Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Selasa, 21 Juni 2016

(Cerpen) Sang Penari



 “Aku siap bu.”
Seorang anak kecil tampak berlari menuruni tangga sembari memanggil-manggil ibunya.
“Ayo kita berangkat Ajeng.” Ujar sang Ibu sembari menyambut gadis kecil itu. “Kamu tidak lupa membawa semua perlengkapannya, kan?” Sambung sang Ibu lagi.
“Tidak, Bu. Aku sudah membawa selendang, sepatu, baju latihan, dan segala perlengkapannya, hehe.” Ujar sang anak tertawa riang. Sepertinya anak itu begitu bersemangat hari itu. Mereka pun segera menaiki mobil menuju sanggar tari.
Ya, namanya Ajeng, ia akan mengikuti les menari seperti biasa. Dia memang sudah aktif menari sejak dini hingga usia 12 tahun seperti sekarang, berbagai perlombaan tari pun sudah berhasil dia menangkan. Baginya, menari bukan hanya sebuah hobi semata, tetapi menari sudah menyatu ke dalam jiwanya.
Tanpa menunggu waktu lama, mobil yang ditumpangi anak itu tiba di sebuah sanggar sederhana, tempat yang biasa ia gunakan untuk menari. Ia pun segera keluar dan melambaikan tangan kepada Ibunya.
“Jam 5 jemput ya bu!” Ujar anak itu sedikit berteriak mengingatkan Ibunya. Dia pun bergegas menuju rumah tersebut. Di sana sudah banyak anak seumurannya yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berlatih menari. Ajeng pun segera mempersiapkan hal serupa.
“Sudah siap, Nak?” Seorang wanita tua menyapa mereka ramah.
Namanya Wiji. Anak-anak sering memanggilnya nenek Wiji.  Meski Usia nenek Wiji sudah menginjak 60 tahun, namun beliau masih luwes mempraktikan gerakan-gerakan tari.
“Yuk kita mulai menari tari gambyong!”
Dengan sabar dan telaten, nenek Wiji mengajari gerakan demi gerakan kepada anak-anak. Dengan lincah pula, anak-anak mengikuti gerakan nenek Wiji tersebut. Gerakan mereka terlihat harmonis nan indah. Sembari mengamati anak didiknya, nenek Wiji tersenyum melihat ketekunan dan semangat mereka saat menari.
Menari menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan, sehingga terasa sangat singkat. Tak terasa latihan telah usai, Ajeng pun menunggu ibunya bersama teman-teman lainnya. Tiba-tiba pandangannya memfokuskan perhatian kepada salah satu teman di sampingnya yang sedang menonton sebuah video.
“Itu apa?” Tanya Ajeng penasaran, matanya masih tak lepas dari video itu.
“Ini video modern dance dari artis korea. Keren kan?” Jawab anak yang duduk di sebelahnya tersebut.
“Oh, aku tidak tahu.” Ujarnya menimpali.
“Ih, kampungan sekali kamu. Lihat saja, aku pasti bisa menari seperti mereka dan kamu pasti akan terpana.” Jawab teman Ajeng tersebut ketus.
“Bukannya kamu sudah belajar tari tradisional ya? Mengapa harus belajar tari lainnya?”
“Kamu itu bagaimana sih? Tari tradisional itu sudah ketinggalan jaman Ajeng. Sudah deh, aku sudah dijemput Ibuku.” Jawabnya lagi kemudian dia segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkannya.
Ajeng menerawang jauh, melamun lama sekali, menyadari bahwa dunia di sekitarnya lambat laun semakin berubah. Dia baru sadar, bahwa globalisasi seperti yang orang-orang bicarakan di luar sana sudah merambah daerahnya pula. Dampaknya pun begitu nyata, tidak hanya budaya Jawa yang ia kenal, budaya dari negeri lain pun mulai memasuki lingkungannya. Ajeng termenung, Apakah dia akan tetap bertahan? Atau ikut tergerus sesuai perkembangan jaman?
***

“Eh, si Cindy kemana ya, Ajeng?” Tanya salah satu temanku di sela-sela istirahat menari.
Ajeng menyebar pandangannya ke sekeliling sanggar. Namun tak kunjung didapati sosok Cindy yang ia cari. Ajeng jadi teringat kejadian kemarin. Apa mungkin Cindy benar-benar keluar dari sanggar tari ini ya?
“Aku juga tidak tahu.” Jawab Ajeng pelan “Oh ya, aku pulang dulu ya. Ibuku sudah datang.” Sambungnya lagi setelah mendengar bunyi bel mobil tak jauh dari tempat duduknya.
“Ajeng, Ibu ada kabar baik.” Sang Ibu menyambut hangat kedatangan anaknya ketika memasuki mobil. “Anak teman Ibu mengikuti les modern dance lho. Kamu berminat tidak? Banyak sekali perlombaan yang sudah dia menangkan juga.”
“Tidak bu. Ajeng ingin  menari tradisional saja.” Jawab Ajeng lekas.
“Bagaimana sih kamu? Diarahkan malah tidak mau. Jaman sekarang itu sudah maju, kamu tidak bisa mengandalkan tarian kuno itu untuk hidup di era ini. Pokoknya kalau kamu tetap mau menari tarian tradisional, Ibu tidak mau mengantarkanmu lagi.” Ujar Ibu marah.
Ajeng hanya bisa terdiam. Ditundukkan wajahnya dalam-dalam karena amarah ibunya. Ia tak mampu menyanggupi permintaan Ibu kali ini. Baginya menari tradisional sudah menjadi bagian hidupnya. Tidak hanya itu, ia juga sadar anak seusianya akan menjadi generasi selanjutnya untuk mempertahankan budaya bangsa ini.

Semenjak kejadian siang itu, setiap hari Ajeng berangkat menari seorang diri. Seusai sekolah, ia langsung pergi ke sanggar untuk latihan seperti biasa. Satu-satunya sosok yang dapat menyemangati keterpurukan dirinya adalah Nenek Wiji. Nenek Wiji tumbuh menjadi inspirasi baginya, terlepas dari semua masalah yang ada, beliau senantiasa sabar mendidik anak-anak yang ingin belajar menari dengannya.
Hari berganti hari, Nenek Wiji baru menyadari bahwa semakin hari anak didiknya berkurang. Biasanya hampir 20 anak menari setiap harinya. Namun sekarang, hanya tinggal 10 anak dan dikhawatirkan akan terus berkurang. Nenek Wiji menghela napas perlahan. Dihampiri anak didiknya yang sedang berkumpul di sanggar miliknya.
“Anak-anak. nenek ingin bercerita sebentar.”
Anak-anak yang semula sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing mendadak mengalihkan fokus ke arah nenek Wiji.
Nenek Wiji terdiam sebentar kemudian menyunggingkan senyum.
“ Anak-anak. Kalian suka tidak mempelajari tari tradisional?” Tanya nenek Wiji lembut.
Semua anak terdiam cukup lama. Tidak ada yang berani menjawab. Hingga akhirnya Ajeng membuka mulut dan berkata,
“ Suka Nenek.” Jawab Ajeng mantap.
Nenek Wiji pun tersenyum dan berkata kembali,
“Anak-anak, Tari tradisional merupakan kebudayaan Indonesia yang begitu berharga. Kalianlah generasi masa depan yang akan menjaganya. Di tangan kalianlah kebudayaan kita bergantung. Jangan salahkan keadaan jika kelak ada negara yang mengklaim kebudayaan ini. Nenek harap kalianlah generasi itu, generasi masa depan yang tetap menjaga dan mempelajari kebudayaan bangsa ini.”
Entah mengapa, ada sesuatu yang merasuki jiwa Ajeng. Sesuatu yang membuat Ajeng semakin memantapkan diri untuk terus bertahan di jalan ini. Niatnya untuk menari dan menari semakin bulat. Dia tidak ingin jaman menjajah kebudayaan Indonesia. Dia tidak mau Indonesia tumbuh menjadi negara yang tertinggal di tengah kebudayaan yang melimpah ini, hanya karena keacuhan bangsanya sendiri.
***

Hari demi hari. Ajeng menjalankan rutinitas dan hobinya seperti biasa. Meski Ibu tidak mendukung bakat menari Ajeng, hal itu tidak mematahkan semangatnya. Bagi Ajeng, menari bukan hanya menyalurkan ekspresi dan minat semata, tetapi sudah menyangkut pengaruh eksistensi budaya Indonesia sendiri.
Ternyata keinginan tak selamanya berjalan sesuai harapan. Teman-teman yang dulu membersamainya menari semakin berkurang. Banyak alasan yang dilontarkan, dari kesibukan sekolah hingga larangan orang tua yang masih menganggap tari tradisional ini ketinggalan jaman. Hingga sekarang, hanya 3 orang yang masih bertahan di sanggar ini.
Di sela-sela aktivitasnya menari, ia memandang Nenek Wiji yang masih mengajari mereka dengan telaten. Bagi Ajeng, Nenek Wiji bukan hanya guru melainkan sudah menjelma menjadi pahlawan baginya dan bagi bangsa ini. Pantas saja, di usianya yang sudah senja, beliau masih memiliki tekad kuat untuk menjaga budaya bangsa. Namun, waktu bak perjalanan yang mengerikan, sang nenek sudah semakin tua, gerakannya tidak seluwes dulu, dan akhir-akhir ini beliau juga mudah kelelahan.

GUBRAKK
Suara itu membuyarkan lamunan Ajeng. Betapa kagetnya ia saat mengetahui bahwa Nenek Wiji terjatuh tepat di depannya. Ia dan kedua temannya pun segera menghampiri sang nenek.
“Siti. Cepat ambilkan minum!” Perintah Ajeng sembari membangunkan Nenek Wiji yang mendadak lemas.
“Nenek tidak apa-apa Nduk. Nenek hanya sedikit pusing.” Ujar Nenek sembari berusaha bangkit dan memposisikan duduknya.
“Ini minumnya Nek.” Siti memberikan segelas air putih kepada Nenek.
“Terima kasih ya, Nduk.”
Nenek Wiji menyambut air putih itu, kemudian meminumnya perlahan. Ditatapnya wajah Nenek Wiji yang mulai sayu, keriput di wajahnya pun semakin jelas. Ajeng sadar, Nenek Wiji sudah semakin tua, tiba-tiba ia menanyakan keberadaan sanggar ini jika suatu saat nanti nenek Wiji sudah tiada. Apakah ada orang lain setulus dan sesabar beliau dalam melestarikan budaya bangsa ini?
“Oh ya Nak. Nenek mau mengucapkan terima kasih kepada kalian.” Nenek Wiji berucap tiba-tiba. Mereka bertiga pun mendengarkan perkataan nenek Wiji dengan serius.  
“Terima kasih ya, Kalian masih mau belajar tari di sanggar ini. Meskipun jaman sudah modern dan banyak tarian modern di luar sana, tetapi kalian tetap memilih tari tradisional ini. Terima kasih kalian masih mau menari tanpa peduli cibiran orang di luar sana.”
Tiba-tiba setetes air mata mengalir lembut di pipi Nenek Wiji.
“Percayalah, kalian adalah orang-orang yang berharga, bahkan sangat berharga bagi bangsa ini. Tanpa kalian, siapa yang akan menjaga kebudayaan ini hingga sekarang? Budaya Indonesia itu warisan leluhur, budaya kita lah yang membuat bangsa kita semakin kaya dan beradab. Tanpa orang-orang seperti kalian, negeri ini pasti akan tenggelam, negeri ini akan tertinggal di tengah kekayaan budaya yang mereka abaikan.”
Nenek mengusap air mata di pipinya.
“Nenek sudah tua, Nenek ingin memohon kepada kalian. Tolong, jangan tinggalkan tari tradisional ini, walaupun akan ada begitu banyak penderitaan dalam perjuangan menjaga budaya ini. Walaupun bangsa kita lebih merendahkan kebudayaan sendiri dibanding budaya lain. Tetapi jangan menyerah, karena ada saatnya perjuangan kita akan terbayarkan nanti.  Setelah Nenek tiada, tolong rawat sanggar ini dan ajaklah anak-anak bangsa untuk menari. Yakinkan kepada mereka bahwa mereka akan tumbuh  menjadi insan-insan berharga yang dipuji kelak di kemudian hari.”
Ajeng terdiam lama sekali. Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Ia tidak menyangka, perjuangan menjaga kebudayaan bangsa di negeri sendiri ternyata penuh dengan perjuangan yang amat menyakitkan. Namun, ada satu keyakinan yang akan ia simpan erat. Ia tidak akan meninggalkan tari tradisional ini. Ia berjanji akan menari dan terus menari.

***

10 tahun kemudian

Sueorang wanita dengan pakaian tari jawa lengkap terlihat menari di pinggir jalan alun-alun kota Yogyakarta. Parasnya yang cantik dan gerakannya yang luwes, membuat beberapa orang menghentikan langkah mereka untuk sekedar melihat penampilan tarinya yang mengagumkan. Sesekali mereka memberikan beberapa lembar uang pada wadah yang disediakan oleh sang penari.
Dari sisi yang lain, seorang anak mengamati sang penari itu lekat-lekat. Tak sedetik pun pandangan ia alihkan darinya. Begitu pun dengan wanita dewasa yang duduk di samping anak itu.
“Kamu suka dengan penari itu ya, Nak?” Ujar wanita itu tiba-tiba.
“Iya bu, Gerakannya indah sekali.” Jawab Anak itu, masih memandang sang penari
“Namanya Ajeng, dia teman sanggar Ibu dulu.” Ujar Ibu sedikit menjelaskan.
“Oh ya? Ibu juga bisa menari seperti itu?” Ujar anak itu sedikit berteriak. Ia terlihat antusias mendengarnya.
“Tetapi Ibu tidak sehebat dia.”
“Mengapa orang yang pintar menari seperti dia, harus hidup menderita dan mengamen seperti itu ya, Bu?
            Anak itu menopang dagunya, masih memandangi sang penari dengan wajah cemberut.
“Jaman ini memang kejam. Bangsa ini seakan-akan meninggalkan orang-orang yang berjuang melestarikan budaya leluhur kita sendiri. Begitu pun dengan dia, keluarganya mengusir dia dari rumah karena menolak keinginan Ibunya untuk berhenti menari. Waktu itu, Ibunya menginginkan Ajeng untuk kuliah di bidang bisnis, namun ia menolaknya.” Jelas Ibu itu, tiba-tiba ia terkenang masa lalu bersama Ajeng.
“Kasihan dia, Bu. Dia menjadi orang yang tampak tak berharga seperti ini.”
“Kamu salah Nak, Dia berharga bahkan sangat berharga. Indonesia patut bersyukur masih mempunyai sosok seperti Ajeng. Di saat yang lain sibuk mencari keuntungan lebih dengan memilih pekerjaan yang bergengsi, ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada kebudayaan bangsa. Dengan susah payah, ia menghidupkan sanggar tari, meski banyak yang menentang. Tanpa lelah, ia menari setiap saat, meski banyak orang yang mencibir. Bahkan Ibu yakin, dia menari di sana bukan hanya berniat untuk mencari uang semata, namun juga mengkampanyekan tari tradisional kepada bangsa ini. Dia adalah salah satu harapan bangsa ini.”
Anak itu mengangguk tanda mengerti. Ternyata banyak sekali niat tulus yang terselubung dari penari itu. Mungkin banyak orang yang menganggap pekerjaannya adalah pekerjaan yang rendah. Namun tanpa disadari, pekerjaan itu bisa saja menjadi lebih berarti dibanding profesi lainnya.
Dia masih menatap Ajeng yang terus menari di sana. Namun tiba-tiba, Sang penari itu jatuh pingsan. Semua orang yang melihatnya terkejut, mereka langsung berkerumun dan berusaha menolong Ajeng kala itu. Begitu pun dengan Ibu dan anak tadi yang turut mendekati kerumunan di sana. Beberapa orang membopong tubuh Ajeng, kemudian membawanya ke rumah sakit. Anak tadi masih terkejut melihat kejadian baru saja, miris rasanya. Tanpa sengaja, kakinya menyentuh sebuah selendang di tempat ia berpijak. Diambilnya selendang merah milik penari tadi. Diamatinya lekat-lekat, kemudian ia menolehkan wajah ke arah ibunya.
“Ibu. Aku ingin menari.”
Ibu yang mendengar keinginan anaknya itu, seketika tersenyum dan mengangguk.
“Iya Nak. Ibu harap kaulah yang akan menjadi generasi berikutnya.”

TAMAT

Cerita ini didedikasikan untuk orang-orang hebat di luar sana, yang tetap berjuang menjaga kelestarian budaya Indonesia tanpa menyerah barang sedikitpun.



Wah, cerpen apa ini?
Alurnya berantakan, diksinya belepotan, bahasanya nggak bermajas sama sekali, datar kayak jalan habis diaspal hehe..

Jadi ceritanya cerpen ini aku ikutkan salah satu event kampus. Niat awal sih ingin membangun niat buat menulis lagi dan melawan writer block. Tapi ternyata, aku baru sadar bahwa aku sudah vakum terlalu lama hehe.

Jadi kuputuskan untuk tetap menulis apapun yang terjadi. Sebenarnya ide cerita ini sudah ada di kepalaku setahun yang lalu. Namun, baru bisa aku tuangkan dalam bentuk tulisan yang sangat tidak indah ini sekarang :(. Inspirasi awal cerita ini sebenarnya begitu menyesakkan, namun karena aku kurang lihain memberi sentuhan-sentuhan haru di dalmnya, pembaca tidak terlalu bisa menghayati mungkin, maafkan. Jadi setahun yang lalu, aku sering melakukan perjalanan jauh, dan aku melihat banyak fenomena di pinggir-pinggir jalan. Sebagai contoh, aku melihat beberapa orang sinden yang menyanyi tembang jawa "maaf seperti mengamen" di warung makan. Ada juga laki-laki paruh baya yang dengan susah payah "maaf seperti mengamen" di jalan raya dengan memainkan alat seperti gamelan, dan masih banyak lagi. Tak terasa aku menitikkan air mata, aku sedih mengapa manusia-manusia hebat seperti mereka harus hidup seperti ini, mengapa manusia yang lebih memilih mengabdikan diri untuk menjaga budaya negeri ini malah berada di titik rendah seperti itu. Namun bagiku, mereka luar biasa, mereka orang-orang berharga yang Indonesia miliki, dan mungkin mereka lah salah satu pahlawana bangsa ini, pahlawan globalisasi era ini.

Miris ya, tapi mengapa cerpenku nggak bikin nangis :(. Sudah-sudah jangan mellow, semoga ALLAH meninggikan derajat semua orang yang berjuang di jalanNya. Back to topic : Sebenarnya aku berharap tulisannya punya sense lebih, tapi apa daya, karena ngejar deadline ya akhirnya jadi apa adanya saja, hehe. Cerpen ini ditulis H-2 pengumpulan, tapi mulai nulis serius ketika H-1 hahaha. 

Dan memang karena deadliner sangat tidak dianjurkan. Malam hari sebelum pengumpulan keyboard laptop error, padahal aku baru dapat introducing cerita 2 lembar. Dan akhirnya karena aku nggak ingin menunda menulis lagi, kulanjutkan nulis dengan tulisan seadanya. Apapun yang keluar dari pikiran langsung aku ketik, padahal pikiranku saat itu lagi kalang kabuet dan alhasil jadilah seperti ini. 

Sebenarnya penulisan cerita membutuhkan waktu 3 jam, namun butuh waktu lebih buat revisi tulisan gara2 keyboard error selama 2 jam. Keyboard error : nulis "u" jadi "ue", nulis "m" jadi 'mc", nulis "j" jadi "jd", dan masih banyak variasi lainnya. Hahaha

Pas penguempuelan ke mawa, nggak ada tuh harapan buat menang, tapi optimis tetap ada. Yah, karena aku pikir cerpennya belum memadai kalau diperlombakan. Namun ternyata ALLAH itu baik banget, Dia memberiku hadiah atas kerja kerasku, menobatkan karya sederhana ini menjadi juara 2. Akhirnya terbayarkan sudah hasil lembur dan bela-belain ngebut dari kleco ke mawa uns hehe, terima kasih ya ALLAH :D

Jadi intinya, jika kita tidak mencoba, kita tidak tahu rezeki kita ada di mana hehe. Semangat nulis yaaa :D. Terima kasih sudah baca cerpenku :)

Minggu, 29 Mei 2016

Galau itu…



Ya galau itu adalah ketika kamu mencintai sesuatu tapi sesuatu tersebut tidak bisa menjaga dan membiarkanmu untuk mencintainya. 
 
Galau itu ketika dihadapkan dengan dua pilihan seperti ini. Ingin rasanya hati memberontak namun tangan tak kuasa melakukannya, Ingin rasanya hati berteriak tapi mulut tak mampu menyuarakannya. Dan ingin rasanya hati ini berpaling namun mata tetap saja ingin memandangnya.

Mungkin inilah makna mencintai. Mencintai dengan tulus.
Namun mengapa?
Mengapa aku mencintai sesuatu yang tak bisa kurangkul? Mencintai sesuatu yang tak bisa menenangkan hati ini? Mencintai sesuatu yang terasa lebih nyaman apabila aku menjauh darinya?
Namun mengapa hati ini tidak bisa berhenti mencintainya?

Ada seseorang yang berkata. Ketika kamu menempatkan cinta sebagai kata kerja, kamu akan tulus menyayanginya entah apapun yang terjadi, karena cinta itu kau lakukan, kau berikan, dan kau gerakkan dengan sengaja. Bukan hanya menerima cinta, bukan hanya menunggu untuk dicintai, dan bukan hanya menempatkan cinta sebagai kata “sifat”

Entahlah aku tidak paham dengan rasa ini. Mereka berharga. Ya, hanya itu yang kutahu, tapi mengapa mereka tidak dapat menyambut keinginan dan ketulusan hati ini? Mengapa mereka tidak merasakannya? Apa aku harus menunjukkannya nyata-nyata? Apa aku harus mengungkapkannya secara gamblang?

Entah. Aku tidak yakin. Aku tak mampu, karena aku tidak bisa. Aku tak kuasa melakukannya, aku pemendam. Ya, aku hanya bisa berdoa agar ALLAH selalu menjaga mereka. Agar mereka tetap menjaga lingkaran kebaikan itu. Lingkaran kebaikan yang senantiasa kudambakan, lingkaran kebaikan yang selalu kukagumi. Lingkaran kebaikan yang semu bagiku, karena aku tak mampu bergabung dengan mereka.. Walau aku ingin, walau aku mencintai mereka.

Apakah asaku tidak sampai?
Apakah angin pun tak mampu menghembuskannya ke dalam hati kalian?
Apakah aku terlalu memendamnya?
Hingga kalian tidak tahu?
Taukah kalian?
Kalianlah cinta tulusku
Cinta dalam diamku.

Selasa, 26 Januari 2016

KECEWA

Salahkah bila kecewa tumbuh di antara lingkaran kebahagiaan?
Salahkah menolak di antara kerumunan persetujuan?
Salah, memang salah karena engkau tidak akan diprioritaskan meski alasanmu sebenarnya patut dipertimbangkan.

Entahlah mungkin ini merupakan suatu kekecewaan pertama di akhir perjalanan ini. Sungguh disayangkan, semestinya perjalanan ini perlu ditutup dengan kebahagiaan pun kepuasan agar terkenang indah. Namun, sejatinya Tuhan berkata lain.
Rasa kecewa harus kutanggung dulu untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya. Ya, aku harus menerimanya. Tetapi mengapa aku harus kecewa terhadap keputusan yang tidak berpihak kepadaku?
Ya, sejujurnya aku kecewa terhadap keputusan mereka terhadap temanku. Jika telah menyangkut amanah mungkin sulit, tapi tidak pantaskah dia menolak? Tidak bolehkah dia mengedepankan orang-orang yang harus dia tundukkan bakti kepada mereka? Tetapi mengapa mereka abaikan semua itu?

Tidak adil!

Entahlah, mengapa aku yang kesal. Aku hanya ingin tidak ada yang merasa diberatkan atau dipaksakan dalam setiap keberjalanan kami. Tetapi, sekeras apapun menolak, sekesal bagaimanapun hati ini, tetap saja tidak akan merubah keadaan.
Setelah ini, aku hanya berharap amanah yang diberikan kepadanya adalah kehendak ALLAH, keputusan yang semestinya akan berdampak baik, dan berubah menjadi jalan ynag terbaik baginya. Pun dengan amanah ini akan membuatnya lebih baik, lebih sehat, dan lebih ceria lagi.

Sebagai orang yang tidak pintar menghibur apalagi menasihati, hanya lantunan doa yang mampu kuberikan. Semoga ALLAH melindungimu dan menjagamu :)