Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Jumat, 11 Oktober 2013

Terpadu Fisika Bob Foster

( Oleh  : Kelompok I / XII IPA 6 )

Data buku
Judul buku                  : Terpadu Fisika
Penulis                         : Bob Foster
Penerbit                       : Erlangga
Tahun terbit                 : 2012
Harga buku                 : Rp. 53.000,00
Tebal buku                  : viii + 288
Kertas yang dipakai    : HVS

            
         Buku Terpadu Fisika karya Bob Foster dibuat sesuai dengan KTSP 2006 yang mencakup materi-materi kelas XII. Materi-materinya terdiri dari beberapa bab diantaranya, gejala gelombang, cahaya, bunyi, listrik statis, medan magnet, induksi electromagnet dan arus tegangan listrik bolak-balik.
            Bob Foster menulis buku ini sesua KTSP 2006 dengan tujuan mengembangkan kemampuan berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Siswa diharapkan menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
        Buku ini disajikan secara runtut tiap bab, dengan tidak menghilangkan kelengkapan materinya. Penyajian buku ini juga didesain secara rapi sehingga pembaca tidak kesulitan untuk mempelajarinya, seperti penulisan materi yang kemudian disusul dengan rumus dan contoh soal yang sudah disertai dengan pembahasan sehingga dapat menolong siswa dalam mengerjakan soal-soal di buku ini. Antara materi, rumus, dan soal dibedakan dengan memberi warna ataupun tabel yang berbeda. Selain itu, bahasa yang digunakan juga mudah dicerna, sehingga siswa lebih mudah belajar menggunakan buku ini.
Kelebihan buku ini apabila dibandingkan dengan buku fisika karya Maten Kanginan, buku ini lebih praktis karena langsung mencakup dua semester, sedangkan buku Maten Kanginan hanya satu semester. Selanjutnya buku ini lebih berwarna dan harganya lebih murah dibandingkan buku Maten Kanginan. Hanya saja buku ini belum dilengkapi dengan bahasa inggris, seperti pada buku fisika karya Maten Kanginan. Lembaran-lembaran buku yang disusun juga kurang rekat, sehingga membuat lembar demi lembar buku Terpadu Fisika mudah terlepas.
Buku Fisika ini cocok untuk dipelajari oleh seluruh siswa program IPA di SMA, khususnya kelas XII, karena buku ini membahas tentang materi fisika secara jelas disertai dengan rumus-rumus yang didesain menarik dan ilustrasi-ilustrasi yang berhubungan dengan materi, sehingga siswa lebih mudah mengerti dan tidak merasa bosan membaca buku ini. Jadi, buku Terpadu Fisika dapat mempermudah siswa untuk mendalami ilmu fisika dari fisika dalam kehidupan sehari-hari, hingga fisika yang digunakan dalam pembelajaran sekolah.
Resentator : Alvian Raharjo, Aprilia Prihatmi Riski, Asri Nawan Cahyanti, Danang Kurniawan, Ingrid Elvina, Ridwan Abdullah, Vita Fatimah.

Senin, 15 Juli 2013

[Cerpen] I Love You Like You Love Her

“Siapa lagi?” Gadis itutertunduk sembari mengamati selembar foto seorang gadis belia yang sedangtersenyum manis di genggaman tangannya.

“Akito. Dia cantikbukan? Aku pikir, aku mulai suka kepadanya.” 

Raut wajah gadis disampingnya mendadak lesu, kepalanya semakin tertunduk, membuat rambutpanjangnya semakin menutupi sirat wajahnya. Entahlah, ekspresi apa yang iasembunyikan saat itu.

“Mikako?” Panggilnyapelan, mungkin cemas karena Mikako tak merespon kalimat yang dia katakan barusaja.

Untuk pertama kalinyadia mendongakkan wajahnya ke arah teman laki – lakinya tersebut. Sungguh jelastersirat ekspresi semu yang sulit untuk dilukiskan, seolah – olah hanya diasaja yang mengetahui ekspresi sebenarnya di balik wajah itu.

“Cantik sekali.”Ujarnya lirih hingga nyaris tak terdengar.

“Benarkah? Mikako, ” Tangannyamemegang kedua pundak kecil Mikako. Memutar tubuh Mikako dan membuat kedua matamereka saling bertatapan.

“Aku ingin mengutarakanperasaanku kepadanya. Menurutmu?”

Tak ada keterkejutanyang berarti pada diri Mikako, tidak seperti saat dia mendengar bahwa Miuramenyukai gadis itu. Tetapi, mengijinkan Miura mengutarakan perasaannya membuatMikako lebih menderita. Itu berarti dia harus melepas sahabat kecilnya itu?Tiba-tiba sebuah senyuman menghiasi wajah Mikako. Lagi – lagi hanya sebuah senyumansemu.

“Miura sudah dewasasekarang.”

“Eh? Apa maksudmu?”Ujarnya heran.

“Iya. Kamu sudah bisamenyukai seorang wanita sekarang. Dulu saja, aku mengenal Miura hanya sebatasanak kecil yang lugu dan polos, tapi sekarang? Lihatlah!”

“Kau berniatmengejekku?” Sontak Miura mengacak – acak rambut Mikako, menyalurkan perasaanmalunya.

“Sedikit berniatseperti itu. Miura,” Kini tangan Mikako yang meraih pundak Miura dan menatapnyalekat.

“Utarakan perasaanmu,jika itu yang kamu inginkan. Tapi, aku harap dia benar – benar pilihan hatimu,wanita yang benar – benar dapat menerima kau apa adanya.” Ujar Mikako tersenyum.Begitupun dengan Miura, ekspresinya menggambarkan kepuasan yang nyata.

Miura memeluk tubuhkecil sahabatnya tersebut. Hanya di balik pundak Miuralah, Mikako bisa menjadidirinya saat itu, tanpa sedikitpun kepura – puraan. Sebenarnya dari lubuk hatiyang terdalam, dia ingin mencegah Miura, melarangnya mendekati gadis lainselain dia.

Karena aku takutkehilangan Miura, Kehilangan hangatnya kebersamaan dengannya.

---

From: Miura
To: Mikako
Mikako,berkat doamu, sekarang Akito sudah resmi jadi pacarku, Yee. Thanks ya J
Mikako sudah menebakhal ini sebelumnya. Seorang Akito tidak mungkin menolak ungkapan cinta dariseorang Miura, laki – laki tampan yang sangat terkenal di sekolah.Kelebihan-kelebihan sudah jelas menghiasi raganya, prestasi di bidang akademikmaupun non akademik, sudah berhasil diraihnya. Namun tidak selalu nasib baikmenimpa Miura. Sebenarnya Akito bukan orang pertama yang ia sukai, tapi karenagadis idamannya dulu bukan pribadi yang baik bagi Miura, mereka tidak dapatmempertahankan hubungan itu lebih lama lagi. Gadis itu hanya ingin memanfaatkankepopulerannya saja tanpa tulus mencintai Miura. Ia harap Akito tidak sepertigadis itu. Mikako tidak akan tega melihat Miura tersakiti lagi untuk keduakalinya.

Dengan amat terpaksa,jari – jari Mikako bergerak bergantian menekan tombol handphone miliknya,berniat untuk membalas pesan pendek dari sahabatnya itu.

From: Mikako
To: Miura
Selamatya. Aku ikut senang :D

“Huuhh.” Keluhan kecil namuncukup menyakitkan itu keluar dari mulut Mikako, direbahkan tubuhnya di atastempat tidur  satu – satunya yang berada dikamar itu. Pikirannya melayang – layang tak karuan.

“Aargghhh.” Ia menjeritdengan kerasnya sembari meremas rambutnya kencang. Entah apa yang ada dipikirannya. Dia hanya ingin berteriak, berusaha mengeluarkan beban terberatnyasaat itu.

Tanpa sengaja, bolamatanya menangkap sebuah bingkai yang tergeletak di atas meja belajarnya.Seketika itu pula, diraih bingkai tersebut, sebulir air mata jatuh tepat ketikaia melihat dua orang anak kecil terpampang pada bingkai tersebut. Memori dalam otaknyamemutar kembali kenangan indah bertahun – tahun yang lalu. Dua wajah polos anakkecil yang terlihat sangat gembira, tanpa tekanan dan tanpa beban yangtersembunyi sedikitpun. 

Ya benar. Itu Miura danMikako, ketika status sahabat – sahabat kecil itu masih melekat erat pada dirimereka bahkan hingga sekarang. Kebersamaan yang sama sekali tak dapat dihitungsebentar itulah yang membuat Mikako sangat menyayangi Miura bahkan lebih dariseorang sahabat.

Kring. . .

Suara getar handphonemembuyarkan lamunan Mikako, pikirannya teralihkan kepada siapa pengirim pesansingkat ke handphonenya tersebut. Miura? Lagi? Mikako tidak mengira bahwapengirimnya adalah orang yang sama, dia mengira bahwa Miura akan mengalihkansegala perhatiannya kepada Akito, pacar barunya. Ternyata dia salah, Miuramasih mengingat Mikako. Itulah alasan kedua mengapa Mikako sangatmenyayanginya, karena kesetiaannya yang benar-benar tulus kepada orang lain.

From: Miura
To: Mikako
Mikako,bisa menemaniku ke supermarket lusa?

Tanpa menunggu banyakwaktu, Mikako segera mengirimkan  balasankepadanya, memutuskan untuk menyetujui ajakan Miura. Selama ini, Mikako lebihmementingkan kepentingan Miura, walaupun ada agenda paling daruratpun. Hanyasatu alasan, karena dia tidak ingin mengecewakan seorang sahabat.

---

Tap . . . Tap . . . tap

Derap kaki terdengar susulmenyusul di sebuah area Sekolah Menengah Atas. Tak terkecuali dengan Mikako,seperti biasa dia berjalan sendirian, sedikit menundukkan wajahnya, bukankarena takut akan tersandung tapi memang karakternya yang cukup misterius ini.Mikako bukanlah siswi terkenal di sekolahnya, bahkan jika saja dia tidak dekatdengan Miura, mungkin keberadaannya tidak banyak diketahui oleh siswa lain.
“Mikako.” Teriakanseorang pemuda terdengar dari arah belakang. Suara yang tak asing bagi Mikakoitu membuatnya menghentikan langkah kakinya dan menolehkan wajahnya kebelakang.

Benar saja. Miurabersama seorang gadis. Siapa lagi kalau bukan Akito. Mereka terlihat sangatserasi, Miura yang tampan dan mempesona berjalan berdampingan bersama seorang gadisnan cantik lagi anggun. Seketika pula sebuah angan – angan muncul di benakMikako, andai saja posisi Akito digantikan olehnya, pasti Mikako merasa amatsenang. Tapi rasanya mustahil sekali, ketika mengetahui fakta seorang Mikakoyang sangat bertolak belakang dengan gambaran sosok Miura. Mereka mempercepatlangkah mereka menghampiri Mikako, bahkan ia tak sadar bahwa pasangan itu telahberhadapan dengannya.

“Mikako? Kau melamunlagi?” Ucap Miura sembari melambaikan tangannya di depan muka Mikako.

“Oh, tidak.” JawabMikako bohong.

“Oh ya, ini Akito.”Miura memperkenalkan pacar barunya itu sekarang. Akito mengulurkan tangannya kearah Mikako yang kemudian menyambutnya ramah.

“Hai, Mikako.” UjarMikako memperkenalkan diri.

“Akito.” Ucap Akitotersenyum manis. Bahkan senyuman Akito mampu memluluhkan hati Mikako sebagaiseorang wanita, apalagi ketika Miura melihatnya. Tidak heran jika Miura bisamenyukai gadis ini.

“Ayo, kita jalanbersama.” Ajak Miura yang kemudian menggandeng Akito, disusul Mikako walau agaktertinggal sedikit.

Dalam setiap langkahkakinya kini, Mikako hanya bisa menatap sendu pasangan itu, Akito dan Mikako.Di lain sisi, matanya memancarkan cahaya kepedihan yang sangat jelas tertahan.

----

Untuk kesekian kalinyaMikako melirik benda bulat yang melingkari pergelangan tangannya itu. Ketidaksabarannya muncul kembali ketika ia menoleh ke belakang namun lagi-lagi orangyang ia tunggu saat itu belum juga datang.

“Mikako.” Suara yangbenar – benar ditunggunya saat itu akhirnya datang juga, ia menolehkankepalanya ke belakang dan benar saja orang itu adalah Miura.

“Maaf membuatmumenunggu.” Ujar Miura sedikit tergagap sembari memegangi lututnya karena kelelahanakibat berlarian.

“Tidak apa – apa.Bukankah kau sudah sering terlambat.” Ujar Mikako sedikit kecewa akibat terlalulama menunggu. Mereka terdiam sejenak hingga akhirnya Mikako bertanya lagi.

“Jadi, kita maungapain?” Sambungnya lagi.

“Aku ingin mengajakmumembelikan hadiah buat Akito. Mau kan?”

Mikako terdiam.Perasaan – perasaan tidak suka mulai muncul kembali dalam benak Mikako, apakahia harus berkecimpung dalam semua hal yang menyangkut Akito. Kenapa harusdengannya? Bahkan pernah terpikir oleh Mikako lebih baik ia tak bersama Miuralagi jika dia masih bersama Akito.

“Mikako? Kau tidak mauya?” Sirat wajah Miura berubah lesu, ia pikir Mikako akan menolak permintaannyaini.

“Baiklah.”  Jawab Mikako mengejutkan Miura. Refleks Miuratersenyum menyambut respon yang diharapkannya tersebut.

Mereka segera berjalanbersama untuk pergi ke Mall. Tak banyak kalimat yang terlontar untuk mengisipercakapan mereka dalam perjalanan yang lumayan lama itu. Mungkin Mikakkoataupun Miura sudah merasa bosan. Tapi sebenarnya Mikakolah yang menyebabkanini semua, sepertinya rasa ketidakikhlasan masih berada pada diri Mikako, namunia terpaksa menutupinya lagi  dan lagidengan  alasan bahwa Mikako sangatmenyayangi miura.

Tak terasa langkahmereka sudah memasuki area Mall, dengan ekspresi ceria seperti biasanya, iamengajak Mikako untuk berjalan lebih cepat memasuki gedung Mall yang tergolongmewah tersebut. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk membelikan hadiah untukAkito.

Setelah mereka benar –benar berada di dalam Mall, Miura sibuk mencari sesuatu yang ia butuhkan saatitu, hingga kedua matanya menangkap sebuah tempat yang dipenuhi kilauanaksesoris di sana. Segera ia melangkahkan kakinya ke sana, Mikako hanya mengikutinyadari belakang.

“Menurutmu, aku harusmemberinya kalung atau cincin?” Tanya Miura, tangannya masih sibuk memilihaksesoris yang cocok untuk Akito.

“Kalung saja.” JawabMikako datar.

“Kenapa?”

“Kalau cincin takutnyakebesaran kalau enggak kekecilan. Emang kamu udah ukur keliling jarinya?”

“Ah benar. Tidak salahaku mengajakmu, Mikako. Kau berguna sekali.” Ujar Miura senang.

Mereka melihat beberapajenis kalung yang tergantung di sana. Tiba – tiba Mikako melihat sebuah kalungpermata dengan sebuah bintang kecil tergantung indah pada rantainya. Mikakomengambil kalung itu kemudian ia mengamatinya perlahan. Sepertinya iamenyukainya.

“Kau menyukai kalungitu?” Miura tiba – tiba mendatangi Mikako yang terlihat menaruh hati pada kalungyang ada di genggaman tangannya sekarang.

“Kalau iya, memangkenapa?”

“Aku ingin membelinya.Bolehkan?”

Mikako sedikit terkejutatas pernyataan dari Miura baru saja. Membelinya? Kenapa dia membeli kalungpilihan Mikako, bukannya dia ingin memberikannya untuk Akito?

“Untuk siapa?” TanyaMikako heran.

“Untuk Akito. Aku pikirsetiap wanita memiliki selera yang sama.”

Kekecewaan kinimenghampiri Mikako kembali. Dugaannya mengenai untuk siapa kalung itu akandiberikan ternyata salah besar. Dia pikir, Miura akan memberikan untuknya,ternyata tidak. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu? Bodoh sekali.

Mikako hanya bisamenahan perasaan sedih yang menghampiri hatinya. Dijulurkan tangannya ke arahMiura untuk memberikan kalung itu walau dengan berat hati.

“Terima kasih Mikako.”Ujarnya tersenyum sambil mencubit pipi Mikako.
“Lain kali pilih sajasendiri barang yang kamu beli. Jangan mengambil barang kesukaanku.” Ucap Miuracemberut.

“Itulah mengapa akumemintamu untuk menemaniku.” Lagi – lagi Miura tersenyum ke arahnya. Senyumanyang benar – benar menjengkelkan bagi Mikako.

Tak lama kemudian,Miura segera beranjak pergi menuju kasir untuk membayar barang yang telah iabeli tersebut. Untuk yang kesekian kalinya Mikako hanya dapat membuntutisahabatnya itu dari belakang.

---

“Miura? Sebenarnya kausuka wanita yang seperti apa?” Tiba – tiba Mikako bertanya di tengah perjalananmereka pulang dari Mall.

“Tipe ya? Emm,” Miuramendongakkan kepalanya ke atas untuk berpikir sejenak.

“Tidak muluk, aku hanyaingin dia menerimaku apa adanya dan setia bersamaku. Aku ingin wanita yangbenar – benar menyayangiku bukan karena materi atau kepopuleran semata.”

Pernyataan Miura barusaja membuat Mikako tertegun sejenak. Ia berkata dalam hati, apakah dia bukantermasuk apa yang sudah diutarakan Miura baru saja? Bukankah dia juga sudahbisa menyayangi Miura apa adanya bahkan lebih dari yang Miura bayangkan jikadia tahu bahwa di sini, ada seorang gadis bernama Mikako yang sungguh – sungguhmenyayanginya?

“Harus cantik ya?”Sambung Mikako masih penasaran.

“Tidak juga. Akumenilai wanita yang aku sukai jika aku merasa nyaman berada di sampingnya.”

Jadi, itu berartiselama ini Miura tidak nyaman bersama Mikako?

“Semua sudah beradapada diri Akito, benarkan?” Mikako bertanya lagi, penat di dadanya semakin takkuat menahan rasa sakit yang ia alami.

“Mungkin Iya.”

Kalimat singkat namunsangat terasa menyakitkan. Kalimat yang mampu membuat Mikako nyaris pingsan,jika saja ia tak memiliki kekuatan sedikitpun untuk menopang tubuhnya yanglemah itu, bukan karena ia menderita sakit fisik yang parah tapi karena perihdi dadanya sudah tak tertahankan lagi, perih yang melebihi rasa sakit apapunselama hidupnya.

Mereka berhenti disebuah pertigaan. Mereka harus berpisah kala itu, ya karena rumah mereka beradadi arah terpisah dari pertigaan tersebut.

“Mikako, terima kasihsudah menemaniku. Sampai jumpa.” Miura membelokkan langkah kakinya ke arahselatan lalu melambaikan tangannya ke arah Mikako.

Mikako tersenyummembalasnya. Senyuman yang tipis sekali, mungkin senyuman itu hanyalah sisa –sisa kebahagiannya kala itu. Mikako berjalan berkebalikan dengan Miura, iaberjalan ke arah utara untuk pulang ke rumah. Langkah kakinya sudah semakinberat untuk memaksanya berjalan lagi, rasanya dia ingin menjatuhkan badannyasejenak, mungkin karena kelelahan batin yang ia rasakan sudah mencapaipuncaknya.

Tiba – tiba langkahnyaterhenti ketika ia melewati sebuah area persawahan. Dilihatnya pasangan yangsedang berbincang – bincang mesra di seberang jalan tempat ia berdiri sekarang.Agak samar – samar memang, tapi Mikako merasa sangat mengenal mereka, terutamagadis itu. Dipastikannya pandangan matanya kepada dua sosok tersebut, hingga kterkejutanmuncul seketika saat Mikako sudah mengetahui bahwa gadis itu adalah Akito yangsedang bersama laki – laki lain, bukan Miura.

Dipastikannya sekalilagi dan ternyata ia tidak salah menduga lagi bahwa gadis itu adalah Akito.Mikako menghampiri mereka, seketika pasangan itu menoleh ke arah Mikako,terutama Akito yang tampak sangat terkejut melihat kedatangannya di sana.

“Mikako?”

“Akito, siapa dia?”Ujar Mikako menunjuk ke arah pemuda di depannya.

“Kamu? Kenapa ada disini?” Ujar Akito terlihat cemas.

“Bukan itu yang jadimasalah, tapi mengapa kamu bersama laki – laki ini?”

“Oh, dia.” Akitomendadak bingung hendak menjawab apa, ia merasa sangat tertekan saat itu.

“Dia pacarku.” Pemudadi sampingnya menjawab sembari merangkul pundak Akito, “Maaf kamu siapa?”

“Akito?” Ujar Mikakoterkejut tidak karuan.

“Aku bisa jelaskan.”Akito berusaha menenangkan Mikako yang sepertinya sudah terbakar emosi.

“Setega itukah kau kepadaMiura? Memang dia kurang apa buat kamu, dia sangat menyayangimu, Akito.” UjarMikako gamblang sembari menahan emosinya.

“Mikako, maafsebenarnya aku tidak tulus mencintainya, aku hanya ingin...”

“Ingin apa?” Mikakomembentak.

“Hanya inginmemanfaatkannya, memanfaatkan kepopulerannya agar aku bisa terkenal disekolah.” Akito menunduk.

“Kau licik Akito.”Tanpa berkata lagi, Mikako berlari menjauhi mereka. Kebencian kini mulaimerambahi sekujur tubuhnya. Dia tidak menyangka, ternyata di balik wajahmalaikat Akito, dia ternyata sama liciknya dengan wanita lain. Kini kegundahan melengkapiperasaan Mikako, saat ia harus berpikir bagaimana cara menceritakan hal inikepada Miura.

Akhirnya ia sampai didepan rumahnya. Secepat mungkin ia memasuki rumahnya tanpa mengucap salamterlebih dahulu. Ya, karena dia sendiri di rumah itu, ayah dan ibunya belumpulang bekerja. Mikako segera melepas sepatu dan tasnya, sekelumat pikirantentang Akito dan pacarnya masih bergemuruh di otaknya, rasanya pening sekali.Dia tidak bisa membayangkan jika Miura tahu mengenai hal ini.

Tiba – tiba suara belrumahnya membuyarkan kegelisahan Mikako saat itu. Rasanya dia hanya inginsendiri kala itu, kondisinya belum kembali normal pasca kejadian memuakkantadi. Dengan terpaksa, Mikako membuka pintu rumahnya untuk mencari tahu siapagerangan yang datang.

“Miura?”

“Hai!” Sapa Miura tersenyum.

“Kenapa tiba – tibadatang?” Tanya Mikako heran.

“Kenapa? Tidak boleh?Eh, aku boleh masuk tidak.”

Mikako terdiam, diamemegang dahinya bingung. Rasanya dia ingin kabur saat melihat Miura. Dia hanyatidak ingin Miura tersakiti saat Mikako menceritakan soal Akito. Karena Mikakotidak segera menjawab, Miurapun memasuki rumah tanpa pemberian ijin dari Mikakoterlebih dahulu.

“Ayah dan ibumukemana?”

“Oh, mereka belumpulang.”

“Wah, momen yangtepat.” Miura tersenyum kemudian duduk di sofa.

“Maksudmu?” Ujar Mikakoduduk di samping Miura.

“Tidak ada, hehehe.”

“Oh ya, Miura, apa kamusudah tahu mengenai Akito?” Suara Mikako terdengar berat.

“Kenapa?” Miuramemandangi Mikako ingin tahu.

Mikako menelan ludah,sepertinya dia tidak yakin jikalau ingin mengungkapkan hal ini secara mendadak kepadaMiura. Padahal mereka baru saja menjalin hubungan beberapa hari yang lalu. Bagaimanareaksi Miura nantinya? Tapi bagaimana lagi, Miura harus tahu.

“Soal Akito, apa kamu sudahtahu kalau dia, emm, dia punya pacar baru?” Mikako memejamkan matanya, rasanyadia tidak sanggup menerima reaksi dari Miura.

“Oh, sudah kok.” Jawabmiura santai.

“Loh? Kok kamu tidakkaget?” Mikako mendadak heran.

“Yah, awalnya sihmemang sangat menyakitkan. Bahkan ketika aku sudah mengetahui hal ini sebelumnya.Ya sudah, aku rela melepasnya daripada dia harus bersama orang yang tidak tulusdicintainya.” Ujarnya datar.

“Tapi kenapa kamu tidakcerita?”

“Aku hanya tidakpercaya saja, wajah polos Akito bahkan mampu menutupi karakternya yangsebenarnya. Sulit sekali menerima kenyataan ini, tapi semua itu memberikankupelajaran bahwa ketulusan seseorang tidak bisa dilihat langsung dari parasnya.Tapi, hati dan kebaikannya lah yang menentukan, aku pikir itu semua ada dikamu, Mikako.”

Mikako terdiam cukuplama. Dia tidak dapat berkata apa – apa saat mendapati sahabat karibnya itumemandangnya cukup lama. Apa dia salah dengar? Miura mengeluarkan sebuah kotakkecil berwarna merah dari dalam sakunya dan kemudian membukanya.

Kalung itu?

“Ini untukmu.”

“Untukku? Bukankah ituuntuk Akito.”

Miura memasangkankalung itu ke leher Mikako, “Tidak, aku berbohong kepadamu, ini untuk wanitaberhati tulus sepertimu.” Ujar Miura tersenyum, dipegangnya erat tangan Mikako.

“Aku sadar, selama iniaku tidak melihatmu yang sebenarnya sangat peduli terhadapku, sedangkan akusibuk mengamati wanita lain. Apa kamu mau jadi kekasihku, Mikako Tabe?”

Jantung Mikako serasaterhenti. Ia masih tidak percaya saat harus mengalami semua kejadian ini. Entahia harus merasa senang atau sedih, tapi dia baru menyadari jika harapannyauntuk bersama Miura akan terwujud.

“Miura?”

Miura masih memandangmata sipit Mikako tanpa berkedip. Cahaya harapan untuk bersamanya terlihat amatjelas. Akhirnya Mikako mengangguk, dipeluknya Miura erat. Kebahagiaan yangtidak tertandingi sebelumnya, perasaan sakit hati yang dialaminya sebelum inisudah lenyap tak berbekas lagi. Rasanya semua sudah terbayarkan saat mendapatifakta bahwa Miura sudah menjadi miliknya sekarang. Miura mencintai Mikako.

“Aku harap kau lah yangdapat mencintaiku dengan tulus.” Miura berbisik lirih di telinga Mikako.



-TAMAT-

Sabtu, 29 Juni 2013

[Cerpen] Invisible Love from Father

            “Sebenarnya ayah dimana?” Lagi – lagi kalimat itu muncul di benakku. Sebuah Pikiran sederhana namun berubah menjadi beban hidupku akhir – akhir ini, ketika aku sudah beranjak dewasa. Mungkin dulu, aku tidak terlalu menganggap hal ini berlebihan.

Aku akan menurut dan langsung mempercayai Ibuku ketika ia mengatakan bahwa ayah sedang merantau. Tapi sekarang? Aku bukan anak kecil lagi, aku juga tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban ibu. Merantau? Selama inikah? Bahkan aku belum pernah melihatnya sama sekali semenjak kecil hingga sekarang, hingga usiaku menginjak 17 tahun. Apa benar yang dikatakan Ibuku? Apa hanya membohongiku saja? Aku yakin Ibu bohong.
Ku ambil setumpuk kayu bakar itu dan langsung menaruhnya di atas punggungku. Sebuah pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaan sehari – hariku. Aku memang bukan anak orang kaya, bahkan kehidupanku teramatlah sederhana. Terkadang aku merasa sedih, aku juga ingin seperti anak – anak lain, belajar dengan tenang dan merasakan kehidupan yang lebih baik dari ini. Bukan karena aku tidak mensyukuri takdir yang diberikan Tuhan, aku hanya iri kepada teman – temanku, dimana mereka memiliki figur seorang Ayah yang menjadi tulang punggung dan pemimpin dalam sebuah keluarga. Sedangkan aku? Ibukulah yang  menggantikan peran Ayah selama ini. Berjuang mati – matian demi menghidupi keluarga kami. Sebenarnya aku tidak rela jika Ibu berjuang sendirian, sedangkan suaminya? Berada jauh entah dimana, bahkan aku yakin pasti Ibu juga tidak mengetahui dimana Ayah berada sekarang.
Kulangkahkan kakiku menuju pelataran sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Bahkan dengan lantai yang masih beralaskan tanah. Kukencangkan tali yang mengikat setumpuk kayu bakar itu dipunggungku saat akan memasuki tempat tinggalku ini. Suasana sepi menyambutku seketika, aku tidak heran. Memang Ibuku sedang sibuk memasak dan adikku satu – satunya itu pasti sedang bermain dengan anak tetangga. Aku berjalan ke arah Ibuku lalu meletakkan kayu bakar hasil jerih payahku itu di dekat pawon, sebuah kata yang asing sepertinya pada jaman global seperti ini. Kami memang masih memasak menggunakan kayu bakar karena kami tidak mampu membeli kompor gas layaknya orang – orang modern itu.
“Istirahat dululah nak. Bukankah sebulan lagi kau akan ujian?” Ucap Ibuku di sela – sela aktivitas memasaknya.
“Nanti saja bu, Narni masih ingin membantu Ibu kok.” Jawabku sembari mengusap peluh yang sudah memenuhi mukaku saat itu.
“Ya sudah, cucilah piring saja.” Sambung Ibuku halus dengan logat jawa yang masih kental di dalamnya.
Segera aku menuruti perintah Ibu, ku posisikan tempat dudukku di depan sebuah tumpukan piring yang sudah menantiku untuk segera membersihkannya. Lagi – lagi sekelumat pertanyaanku tentang siapa ayahku hadir kembali.
“Ayah itu seperti apa?” Tanyaku tiba – tiba, membuat Ibuku sejenak menghentikan aktivitasnya menggorengnya. Aku yakin Ibu masih berpikir untuk menjawab pertanyaanku ini. Aku harap bukan kebohongan lagi yang Ibu akan katakan, aku ingin jawaban yang sebenarnya.
“Ayahmu pribadi yang baik. Hanya saja kamu belum mengetahuinya.” Jawab Ibuku datar. Membuatku merasa tidak puas atas jawaban yang kudapatkan baru saja.
“Mengapa Ayah tak mengirimi ibu uang?”
“Mungkin ayah belum sempat.” Lagi – lagi Ibu tak menanggapi masalah ini serumit yang aku pikirkan. Untuk kesekian kalinya Ibu hanya sabar dan sabar.  Bukannya aku tak senang, tapi aku kasihan sama Ibu, tega- teganya laki – laki yang disebut Ayah bagi kita itu tidak mempedulikan Ibu saat ini, saat kondisi Ibu yang sudah makin renta. Aku kasihan, aku khawatir.

****

“Narni, kau sudah punya rencana untuk meneruskan kuliah?” Seorang teman di dekatku tiba – tiba bertanya.
“Belum sama sekali.” Jawabku yang masih tetap mencoba memecahkan soal Limit di hadapanku ini.
“Hah? Bukannya sebentar lagi kita kuliah?” Tanyanya lagi penuh keheranan.
“Bahkan aku tidak tahu, apakah aku bisa melanjutkan untuk kuliah atau tidak.” Jawabku lega saat soal yang terbilang sulit ini berhasil kupecahkan.
“Oh.” Ujarnya pelan, sepertinya dia merasa bersalah menanyakan hal itu kepadaku.
“Kalau kamu, Lisa?” Untuk pertama kalinya, aku memandang lawan bicaraku tersebut.
“Ayahku menyarankanku untuk melanjutkan ke UGM. Tapi, aku tidak yakin bisa menembus tes masuknya.” Ucap Lisa sedih. Ku tepuk pundak Lisa berulang untuk meyakinkannya.
“Kamu pasti bisa. Jangan jadikan keraguanmu menjadi sebuah hambatan untuk meraih impianmu itu. Dan jangan pula kecewakan Ayahmu, Lisa.”
“Terima kasih Narni, pasti Ayahmu bangga memiliki anak sebaik dan secerdas dirimu.”
Tidak ada kata yang terlontar dari mulutku. Diam adalah satu – satunya jalan yang bisa kulakukan. Memang apa yang bisa kuperbuat untuk membanggakan orang tuaku apalagi ayahku yang belum pernah sedetikpun menemuiku? Bahkan sempat terpikir, membanggakan ayah bukanlah hal yang penting lagi saat ini. Bagaimana bisa aku membahagiakan seseorang yang tidak pernah mempedulikan kehidupan kami.
Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Ku masukkan seluruh bukuku ke dalam tas, dan ku tata sedemikian rupa. Tak banyak waktu yang kubuang sia – sia  sepulang sekolah, aku hanya ingin langsung pulang untuk melihat keluarga kecilku dan tentunya membantu ibuku. Aku berpamitan dengan beberapa teman dekatku, dan sedikit melepas canda dengan mereka walau hanya sebentar. Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku berjalan menuju gerbang sekolah. Tapi suasana aneh datang saat aku melihat sosok anak kecil yang sepertinya tak asing lagi bagiku, terlihat sedang menunggu seseorang. Sepertinya aku kenal dengannya. Sinta? Adik kecilku itu, kenapa dia kemari? Bergegas aku menghampirinya.
“Sinta? Ngapain kamu di sini?” Pertanyaanku yang tiba – tiba ini sedikit mengagetkannya. Sontak Sinta mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Ada apa?” Sekarang keterkejutan bergantian menghinggapiku saat menatap wajah adikku yang penuh dengan kecemasan.
“Ibu sakit kak.”
Kalimat singkat yang terdengar sangat lirih itu membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku sempat kehilangan jiwaku sendiri ketika mendadak ragaku tidak bisa digerakkan. Namun aku segera sadar, ku gandeng tangan adikku dan mengajakknya untuk lekas pulang ke rumah. Kecemasan mulai melingkupi seluruh tubuhku dan keringat dingin pun mulai keluar dari setiap pori – pori kulitku. Bagaimana mungkin, Ibu sakit?
Untung saja jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh. Dalam kurun waktu setengah jam, kami sudah memasuki area rumah. Segera kubuka pintu rumah yang kebetulan terkunci, lalu kulangkahkan kakiku menuju kamar ibuku. Wajahku mendadak pucat saat kulihat sosok perempuan yang kusayangi terbaring lemah di atas ranjang. Perlahan kudekati ibuku yang sepertinya sudah mengetahui kehadiranku di sampingnya.
“Narni, kau sudah pulang? Maaf ibu tidak bisa berjualan saat ini, tiba – tiba kepala ibu ter,”
“Sudah, Ibu tidak usah terlalu banyak berpikir. Istirahatlah saja, biar Narni yang akan berjualan siang ini.” Ujarku terpaksa memotong pembicaraan ibu. Aku tidak ingin pada saat kondisi ibu yang sedang sakit seperti ini, Ibu masih sempat berpikir terlalu berat. Aku sangat khawatir jika saja kondisi Ibu semakin buruk.
“Narni, maafkan Ibu. Jika saja Ayahmu di sini, pasti kamu tidak perlu bekerja sekeras seperti ini.” Ujar Ibuku, raut wajahnya mendadak lesu dan sebulir embun berhasil jatuh mengalir pipinya. Kuusap air mata itu lembut.
“Tidak Ibu, aku tidak keberatan bekerja sekeras ini. Walau tanpa ayahpun, aku juga tidak merasa menderita untuk hidup seperti ini.”
Kutundukkan kepalaku sejenak, pikiran – pikiran tentang ayah yang sangat merisaukanku begitu juga dengan ibuku bukanlah cara yang tepat untuk memecahkan masalah saat ini. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara menyembuhkan ibuku, sementara kami tidak memiliki cukup uang untuk membawa ibu ke rumah sakit.
“Kita ke rumah sakit ya bu?” Tawarku cemas sembari kuletakkan punggung tanganku di atas dahi ibuku sekedar untuk mengecek temperatur tubuhnya sekarang.
“Tidak usah nak, Ibu hanya sedikit kelelahan. Jangan terlalu cemas ya!” Jawab Ibu sembari tersenyum, senyum yang benar – benar tulus untuk kami.
“Sinta, tolong ambilkan air hangat untuk Ibu.” Suruhku kepada adikku yang dari tadi tidak berani berucap sepatah katapun, mungkin dia juga merasa khawatir. Sinta mengangguk kemudian melangkah keluar untuk mengambilkan minum. Sejenak kupijat tangan kurus Ibuku, berusaha membuat keadaan Ibu menjadi lebih baik.
“Ngomong – ngomong, kamu berencana melanjutkan kuliah kemana, Narni?”
Pertanyaan Ibu barusan membuatku terkejut untuk kesekian kalinya. Rasanya tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Ibu, saat mengingat keadaan ekonomi kami yang sangat bertolak belakang dengan impianku saat ini. Bagaimana caranya aku harus menjawab bahwa sebenarnya impianku dari kecil adalah menjadi seorang dokter. Tapi biaya darimana? Dengan sangat terpaksa, kulupakan impian besarku itu, impian yang bisa dibilang mustahil untuk dicapai oleh orang sepertiku.
“Belum tahu bu.”
“Maaf nak, jika Ibu tidak bisa menyekolahkanmu nanti. Kau harus banyak berdoa dan berusaha, agar Tuhan memberikan berkahNya kepada kita, dan membuatmu bisa meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi jika hanya mengandalkan keadaan ekonomi kita, kamu tahu sendiri bukan? Sekali lagi maafkan Ibu ya, Nak.” Terlihat kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam pada diri Ibu. Aku pun hanya bisa menundukkan wajahku dan menyembunyikan kesedihanku, saat mendengar pengakuan tulus dari Ibuku baru saja.
“Tidak apa – apa, bu. Semoga saja Narni bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Narni akan berjuang.” Saat itu pula ia mencurahkan segala perasaan sayangnya kepada ibunya sendiri, dipeluk erat ibunya sembari mengucapkan bertubi – tubi terima kasih atas pengorbanan ibu yang sudah merawatnya hingga saat ini, walau tanpa peran seorang ayah sekalipun.

****

 “Terima kasih bu.” Ujarku mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko ini. Aku memang sengaja menitipkan dagangan ibu ke toko tetangga, karena aku harus masuk sekolah sementara kondisi ibuku tidak memungkinkan untuk berjualan sepanjang hari. Ku ambil wadah yang sebelumnya menjadi tempat menjual daganganku. Syukurlah, daganganku ludes terjual hari ini.
“Sebentar Narni.” Pangilan pemilik toko itu menghentikan langkahku.
“Sepertinya kamu punya tamu ya? Aku melihat seorang laki – laki berada di depan rumahmu sepanjang hari tadi, dan adikmu mempersilakannya masuk.”
“Seorang laki – laki?”
Secepat mungkin aku melangkahkan kakiku menuju rumah sebelum kuucapkan terima kasih kepada pemilik toko tersebut. Kepanikan mendadak menyelimuti ragaku, aku harap tidak terjadi apa – apa, aku harap laki – laki itu bukan orang jahat, aku harap, Ya Allah. Kupercepat langkahku saat rumahku sudah mulai tampak. Hingga akhirnya aku sudah berada di depan pintu rumahku sendiri.
“Ibu?” Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumahku tak ada tanda – tanda tamu yang singgah, namun mendadak kedua bola mataku memfokuskan pandangan pada sepasang sepatu, yang sepertinya milik seorang laki – laki.
Sesegera mungkin aku berlari menuju kamar ibuku dan betapa terkejutnya ketika kudapati seorang laki – laki paruh baya yang sedang bersimpuh mencium tangan ibu yang sedang berbaring lemah bersamaan dengan air mata yang berleleran keluar dari kedua pelupuk mata laki – laki asing itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ibu?” Suaraku seketika membuyarkan suasana. Pandangan ibu dan laki – laki asing itu sontak  mengalihkan fokus mereka kepadaku. Aku hanya bisa mematung di tempat tanpa mengetahui apapun.
“Narni?” Laki – laki asing itu terkejut saat melihatku, tiba – tiba ia berjalan mendekatiku. Matanya yang penuh dengan misteri itu membuatku takut, refleks aku melangkah mundur untuk menjauhinya.
“Berhenti! Anda siapa?” Tanyaku gemetar menahannya agar berhenti untuk mendekatiku.
“Aku, ayahmu. Kau sudah besar sekarang.” Jawabnya sembari tersenyum.
“Ayah? Ayah siapa?” Ujarku sama sekali tidak  percaya.
“Aku ayahmu.” Jawab Laki – laki asing itu berusaha meyakinkan.
“Dia ayahmu, nak.” Ibuku menimpali secara tiba – tiba. Entah kenapa pernyataan ibuku ini membuatku lemas seketika, tidak ada aura kebahagiaan secuilpun muncul dalam diriku. Malah kebencianlah yang tiba – tiba menggantikannya.
“Aku tidak punya ayah selama ini. Kenapa engkau yang hanya orang asing tiba – tiba mengaku sebagai ayahku?” Kebencianku mulai merambah ke sekujur tubuhku
“Maafkan ayah, nak. Selama ini ayah tidak bisa menemani kalian.” Laki – laki asing itu jatuh berlutut di hadapanku. Benar – benar memuakkan.
“Jangan sekali – kali menyebut nama ayah di hadapanku!” Sepertinya kemarahanku sudah mencapai puncaknya. Lagi – lagi aku melangkahkan kakiku mundur untuk menjauhinya.
“Maafkan ayahmu nak. Ibu mohon.” Terdengar lemah suara ibuku yang memohon kepadaku. Tiba – tiba perasaanku luluh seketika saat memandang ibuku yang menangis, raut wajahnya tergambar jelas memintaku untuk memaafkan ayah. Aku tahu, Ibu adalah pribadi yang sangat sabar, dia mendidik kami untuk menjadi pribadi yang kuat sekaligus pemaaf. Tapi apa aku bisa memaafkannya, memaafkan seorang Ayah yang harusnya mendampingi kami dalam menghadapi beratnya hidup, yang harusnya melindungi kami, dan menjadi seorang pemimpin dalam sebuah keluarga, tapi ia tidak melakukannya satupun. Aku jatuh terduduk, tidak kuat menahan beban yang amat menyakitkan ini. Laki-laki itu memeluk tubuh kecil Narni, ia akhirnya menyerah, keinginan terpendam akan hadirnya seorang ayah saat kecil dululah yang menjadi alasannya saat itu.
“Nak, ayah minta maaf. Ayah terpaksa meninggalkan kalian dalam jangka waktu selama ini. Itu murni kesalahan ayah. Ayah harus berjuang membayar hutang yang menumpuk karena perusahaan ayah bankrut, ayah harus merantau dan terpaksa meninggalkan kalian. Tapi sekarang ayah sudah berhasil nak.” Laki – laki yang mengaku sebagai ayah Narni itu mempererat pelukannya. Air mata Narni tumpah ketika keinginan untuk mendapat pelukan seorang ayah itu akhirnya terwujud.
“Ayah sama sekali tidak melupakan kalian. Tanpa kalian ketahui, Ayah benar-benar merindukan kalian, selama 16 tahun ini. Cinta dan kasih sayang ayah tidak akan pudar untuk kalian, percayalah.”
“Maafkan Narni, Ayah.” Ujarku lemas. Ia menyesal, selama ini ia hanya mementingkan egonya sendiri. Dengan gamblangnya ia menghakimi bahwa Ayah yang selama ini ia nanti-nantikan sama sekali tidak mempedulikan kehidupan mereka, tetapi semua dugaan-dugaannya itu ternyata salah besar. Tiba – tiba Ayah melepaskan pelukannya dan menatap Narni lekat – lekat.
“Ayah dengar, Narni ingin jadi dokter, ya?”
Narni mengangguk dengan sedikit terisak.
“Jangan pikirkan biaya lagi. Kejarlah mimpimu setinggi mungkin, sekarang ayah akan selalu mendukung dan berjuang untuk kebahagiaan kalian, untuk anak – anak ayah.”
“Terima kasih, Ayah.” Suasana haru tersebar menyelingi mereka. Dipeluknya lagi ayah yang selama ini ia rindukan, ia berjanji akan selalu menyayanginya.
“Tidak semua kasih sayang seorang Ayah itu harus  benar – benar  tampak di mata anak – anaknya karena kasih sayang seorang ayah itu akan selalu ada untuk kita, walau tersembunyi sekalipun.”
Kalimat terakhir ibu melengkapi suasana haru biru bercampur kebahagiaan siang itu. Keluarga yang dulunya terpisah, sekarang saling berbagi kebersamaan dan ketulusan sebuah  kasih sayang.