malam-malam yang selalu kelam. Walau demikian, sebersit harapan itu masih ada. Harapan akan hadirnya dirimu menemuiku, bersama janji-janji indah yang kau bawa, meski aku tak tahu kapan harapan itu akan terwujud. Meski raga ini mulai melemah, hati ini mulai lelah bahkan sampai mata ini mulai tertutup di sepanjang penantian dalam kesunyian malam,
 Taka, Hari ini dan seterusnya, aku akan tetap menunggumu di sini, di bawah langit tanpa bintang.
Owari

[Cerpen] Kekaguman dalam Hujan


             Tiap derai air hujan yang menetes di bumi selalu menyisakan sebuah kenangan tentangnya. Tentang seseorang yang aku kagumi, sebatas kekaguman yang entah mengapa akhir-akhir ini tumbuh lebih besar dari kekaguman semata,
“Hai.” Seseorang menepuk pundakku tiba-tiba dan sontak membuatku terbangun dari lamunanku baru saja.
“Wati, Kau ini selalu mengaggetkan?” Ujarku kesal saat mendapat sosok Wati sudah tertawa kegirangan di belakangku karena telah berhasil mengejutkanku.
“Kau sedang melihat siapa sih?” Wati memposisikan duduknya tepat di sampingku, sepertinya di penasaran dengan aktivitasku saat itu, berada di perpustakaan sendirian tanpa satupun buku di depannya.
“Tidak, aku hanya mengamati pemandangan dari sini. Sambil melihat kakak-kakak tingkat bertanding futsal.” Ujarku mencoba melenyapkan kecurigaan Wati.
“Hah? Kakak Tingkat? Oh, ternyata ada Mas Sakti.” Ucap Wati setelah ikut-ikutan melihat kakak tingkat yang sedang bertanding futsal di balik kaca jendela transparan itu.
“Ih, apaan sih?” Ujarku kembali berusaha mengelak tebakan dari Wati, walau dari hatiku yang terdalam telah mengiyakannya.
Mataku melanjutkan pandangan ke luar sana bersama sahabatku, Wati. Melihat dirinya yang sedang menggiring bola dengan ligainya, walau hujan tak henti membasahi sekujur tubuhnya. Entah mengapa hujan selalu menjadi jembatan hadirnya sosok itu untukku? Seakan tiap rintik hujan yang terdengar menandakan keberadaannya untuk kulihat. Tapi aku bersyukur mengenai hal itu.
“Ngomong-ngomong, bukannya kak Sakti itu pendampingmu di pertandingan tenis meja ya, Vin?” Ujar Wati memulai pembicaraan kembali.
“Iya sih, tapi itu menjadi masalah untukku.” Jawabku sembari menyangga daguku tanpa berhenti mengamati sosok kak Sakti yang sedang bermain di tengah lapangan. Dua minggu ini kami memang menjadi panitia dari berlangsungnya event tahunan berupa lomba dengan berbagai macam pertandingan di kampus dan setiap penanggung jawab lomba memiliki pendamping dari kakak tingkat. Dan sebuah kebetulan sekali saat aku mendapati Kak Sakti menjadi pendampingku, entahlah aku tidak tahu saat harus merasa senang atau sedih.
“Loh? Kok gitu?” Tanyanya heran
“Ya, karena aku selalu gugup ketika ketemu kak Sakti. Tau nggak? Butuh beribu-ribu kali pemikiran bagiku untuk menanyakan masalah pertandingan kepadanya. Bukankah itu masalah yang teramat?” Ujarku mencoba jujur kepada Wati.
“Ckckck, sepertinya kamu terlalu berlebihan deh. Kan cuma sama kakak tingkat?” Respon wati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya penuh keheranan.
“Mungkin hal itu biasa menurutmu, Wati. Tapi tidak untukku.”
Berhentinya hujan menutup perbincangan kami pagi itu, begitu pun dengannya, tanpa di sangka sosok itu pun telah pergi dari hadapanku, tepat saat awan-awan mendung itu mulai membiarkan cahaya matahari kembali menampakkan sinarnya.
----
Event tahunan di kampus itu pun tiba. Kesibukan demi kesibukan mulai menghampiri ku di sela-sela kewajibanku untuk belajar di kampus. Ya, sebuah proses peralihan menuju perbaikan diri yang menurutku sangat di perlukan. Takut, gugup, cemas menjadi hal biasa bagi kami, karena setiap orang yang memasuki tahap baru dalam kehidupan pasti merasakan hal yang sama, tetapi semua itu dibalas setimpal dengan pengalaman yang amat berharga.
Dari event ini lah, kami menjadi sering berinteraksi, seorang Vina tanpa keistimewaan dalam dirinya disandingkan dengan kak Satya yang sudah pasti semua orang tau tentangnya, kebaikan hatinya, keramahan, dan mungkin mayoritas wanita menganggapnya tampan, aku pun berpikir seperti itu. Tapi bukan itu yang menjadi faktor utama munculnya kekaguman ini, melainkan dari beningnya sepotong hati itu.
Hari ini, mau tidak mau aku harus bertemu kak Sakti. Aku harus memintanya untuk menjadi wasit di pertandingan pertama nanti. Tapi, tidak semudah itu, kak Sakti memang orang yang sulit dicari. Dan situasi menjadi semakin buruk saat pesan singkatku tidak kunjung dibalas olehnya.
Hingga kemudian, di waktu yang sama pula, Tuhan memberikan jalan keluar yang sangat tepat. Terlihat sosok Kak Sakti dari kejauhan. Tentu hal ini membuatku lega namun tidak untuk hatiku yang mulai berdegup kencang, Ah, mengapa harus hadir pada saat seperti ini? Sungguh berat saat harus memutuskan untuk menghampirinya, namun keadaanlah yang memaksaku melakukan hal yang menjadi kelemahanku ini.
“Kak Sakti.” Sapaku sembari berusaha mendekatinya dari belakang.
“Iya?” Ujarnya kemudian menolehkan wajahnya ke arahku, rasanya tidak percaya saat menemui wajah itu menatapku secara langsung. Tapi ini bukan saatnya untuk menghayalkannya lagi. Aku pun segera mengutarakan maksud kedatanganku.
“Kak, nanti bisa jadi wasit tenis meja pukul 16.00?” Aku mencoba bersikap biasa, walaupun jantungku masih sulit dikontrol agar berhenti berdegup tanpa aturan.
“InsyaALLAH bisa dek.” Balasnya sembari menyunggingkan sebuah senyum. Senyum yang sanagat menenangkan hatiku saat itu.
Kamipun berpisah, sampai jumpa di pertandingan nanti kak.
Pertandingan demi pertandingan dimulai dengan dominasi kak Sakti sebagai wasit. Ada saatnya kekagumanku terhadapnya memuncak saat dengan sabarnya dia membimbingku tanpa ada rasa kesal sedikitpun. Selain itu, Kak Sakti juga menjadi pemain tenis meja yang sangat mumpuni. Aku melihat sendiri bagaimana dia bermain dengan sigap dan lincah. Bukankah itu keren?
Tapi tidak semua pertandingan berjalan  mulus, ada suatu waktu aku mengecewakannya. Ya, hal itu disebabkan terdapat sedikit kesalahan dalam komunikasi antar pemain tenis meja yang menyebabkan salah satu pemain harus di dropout karena pelanggaran. Aku melihat jelas ekspresi kekecewaan itu dari wajah kak Sakti, pantas saja karena pada waktu yang sama, kak Sakti lah yang akan bertanding.
“Kalau menangnya dari dropout itu nggak puas, dek.” Ujarnya kepadaku. Untuk pertama kalinya percakapan dengan kak Sakti berlangsung tegang dan cukup menyesakkan. Sebagai adik tingkat, rasanya aku sudah mengecewakan kak Sakti hingga tak sanggup kulontarkan kata maaf yang masih terpendam dalam dada. Serumpun embun mulai berkumpul memenuhi pelupuk mataku, rasanya ingin kuutarakan semuanya kepada kak Sakti saat itu, penyesalan, maaf, dan perasaan ini, tapi nyatanya aku tak mampu. Satu bulir berhasil jatuh membasahi pipiku bersama sekeping hati yang tak henti-hentinya meluapkan sebuah penyesalan yang teramat.
---
Kucoba untuk melupakan semua kepedihan hati saat itu. Sunggingan senyum kembali terpeta di wajahku setiap kali berjumpa dengannya. Hingga saatnya kami dipertemukan bersama hujan di suatu senja. Suatu senja yang mungkin tak akan kulupakan seumur hidupku, saat benar-benar aku dan kak Sakti saling berbincang berdua, ya hanya berdua tanpa peserta pertandingan ataupun panitia lain seperti hari biasa.
Di tengah rintik hujan yang jatuh beriringan di atas atap, kami bercakap-cakap dengan suasana santai. Kebetulan saat itu kami bertemu di sebuah parkiran sepeda, dan dengan niat yang sama untuk mengambil sepeda pula. Sebuah kelegaan menyelimuti ragaku saat ketegangan itu telah pudar dan tergantikan oleh tawa ringan di antara kami berdua. Ketika kami saling menanyakan, tempat tinggal, asal, sekolah, dan hal lainnya dengan sedikit candaan yang membuatku ingin menangis. Namun tangisku ini tidak menggambarkan sebuah kesedihan, melainkan sebuah rasa haru yang begitu besar. Mungkin baginya hal ini adalah percakapan yang biasa saja, tapi tidak untukku, tidak menjadi hal biasa saat aku bisa dengan leluasa menatap mata sendu yang selalu menenangkan itu, tidak untuk keramahan dan senyumnya yang selalu menyejukkan hati ini. 
Yaa, aku merindukan percakapan singkat di senja kemarin. Sebuah percakapan yang belum terulang semenjak saat itu, walau aku begitu ingin mengulangnya. Hari demi hari berlalu, event tahunan itu pun akhirnya berakhir. Entah aku harus merasa sedih atau bahagia? Tapi akan ada sosok yang akan kurindukan, sosok yang mengugah kekaguman dalam diriku, sosok yang menginspirasi, dan menyenangkan untukku.
Aku menyeruput teh hangat di sebuah gazebo bersama teman-temanku, sekedar menghangatkan tubuh akibat hujan yang cukup deras saat itu. Dibalik rintik hujan yang menyapa suatu senja, terlihat sosok istimewa yang sedang memainkan gitarnya, bernyanyi bersama rintik hujan yang terdengar berirama. Lagi-lagi hujan mempertemukan kita berdua, lagi-lagi ada sepasang mata yang tak bosan-bosan menatapmu di balik gemuruh hujan. Yaa, aku harap keadaan ini akan terus berlanjut hingga nanti, hingga mata di seberang sana pun menyadari sosok ini, dan membalasnya dengan tatapan yang sama. Waktu berjalan begitu cepat saat kutemui hujan turun semakin deras dan perlahan memudarkan sosokmu dari penglihatanku. Kupejamkan mata ini bersama sebuah doa dan harapan yang terus terpanjatkan seiring tetes demi tetes keberkahan hujan.
--TAMAT—

[Cerpen] Ibuku Surgaku


Tak ada kata yang benar-benar konkret yang pantas untuk menggambarkan sosok Ibu di kehidupanku. Karena kemurnian kasih sayangnya lah tak bosan hadir mengisi lika-liku kehidupanku hingga saat ini, bak sebuah surga di dunia.
Ibuku, 18 tahun yang lalu, menjadi sosok penting dibalik lahirnya seorang bayi mungil di dunia ini.  Beliaulah yang berjuang mengurus dan merawat bayi itu sepenuh hati.
Dan hari demi hari itu berlalu. Bayi yang semula hanya bisa menangis dan tertawa itu telah tumbuh menjadi seorang anak yang menggemaskan dengan kelucuan yang terpancar dari wajahnya. Hal itu pun tak lepas dari peran beliau selama ini.
Namun , apa yang bisa aku persembahkan untuknya?
Tidak ada –
Hari berganti minggu hingga bulan dan tahun, masa sekolah mulai kutapaki. Aku masih ingat saat dengan sabarnya Ibu mengantarku ke sekolah dan menjemputku sepulangnya. Namun masa-masa indah dan canda tawa sepanjang perjalanan itu terkadang kunodai dengan sikap burukku.
Pernah suatu hari, aku melupakannya, berjam-jam ibuku menunggu kepulanganku namun aku tak kunjung keluar. Aku ingat betapa kecewanya raut muka ibuku, rasa bersalah jelas terpendam di hatiku, namun aku tak sanggup mengungkapkannya, bahkan tak ada kata maaf yang terucap, bodohnya hal ini tak hanya berlangsung satu kali. Aku menyesal, mengapa aku harus mengedepankan sebuah ego sesaat?
Tidak hanya itu, aku masih ingat masa-masa SMA yang harusnya aliran prestasi memenuhi perjalananku di sana. Namun apa daya, aku terlalu pesimis. Hingga akhirnya penyesalan itu datang di penghujung waktu. Mengapa aku tidak mencobanya terlebih dahulu? Aku sedih, saat tidak bisa membanggakannya dengan prestasi seperti yang berhasil diraih oleh teman-temanku yang lain.
Entahlah, anak macam apa aku ini?
Namun tidak seluruhnya kehidupanku bersama beliau diwarnai dengan kesalahan-kesalahan yang sama. Dibalik semua kegagalanku itu, aku bukanlah tipe anak yang tidak bertanggung jawab mengenai karierku di sekolah, tapi mungkin aku tidak seberuntung mereka. Aku pun selalu memperbaiki diri demi beliau dan rela berkorban deminya.
Hingga saat jenjang kuliah akan kutapaki, aku pun mulai memutuskan sebuah pilihan yang amat berat dimana ketika cita-citaku bertentangan dengan keinginan mereka. Cita-cita yang sedikit lagi akan terwujud namun harus rela ku buang – buang jauh-jauh, tapi aku harap itu hanyalah sebuah penundaan. Aku memutuskan untuk meneruskan pendidikan di sebuah Universitas Negeri yang sebelumnya bukan menjadi pilihanku. Namun aku berpikir, pada saat itulah aku harus membalas semua kesalahan masa laluku. Aku sadar, ada saatnya aku harus berkorban demi melihat beliau menyunggingkan sebuah senyum kepuasaan, meski hati ini tidak selaras dengan senyum itu, tapi itu sudah cukup untukku.
Ridho Allah terletak pada Ridho orang tua. Ternyata perkiraanku salah, aku bersyukur berada pada titik ini, sebuah keadaan dimana aku bisa melebur dalam sebuah lingkungan pendidikan yang sangat luar biasa.
Sampai saat ini pun, ibu juga tak berubah. Beliau tetap menjadi ibu dengan sejuta kasih sayang dan pengorbanan untuk anak-anaknya. Darinya aku belajar banyak hal dan Ibulah yang akan menjadi inspirasi terbesar untukku, ketika sosok ibu itu akan kusandang di kemudian hari. Tak peduli apapun keadaan ibu saat ini, aku akan tetap menyayanginya. Terima kasih untuk segalanya, Ibu.
Sukoharjo, 27 Desember 2014. Kupersembahkan curahan hati ini lewat tulisan (Cermin) sederhana untuk Ibuku tercinta,