Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Sabtu, 06 Juni 2015

[Cerpen] Hujan Senja


Daririntik ini, Apakah kau bisa melihat wajah yang begitu merindukanmu
Daritetes ini, Apakah terbesit sedikit saja bayangan wajahku dalam pikirmu
Dariembun ini, Apakah namaku pernah singgah dalam ingatanmu?
Apakahkau pernah bertanya pada senja, siapa yang benar-benar hadir untukmu?

}={}={}={}={}={

Lagi-lagihujan turun menemaniku menghirup aroma senja, tepat ketika kudengarkan laguciptaanmu, lagu tentang hujan dan senja yang begitu sarat akan makna. Dalamlagumu, suara itu kudengar begitu lembut dan merdu. Aku memang mengaggumiindahnya suara tersebut, begitupun dengan mereka, fans-fans wanita setiamu itu.Iya kan?

Kulepasearphone yang sudah 5 menit menempel di rongga telingaku. Aku cukup puas denganlantunan lagu ciptaanmu ini. Kata demi kata yang terangkai pada sebuah lirikitu selalu terngingang di kepalaku. Hanya itu yang bisa kulakukan karena akuhanya bisa mendengar suaramu yang berada jauh di sana, yang pasti tidak kausadari. Tapi mengapa aku tetap bertahan seperti ini, bertahan menunggukepastian yang sangat mustahil untuk terwujud.

“Yukimi,Bukankah itu Kai-senpai?”

Suarariang itu kudengar, sontak mataku melihat sosok yang menjadi sumber lamunankubaru saja. Kai Yutaka, pemuda yang membuatku terkagum-kagum itu kini berlarian menghindarihujan sembari menangkupkan kedua telapak tangan di atas kepalanya, berusahamenghindari air hujan yang terus menerus menetes.

“Hah?Dia mendekati kita?”
Ya,wajah itu semakin jelas kulihat seiring langkahnya yang mulai mendekati gazebotempat kami berteduh.

“Gomen,Boleh aku berteduh di sini?”

Tepatsekali. Wajah itu sedang menatapku, raga yang basah kuyup itu kini berdiri dihadapanku. Aku terdiam, masih tidak percaya bisa berjumpa dengannya sedekatini. Dan kini, dia duduk tepat di sampingku

“Ah,andai saja, aku memiliki payung. Aku harus segera berlatih band.”

Mulutitu terus bergumam. Walaupun sampai saat ini, tak satupun kalimatnya kurespon.Hati ini semakin membeku seiring kenyataan yang berjalan begitu indah.Kenyataan bersama Kai-senpai. Untuk pertama kalinya, kutolehkan wajahku kearahnya. Oh Tuhan, aku menatapnya. Kugerakkan payung dalam genggaman tangankuke arahnya,

“Inipakailah.”

Untukwaktu yang lama, aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum puas menyambutpayungku. Senyum yang begitu menghangatkan untuk mengobati kerinduankukepadanya.

Ucapanterima kasih itu begitu tulus ku dengar setelah ku lihat raganya begitucepat  menerobos hujan. Mungkin untukhari ini, harus kubiarkan ragaku menggantikannya basah kuyup. Sebuah pengorbananakan dimulai.

}={}={}={}={}={


Haridemi hari semenjak kejadian hujan itu, kami semakin dekat. Tak jarang, akumenjumpai wajah ramahnya menyapaku, meski hanya ku balas dengan senyuman kecil.Karena aku harus menahan diriku, menyembunyikan perasaan tanpa seseorangpunyang tahu.

“Janganlupa, hari ini aku tampil lho.”

Undanganyang langsung ku sambut antusias, saat kuketahui kau dan bandmu akan tampil dipensi hari ini. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh-jauh hari. Hari ini punaku berniat memberikannya sebuah coklat beserta sebuah surat yang terselip didalamnya. Surat tentang sebuah rasa. Rasa yang kupendam begitu lama.

Lagi-lagi,lagu tentang hujan senja dan suara merdumu berkolaborasi apik di panggung pagiitu.  Ramai, riuh, dan semangat memenuhiruangan dengan dominasi gadis-gadis belia. Mereka mengapresiasi aksi panggungmuyang memukau, begitu pun denganku.

Namunkebahagiaanku tidak berlangsung lama. Saat ku melihat seorang wanita berlari kearahmu, memberikan balon merah berbentuk cinta. Untuk sesaat rasa sesakmemenuhi dadaku.

Danapa yang kulihat setelahnya? Kau menerimanya. Tepat di hadapanku, masih jelasteringat senyum yang dulu kau berikan saat menyambut payungku, kini kau ulaskanuntuk gadis lain. Tepat  sekejapsetelahnya, seisi ruangan memberikan sorak sorai bahagia saat mendapatitanganmu meraih tangannya mesra.

Kutundukkanwajahku, tak mampu melihat mereka kembali. Aku menatap coklat di tanganku. Sepertinyaaku terlambat. Segera kumasukkan bingkisan itu ke dalam tasku.

Putusasa.

Ya,Aku sadar ruangan ini terlalu ramai untuk mengharap Kai dapat melihatku. Mungkinaku harus segera sadar, mana mungkin dia menerima sosok gadis biasa sepertiku.Sosok biasa yang mengagumi seseorang yang semua orang tahu tentangnya. Tapimengapa rasa ini tidak luntur sedikitpun? 

}={}={}={}={}={

Hinggasuatu ketika, aku melihatmu berada di bawah pohon pada suatu senja, sendirian.Aku tidak berniat menghampirimu waktu itu, tapi sapaan ramahmu kembalikudengar. Aku mendekat, tepat saat senyuman itu menyambutku.

Diatidak sendiri.

Yaa,aku tercekat, saat gadis cantik itu keluar dari sebuah kelas danmenghampirinya. Gadis yang sebelumnya kulihat memberikan balon berbentuk cintauntuk Kai. Apa maksud semua ini?

“Yukimi-san,kenalkan dia kekasihku.”

Ya,aku tahu, Kai. Tolong jangan ucapkan lagi. Mengapa harus aku yang mengetahuifakta bahwa dia kekasihmu? Harusnya kau beritahu kabar bahagia itu kepada oranglain. Bukan untukku, karena kabar itu hanya akan menjadi kabar buruk untukkudengar. Kujulurkan tanganku meraih tangan gadis itu. Dia tersenyum, senyumyang sangat cantik. Pantas saja Kai tertarik, bahkan senyum itu mampumeluluhkan hatiku sebagai wanita. Kupaksakan wajahku menarik kedua sudutbibirku untuk tersenyum, walaupun sebenarnya berat sekali untuk kuulas. Aku tidak tahu harus berbuat apaketika memandannya. Rasanya, ingin segera pergi dari tempat itu.

Sesak.Itulah perasaan yang masih tertimbun di dadaku. Kuletakkan kedua tanganku didada. Aku takut, aku tidak bisa menahan rasa yang telah lama kusembunyikan inisaat melihat kedekatan kalian.
Tolongberakhirlah…

}={}={}={}={}={

Tolongberakhirlah? Apakah aku berdoa saat itu? Seingatku aku hanya berharap luka initidak merembes semakin luas melumuri penuh seisi ruang hatiku. Aku tidakmenyangka saat kutemui fakta bahwa kalian berakhir? Apakah itu benar?

Akusangat ingat, seminggu setelah itu. Kau duduk di bawah pohon yang sama, dibawah hujan dan langit senja yang begitu tenang. Aku tidak melihat wajah ramahyang selalu menghangatkan itu. Aku juga tak mendengar sapaan yang biasa kauberikan untuk menyambutku. Untuk kali pertama, aku menghampirimu tanpa dorongansiapapun.

Kaumenangis?

Apabenar?

Tolong,berhentilah menangis. Rasanya sakit sekali saat melihat air mata itu membasahipipi tirusmu. Apakah dia terlalu berharga untukmu, Kai? Sampai-sampai, wajahmuberubah lusuh dan pucat seperti ini, jauh sekali dari Kai yang kukenal. Apakahlukamu begitu besar saat kehilangan dia? Rasanya ingin kuteriakkan segalaperasaan yang sudah menyesakkan dada ini kepadanya. Segala perasaan dan lukayang lebih besar dari apapun, bahkan jauh lebih besar dari luka kehilanganmu, Kai.

Kuseka air mata itu. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihatnya bahagia. Yaa,tepat sekali. Saat tak kujumpai sedetikpun wajah itu menoleh ke arahku, walautangan ini tak berhenti menyeka air matamu. Akankah kau sadar Kai? 

}={}={}={}={}={

Sudahkuputuskan untuk mengakhiri semuanya, termasuk kekaguman semu, yang benar-benarsemu ini. Aku sangat sadar, bahwa hati ini tak selayaknya mengagumi seseorangsesempurna dan sebaik dirimu. Aku ingin menyudahi semuanya. Menyudahi semuaharapan dan khayalan-kahayalan tabu tentangmu. Kupandang langit senja dengantetesan  hujan di atas sana, tepat saatearphone ku mengalunkan sebuah lagu hujan dan senja miliknmu.

Apakahkau sempat bertanya pada hujan senja? Tentang seseorang yang begitu mengaggumimu lebih dari kekaguman pada indahnya insane semata.

Apakah sekali saja kau pernah bertanya pada hujansenja yang telah menemani dan mempertemukanmu dengannya? Dengan seseorang yangbegitu tulus menjaga hatinya untukmu.

Akuyakin tidak. Aku yakin kau tidak pernah bertanya dan merasakan aroma hujan senjawalau sedetikpun.

Kuberanjak dari tempat dudukku, berniat mengambil jalan pulang. Membiarkan hujansenja kali ini membasahi tubuhku untuk yang terkakhir kalinya. Hujan senja yangtidak akan kurasakan lagi seiring lunturnya rasaku untuknya.

TAMAT

Selasa, 02 Juni 2015

Kokoro No Placard (Papan Penanda Isi Hati)



Lihat kesini sebentar saja
Ayo sadarlah pada keberadaanku
Lihat kesini lima detik pun
Lihatlah diriku yang didekatmu

Tetapi sebenarnya
Walau mata bertemu
Sebentar dan tidak sempat
Mengucapkan apapun



Ini ceritanya lagi dengerin lagunya JKT48 yang kokoro no placard. Ternyata lagunya easy listening sekali ya. Kalau didengar lama-lama, ada makna yang tersembunyi di balik lagu tersebut. Kalau sepenangkapku lagu itu ditujukan untuk orang yang sulit mengungkapkan perasannya, ya seperti aku ini hehe. Karena hampir setiap hari mendengar lagu itu, Aku pun tergerak untuk membuat papan penanda isi hatiku versiku sendiri. Eciyee. Ini dia!!

Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti, perasaanku

Jika disini aku tulis
Aku suka pada dirimu
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta


 



 







Apa yang kalian pikirkan setelah melihat papan kertas milikku tersebut. Aku sengaja memotretnya waktu senja, dan itupun juga mencuri-curi waktu sepulang kuliah. Entah mengapa senang sekali bisa menuliskan hal ini. Mungkin karena aku tidak pintar mengungkapkan perasaan, jadi aku hanya mampu menuliskan saja. Jadi gini, tulisan pada foto ini didedikasikan penuh untuk keluarga, sahabat, teman, dan inspirasiku sepenuhnya. Mengapa? Karena mereka sangat berharga untukku, merekalah yang telah menerimaku dan menghiburku ketika keterpurukan itu datang. Rasanya itu ya, aku ingin peluk satu per satu teman-teman, kakak-kakak tingkat, dan keluargaku kemudian meneriakkan beribu terima kasih kepada mereka atas segala penerimaan selama ini. Namun sayang hatiku terlalu lemah untuk berbuat demikian, maaf yaa. Tapi jujur, aku sayang kalian :’)

Give me a chance, Sekali saja
Berdoa sendirian sambil menunggu
Give me a chance, Kebetulan pun
Ayolah kau menengok kearahku

Harus beranikan diri
Lalu mulai menyapa
Meski mudah diucapkan
Sulit tuk dilakukan

Papan penanda isi hati
Masukkan tangan dari mulut
Ganjalan hatiku ayo ambillah

Aku suka pada dirimu
Jikalau itu ku sampaikan
Walau tidak dijawab
Walau tampak kesulitan
Bisa jadi hepi

 












Nah untuk foto yang ini, emm, kayaknya tidak terlalu berbeda dengan foto yang sebelumnya. Tapi ada tulisan yang berbeda di bagian akhir dan apakah itu? Keep shining, good bye. Haha. Sebenarnya itu ungkapan patah hatiku kemarin. Ada seorang inspirasiku yang mulai menjauh nih, semenjak dia suka sama seseorang . Sebenarnya aku kecewa, mengapa? Karena aku jadi canggung sama orang yang dia suka begitupun dengannya. Eh, eh jangan salah paham. Sama sekali aku tidak cemburu, aku hanya ingin menjalin hubungan pertemanan lagi dengan inspirasi dan dia(pasangan inspirasi), tidak lebih. Rasanya itu, kisah-kisah sinetron itu muncul di dunia nyata lho, dan aku jadi tokoh ketiga diantara mereka berdua. Lucu sebenarnya. Sempat khawatir juga ketika melihat teman-temannya jadi nggak enak sama aku, padahal aku tidak seperti yang mereka pikirkan. Jadi, tidak usah mempedulikan perasaanku ya, kan aku sudah bilang selama ini aku hanya mengagguminya dan menghormatinya. Tolong jangan membuat jarak denganku, bukankah kita teman? Tapi karena inspirasi itu orang yang baik, aku harap dia bisa menjaganya,


Semua orang menyimpan
Kata-kata yang penting
Jauh di suatu tempat
Didalam lubuk hati



 
Dan ini ungkapan terakhirku. Target impianku, tau tidak? Untuk menulis ini butuh keberanian dan mental yang kuat. Karena apa? Karena tahun 2016 itu tidak lama dan aku belum menyiapkan apapun. Tapi mengapa aku begitu berani dan yakin? karena sebelum aku memutuskan untuk memasang impian ke jepang di kertas penanda isi hatiku ini, aku bertemu dengan sosok kalem penuh inspirasi yang selalu memberi motivasi bagi semua mahasiswa untuk berani bermimpi dan kelak Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Jadi, kuberanikan diri untuk memasangnya dan memposting di facebook. Tahu tidak? Sebelumnya aku tidak pernah mempublikasikan impianku ke khalayak ramai, dan tanpa kuduga ternyata banyak sekali yang merespon. Bukannya senang, malah ada perasaan mengganjal dalam hatiku sampai sekarang. Apakah aku bisa? Tapi setidaknya aku ingin memulai cara baru dalam mewujudkan impianku, dengan begitu ada tanggung jawab dalam diri ini untuk tidak bermalas-malasan lagi dalam belajar. Yoshh. I will do my best

Nah itulah kertas penanda isi hatiku. Sebuah cara bagi manusia tertutup seperti ku dalam mengungkapkan perasaan hehe. Walaupun kekanak-kanakan, yang penting happy kan? Terimakasih telah menyempatkan memabaca. See you to the next post J

Papan penanda isi hati
Padahal jika kau melihat
Pasti akan mengerti, perasaanku

Jika disini aku tulis
Aku suka pada dirimu
Walau dada berdebar
Walaupun berkeringat
Bisa ungkapkan cinta

Papan penanda isi hati
Hey, Cobalah kau keluarkan
Apa yang kau pikirkan
Terus teranglah

Jika tak bisa diucapkan
Cukuplah dituliskan saja
Yang ingin disampaikan
Yang ingin diucapkan
Sadarilah tandaku



#‎NulisRandom2015

Sabtu, 23 Mei 2015

[Cerpen] Wo Ai Ni ALLAH



Suara bacaan Al quran itu kembali kudengar, entah mengapa aku sangat menyukainya. Aku pun bertanya-tanya, sebagai keturunan atheis, aku tidak diperkenalkan dengan adanya Tuhan dalam keluargaku. Namun, mengapa aku sangat nyaman mendengar lantunan Alquran tersebut?
“Hui Lan, maaf telah membuatmu menunggu.”Aku menengokkan wajahku ke belakang tepat ketika sahabatku itu mendekatiku.
 “Tidak, kok!” Jawabku tenang
“Oke. Makasih ya, sudah menemaniku sholat.”Ujarnya tersenyum
 “Nanti aku ajak ke toko buku mau tidak?”
“Boleh.” Jawab Cindy dengan ekspresi ceria seperti biasanya. Yang membuatku kagum adalah ketekunannya untuk selalu membaca kitab Alquran di setiap kesempatan. Aku tidak merasa terganggu, malah membuatku semakin ingin mendekatinya. Entah mengapa hati ini selalu luluh saaat bacaan-bacaan itu mengalir indah di telingaku. Mungkinkah?
Sesuai ajakanku tadi, aku dan Cindy langsung bergegas menuju toko buku terdekat sepulang kuliah. Pandanganku langsung menangkap satu persatu buku yang berjajar rapi di rak buku. Begitu pun dengan cindy yang masih sibuk mengamati novel-novel terbaru di sudut ruangan yang lain.
“Mengapa susah sekali mencari buku Psikologi Lingkungan di sini?”Ujarku sedikit berdehem.
Aku sudah hampir menyerah dan pergi dari sana sebelum kutemui buku yang tiba-tiba menarik perhatianku, sebuah buku yang tak ada hubungannya dengan Psikologi Lingkungan. Aku menariknya pelan. Buku bercover gadis bercadar dengan lampion-lampion khas  Cina itu membuatku ingin sekali mengetahui isi di dalamnya. Aku tahu, buku ini sediki mengandung unsur Islam. Namun, yang membuatkku penasaran adalah mengapa ada lampion di sekelilingnya? Apakah ada orang cina sepertiku yang berperan di dalamnya?
####
Kurebahkan tubuhku di atas kasur milikku dan mulai membuka buku yang kubeli baru saja. Mataku berputar-putar seiring deretan kalimat yang berjajar rapi di sana, berusaha mencerna satu per satu kalimat tersebut.
Deg Deg Deg...
“Hui Lan? Ayo kemari. Ayo mengaji!”
“Cindy mengapa kau di sana?” Ya, aku melihatnya, seorang Cindy dengan balutan kerudung warna putih terlihat anggun dan bersinar. “Ayoo.” Ajaknya lagi sembari melambaikan tangan ke arahku. Perlahan sosoknya pergi menjauh. Aku mencoba mengejarnya, namun ruangan ini seakan menghalangiku, muncul sinar yang semakin menyilaukan hingga membuatku tak bisa membuka mata dengan sempurna.
“Aaargh. Cindy” Aku terhenyak, berusaha mengatur kesadaran dan segera memeriksa sekelilingku. Tidak ada yang berubah.
“Ahh, ternyata hanya mimpi.” Aku berusaha mengatur napasku yang masih terengah setelah mendapati mimpi aneh tersebut. Aku menatap buku bersampul merah di pangkuanku, ada pikiran yang mengganjal di otakku. Gadis Cina itu akhirnya memeluk Islam.
“Aaarggh..” Aku memegang erat kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit. Satu per satu pikiran ganjil memenuhi otakku. Pikiran tentang agama dan keberadaan Tuhan yang semakin membujukku untuk mempercayainya. Apa yang harus kulakukan?
Tok... tok....
“Hui lan, Ini mama.” Seorang wanita paruh baya tiba-tiba memasuki kamarku. “Kamu kenapa?” ujarnya kembali sembari mendekati posisiku saat itu. Aku tak merespon kedatangan Ibu Pikiranku masih berkecamuk tentang mimpiku baru saja.
“Ibu? Apakah Tuhan itu ada?”
Wanita itu terpaku tak bergerak. Raut mukanya berubah tegang, jelas menggambarkan ketidak sukaan dengan kata-kataku baru saja.
“Mengapa engkau berbicara seperti itu? Ibu tidak suka!” Jawab Ibu sedikit membentak,
“Ibu, entah mengapa hati Hui Lan mengakui kalau Tuhan itu ada?” Aku terus merajuk kepada Ibu, berusaha meyakinkannya. “Hui Lan ingin mengakui bahwa dunia dan alam semesta ini adalah milik Tuhan. Hui Lan ingin masuk Islam, Ibu.”
Kemarahan Ibu memuncak. Rautan emosi memancar dari wajah berkerutnya tersebut.
“Kamu ingin membantah Ibu? Lepaskan kepercayaanmu atau pergi dari sini. Ibu tidak segan-segan mengusir anak pembangkang sepertimu.”
“Tapi, bu...”
Sebelum  kulanjutkan kalimatku, Ibu sudah menarik tanganku keras dan menyeretku keluar dari kamar. Aku tidak menyangka, emosi Ibu akan setinggi ini, tapi aku sudah memantapkan keyakinanku untuk memeluk Islam. Aku tidak dapat berbuat banyak, Ibu sudah terlanjur mengeluarkanku dari rumah dan mengusirku jauh-jauh. Aku terduduk tak berdaya, isakanku semakin keras saat kutemui fakta bahwa Ibu telah tega membuangku dari kehidupannya.
3 bulan kemudian,
Ku lantunkan dzikir berulang-ulang dengan khusyuknya. Satu per satu air mata mengalir seiring dzikirku yang terdengar lirih malam itu. Rasa syukur tak henti-hentinya kuucapkan kepada sang Khalik yang telah memberikan kesempatan dan pencerahan jalan untuk diri yang semula tesesat ini.
Kuhentikan dzikirku seketika saat kupandangi sebuah buku di hadapanku. Memoriku lantas memutar kilas balik dari dalamnya. Buku dengan jalan cerita yang sangat bermakna untuk hidupku sebelum semua ini terjadi. Buku tentang perjuangan seorang gadis Cina Atheis untuk mencari keberadaan Tuhan, hingga membuatku berada di jalan Islam seperti ini.  
 “Hui Lan?”
Suara dari luar itu membuyarkan lamunan masa laluku. Terlihat sinar wajah yang selalu tersenyum kepadaku, Cindy.
“Kamu tidak apa-apa? Mengapa mukamu terlihat sedih?”Ujarnya cemas setelah melihat leleran air mata yang belum sempat kuhapus.
“Aku teringat  ibuku. Aku sangat merindukannya.”Bibirku bergetar, berusaha menahan leleran air mata yang berdesakan ingin keluar.
 “Sudahlah, ini semua sudah takdir dari Allah.” Responnya sembari mengelus pundakku lembut.
“Cindy, terima kasih telah mengijinkanku untuk tinggal di rumahmu, terima kasih untuk segalanya.”
Dalam keheningan malam itu, ku peluk Cindy erat. Aku mengungkapkan perasaan sekaligus beribu-ribu terima kasihku kepadanya. Terima kasih telah menjadi Seseorang yang setia menemaniku hingga akhirnya kutemukan hidayah Allah bersamanya. Wo Ai Ni, Allah.

TAMAT

Selasa, 19 Mei 2015

Seperti inilah aku mencintaimu...


    Ada kekasih yang membuktikan cintanya dengan jutaan kalimat pujian & rayuan,
    Ada pula dengan sikap yang penuh kasih,..
    Tak sedikit dengan pengorbanan yg meluluhlantahkan harga diri,
    Ada pula dengan menguras tenaga & materi.

    Namun bagiku, aku mencintaimu dengan menundukkan wajahku padamu.
    Bukan karena aku ingin berpaling darimu, tapi karena aku ingin menjaga pandanganmu dari panah-panah iblis..

    Aku mencintaimu dengan tidak melemah lembutkan suaraku padamu.
    Bukan karena aku ingin menyakitimu, namun karena aku ingin menjaga hatimu dari bisikan syaithan yg menipu..

    Aku mencintaimu dg menjauh darimu, Bukan karena aku membencimu, namun karena aku ingin menjagamu dari khalwat yg menjebak..

    Aku mencintaimu dg menjaga dirimu & diriku, menjaga kesucianmu & kesucianku, menjaga kehormatanmu & kehormatanku, menjaga kebeningan hatimu & hatiku..

    Tak mengapa saat ini kita jauh, karena kelak Allah yang akan menyatukan kita dalam ikatan suci-Nya.Sebab itu jauh lebih berarti & jauh lebih abadi,Karena ku yakin, janji Allah adalah pasti, “Wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik”, pun sebaliknya.

    Ya, seperti inilah aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan menjaga kesucian diri, jiwa, & hatiku, hanya untuk ku persembahkan padamu kelak, siapapun dirimu nanti.

    Oleh karena itu, tolong,..Jagalah kesucian cintamu juga hanya untukku. Rabbi, pada-Mu kutitipkan cintaku padanya…

    [Repost]

    K

Sabtu, 16 Mei 2015

Kesepian



Ah, Mengapa kesepian selalu hadir dengan mudahnya?
Aku tak tahu mengapa perasaan ini muncul kembali. Sebuah perasaan yang seharusnya kukubur jauh-jauh selama ini. Aku sudah mulai membuka diriku bersama mereka, namun mengapa perasaan yang sama masih muncul?

Adakah yang salah dengan diriku? Entah mengapa, aku selalu merasa ada tatapan sinis itu dari mereka, orang-orang terdekatku pun. Mungkin hanya perasaanku saja,

Ah, tapi mengapa sangat kuat terasa?

Bukankah kita sudah saling mengenal hampir 1 tahun. Bukankah waktu yang tidak singkat untuk saling memahami satu sama lain? Tapi, mengapa aku tidak bisa sedekat dengan yang lainnya? Mengapa aku tidak dapat bercanda dan berbaur dengan ringannya?

Mengapa aku selalu merasa sepi, ketika kalian dengan senangnya bercanda satu sama lain?
Mengapa aku seperti sendiri, saat kalian sibuk berbincang membahas berbagai acara?
Mengapa aku seperti menjelma menjadi bayangan yang sangat mengganggu ketika aku bergabung?

Ah, mungkin aku harus selalu mengintropeksi diri. Aku sadar, masih banyak kepribadian buruk yang melekat sehingga tidak membuat mereka nyaman. Ya, aku sadar. Aku seharusnya sadar dan ikhlas menerimanya. Maaf telah mengecewakan kalian.

Namun, ijinkan aku menjadi salah satu anggota yang hidup tanpa kecanggungan dalam keluarga yang sangat kucintai ini. Ijinkan hati kalian untuk menerima keberadaanku, berilah senyum dan tatapan yang sangat kuidam-idamkan tersebut. 

 aku sayang kalian.