Dreaming in حلالا way. . .

Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Apa sih artinya?

Selasa, 26 Januari 2016

KECEWA

Salahkah bila kecewa tumbuh di antara lingkaran kebahagiaan?
Salahkah menolak di antara kerumunan persetujuan?
Salah, memang salah karena engkau tidak akan diprioritaskan meski alasanmu sebenarnya patut dipertimbangkan.

Entahlah mungkin ini merupakan suatu kekecewaan pertama di akhir perjalanan ini. Sungguh disayangkan, semestinya perjalanan ini perlu ditutup dengan kebahagiaan pun kepuasan agar terkenang indah. Namun, sejatinya Tuhan berkata lain.
Rasa kecewa harus kutanggung dulu untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya. Ya, aku harus menerimanya. Tetapi mengapa aku harus kecewa terhadap keputusan yang tidak berpihak kepadaku?
Ya, sejujurnya aku kecewa terhadap keputusan mereka terhadap temanku. Jika telah menyangkut amanah mungkin sulit, tapi tidak pantaskah dia menolak? Tidak bolehkah dia mengedepankan orang-orang yang harus dia tundukkan bakti kepada mereka? Tetapi mengapa mereka abaikan semua itu?

Tidak adil!

Entahlah, mengapa aku yang kesal. Aku hanya ingin tidak ada yang merasa diberatkan atau dipaksakan dalam setiap keberjalanan kami. Tetapi, sekeras apapun menolak, sekesal bagaimanapun hati ini, tetap saja tidak akan merubah keadaan.
Setelah ini, aku hanya berharap amanah yang diberikan kepadanya adalah kehendak ALLAH, keputusan yang semestinya akan berdampak baik, dan berubah menjadi jalan ynag terbaik baginya. Pun dengan amanah ini akan membuatnya lebih baik, lebih sehat, dan lebih ceria lagi.

Sebagai orang yang tidak pintar menghibur apalagi menasihati, hanya lantunan doa yang mampu kuberikan. Semoga ALLAH melindungimu dan menjagamu :)

Minggu, 04 Oktober 2015

[Cerpen] Perang dan Penderitaan



Tak ada yang menginginkan hidup pada masa ini. Masa di mana perang menjadi santapan setiap hari, begitu pun dengan ranjau dan bom yang meledak di setiap kedipan mata. Namun, tidak ada yang bisa melawan bahkan menyingkapnya. Semua mengalir bak air, pengorbanan, darah, dan air mata, menjadi hal yang tidak tabu lagi bahkan dapat ditemui setiap saat. Mereka yang menjadi korban perang, tentu saja merindukan sebuah negeri yang damai, aman, dan tenteram. Namun semenjak perang bergulir, kondisi manusiawi tak pernah tercium kembali di negara ini.

Bosnia,  1976

“Laura, berlindunglah! Tentara musuh sudah mendekat.”
Seorang wanita paruh baya berlari ke arah anak kecil tak jauh dari pandangannya. Digendongnya raga kecil anak tersebut dan selekas mungkin dibawanya ke sebuah lorong bawah tanah, tempat mereka berlindung seperti biasa. Tak hanya mereka, berpuluh-puluh warga sekitar sudah berkerumun terlebih dahulu di sana. Semenit kemudian, ledakan besar terdengar. Sesuai dugaan, tentara musuh itu menjatuhkan bom di wilayah mereka untuk kesekian kalinya. Tak ada aktivitas lain selain menunggu, berdoa, dan memeluk anak mereka masing-masing dengan penuh kecemasan. Begitu pun dengan Ibu tadi, tak sedetik pun ia melepas pelukannya kepada anak perempuan bernama Laura itu.
Baginya sudah cukup suami dan anak laki-lakinya yang telah menjadi korban kejahatan perang. Setahun yang lalu, di depan matanya sendiri, Ibu tadi menyaksikan kekejaman tentara musuh menangkap laki-laki yang dicintainya tersebut. Tak berhenti di situ, salah satu tentara musuh itu langsung menghunuskan pedang tepat di perut suaminya hingga darah segar keluar dari mulutnya. Ibu tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Ia tak sanggup lagi menyaksikan kebejatan tentara musuh tadi.
Yang bisa dilakukannya hanyalah berlari dan mengendap-endap, berusaha agar Ibu dan Laura tidak tertangkap musuh seperti suaminya. Saat itu, mereka bersembunyi di sela-sela puing rumah bekas bombardir tentara musuh. Hingga ia teringat kepada anak sulungnya. Kala itu, ia hanya bisa membawa Laura karena pergerakan tentara musuh sangatlah cepat. Tak sedetik pun mereka memberikan kesempatan baginya untuk mencari anak sulungnya tersebut. Ingin sekali ia keluar dari sana dan mencari putra kesayangannya itu, namun cara itu pastilah mustahil, banyak sekali tentara musuh yang berjaga di luar. Masih jelas terdengar teriakan warga lainnya sebelum tembakan-tembakan peluru dan pedang-pedang itu melesat untuk ke sekian kalinya pada tubuh mereka. Ketika itu, ia memutuskan untuk berdiam di bawah atap rumah yang rubuh hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tak sengaja, melalui celah kecil di depannya, pandangannya menangkap seorang pemuda yang tidak asing. Ya, dia anak laki-laki kesayangannya. Kelegaan sedikit menjalari tubuh wanita itu hingga kemudian semuanya redup saat tentara musuh menangkap dan menyeretnya hilang dari pandangan Ibu.
Ibu mempererat pelukannya kepada Laura. Rasanya ia tidak sanggup membayangkan kejadian tidak manusiawi itu lagi. Kini ia hanya memiliki Laura, ia tak ingin kehilangan satu-satunya buah hatinya tersebut. Pasalnya tentara musuh sering mengincar anak-anak dan pemuda. Mereka sering membunuh anak-anak tak berdosa itu sedangkan pemuda yang masih kekar dipaksa untuk melakukan kerja tanpa upah. Mengapa perang itu terjadi? Mengapa manusia di dunia ini tidak memilih hidup damai tanpa saling membunuh seperti ini? Entahlah, kapan pertanyaan itu akan terwujud.

###

Entah sudah berapa kali bom itu jatuh di tempat ini. Tempat yang sudah berulang kali dibangun setiap ledakan itu meluluhlantahkan bangunan tempat tinggal masyarakat Bosnia semenjak perang saudara bergulir. Namun sekarang, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, runtuhan tembok, dan sisa-sisa kebakaran yang di sebagian sudut yang masih terlihat mengepulkan asapnya akibat ledakan bom tadi malam.
Lagi-lagi Ibu Laura tampak memilah sisa-sisa bangunan tersebut. Berharap masih ada harta ataupun makanan yang tersisa untuk sekedar mengganjal perut yang belum terisi semenjak tadi malam. Bukan hanya penyiksaan batin yang di derita akibat perang, para korban pun tidak dapat bekerja dan mendapatkan makanan yang cukup untuk kebutuhan mereka.
Laura tampak berjalan mendekati Ibu yang terduduk lemas, wanita itu tampak putus asa, ternyata tak ada yang tersisa, semua barang sudah terbakar akibat ledakan bom semalam. Disandarkan badan mungilnya itu di samping Ibu. Badannya masih sedikit gemetar akibat tragedi malam tadi. Pandangannya menyebar ke seluruh tempat yang sudah hampir mirip tanah lapang kala itu. Tidak ada tawa, canda, bahkan gurauan. Yang ada hanyalah tangisan anak-anak yang nyaring terdengar begitu pun orang – orang dewasa yang tampak meratapi rumah mereka yang telah hancur lebur. Laura hanya bisa terdiam sembari memeluk boneka teddy bear kesayangannya.
“Ayo kita ke pengungsian.”Ajak Ibu sembari mengelus rambut hitam Laura lembut.
Laura menyetujui permintaan Ibu. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain berpindah ke pengungsian. Setidaknya mereka bisa mendapatkan sedikit sisa makanan di sana. Walau pun pengungsian bukan tempat yang tepat untuk mengandalkan makanan. Pasalnya, hampir seluruh warga di negara kecil itu mengungsi ke sana, sehingga bekal makanan pun terkadang tidak mencukupi seluruh orang yang tinggal.
Mereka berjalan tertatih-tatih ke pengungsian. Rasanya berat sekali meninggalkan rumah yang sudah mereka tinggali bertahun-tahun. Namun, mereka juga harus mempertimbangkan banyak hal dan tetap waspada jika saja bom akan dijatuhkan kembali.
Kondisi pengungsian yang kumuh dan penuh sesak tidak serta merta langsung menghibur hati mereka. Suasana di sana pun sama. Hanya ada kesedihan dan kecemasan akibat perang. Ibu mendadak teringat kedamaian di masa lalu. Dulu, kondisi di sini baik-baik saja ketika negara Bosnia belum terpecah belah menjadi dua kubu seperti ini. Konon, hanya konflik kecillah yang telah memecah belah keduanya hingga meletusnya perang saudara.  Sayangnya, negara bagian timur tempat Ibu dan Laura tinggal tidak memiliki cukup persenjataan dan tentara perang. Hingga akhirnya merekalah yang harus menanggung kekalahan dan menjadi pelampiasan perang dari kubu selatan.
Ibu dan Laura duduk di sebuah tempat  sempit beralaskan daun. Seperti yang dapat dilihat, pengungsian ini tidak mampu menampung semua pengungsi dengan kondisi yang layak. Semua harus rela membagi tempat dan makanan. Ibu mengamati setiap sudut tenda pengungsian tersebut, berusaha mencari makanan yang dapat mengganjal perutnya dan Laura. Namun, sepertinya nihil. Ia pun hanya dapat tertunduk pasrah. Di tengah kelaparan yang mendera, perlahan Ibu mulai terlelap dan bayangan tentang ayah dan anak sulungnya terngiang kembali.
“Ibu merindukan Ayah dan kakak, nak.” Ucap Ibu samar-samar di tengah kondisinya yang sedikit terlelap tadi.
Laura menatap wajah Ibu yang mulai tertidur. Ia mencerna perlahan makna kalimat tadi. Namun, ia tak kunjung menemukan maksud dari perkataan tadi. Dipegang erat tangan Ibunya, tak ingin rasanya untuk kehilangan atau pun berpisah dengan wanita satu-satunya yang dimilikinya itu.

Bosnia, 12.00 p.m

DUAAARRRR!!!!!

Ledakan bom meluluhlantahkan tenda-tenda pengungsian di ujung Bosnia itu tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka serangan akan secepat itu. Banyak korban berjatuhan dari pengungsi yang mayoritas masih tertidur pulas. Sedangkan, pengungsi lain yang masih selamat langsung berhamburan keluar dari tenda pengungsian tersebut. Mereka berlarian tak tentu arah, berusaha menyelamatkan diri.
Laura yang mendengar ledakan besar itu segera terbangun dan betapa terkejutnya dia saat tak didapatinya Ibu di sampingnya. Kekhawatiran dan kecemasan langsung menjalari tubuhnya. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berupaya menyelamatkan diri, ia hanya bisa menangis kemudian menghamburkan diri keluar seperti yang lain.
“IBU!!!!”
Dipanggilnya sosok wanita itu  berulang kali. Pikirannya kacau, ia tak tahu harus ke mana lagi. Setiap mata memandang, hanya ada mayat-mayat yang tergeletak sedangkan orang-orang yang selamat terus saja berlarian dan berteriak menambah panik suasana. Tubuhnya gemetar saat dilihat beberapa tentara perang mulai mendekat dan membantai wanita-wanita serta anak-anak seusianya. Ia berlari sekencang-kencangnya berusaha bersembunyi di balik semak-semak belukar di sekitar.
Rasanya, Laura sudah tak tahan lagi menyaksikan setiap adegan pembunuhan itu. Ia mulai meneteskan air mata, berusaha berteriak namun tak ada suara yang sanggup dikeluarkannya. Dadanya mulai sesak menahan penderitaan kala itu. Ia sadar, jika saja ia terus menerus memanggil Ibunya, tentu saja tentara perang itu akan menemui dan menghabisinya tanpa ampun.
“Laura.”
Suara samar itu mengalun pelan di telinga Laura, ingatannya langsung tertuju pada Ibu. Ditengokkan wajahnya ke belakang. Namun betapa terkejutnya dia, yang didapatinya adalah prajurit perang yang kemudian membungkam mulutnya lalu membawanya kabur. Laura tak dapat berbuat banyak, prajurit itu bergerak cepat tanpa memberikan kesempatan baginya untuk memberontak. Laura memejamkan mata tak sanggup melihat perbuatan apa yang akan diperbuat tentara itu pada dirinya, `Apakah ini akan menjadi akhir baginya?`

###

“Mengapa kau membawanya kemari?”
Suara seorang laki-laki terdengar berat di sudut ruangan gelap itu. Hanya ada lampu bercahaya redup menerangi dua orang yang terlihat bercakap-cakap sebelumnya. Sesekali ia mengisap putung rokok dan mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja.
“Setidaknya aku ingin melindunginya sesaat.”
Laki-laki muda lain di hadapannya merespon dengan sedikit cemas. Sama seperti rekannya. Ia menghisap rokok itu berulang kali, mengepulkan asapnya ke atas, membuat suasana menjadi semakin tidak nyaman.
“Melindungi seperti apa, Samuel? Lambat laun bos akan mengetahuinya dan ia pun pasti terbunuh seperti anak lainnya.”
Mendengar penuturan rekannya tadi, pemuda bernama Samuel itu hanya diam. Ia terlihat berpikir keras, tapi tak kunjung diperolehnya jalan keluar. Hingga akhirnya, Ia berdiri dan pergi meninggalkan lawan bicaranya tadi. Langkahnya berjalan ke sebuah bilik kecil. Di dalamnya terbaring gadis kecil yang sedang terlelap tidur. Kasihan sekali dia. Raut wajahnya sangat menggambarkan ketakutan dan penderitaan yang mendalam. Tentu saja ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang.
Samuel tak sengaja menjatuhkan senjata di punggungnya hingga membuat gadis kecil itu terbangun seketika. Matanya terbelalak saat mengetahui sosok tentara itu di depannya. Sontak, ia bergerak mundur saking ketakutannya.
“Pergi kamu! Dasar tentara jahat. Di mana Ibuku?”
Laura berteriak sembari membentak Samuel dengan nada keras. Kebenciannya sudah benar-benar memuncak. Pantas saja, ia sudah kehilangan semua anggota keluarganya dalam perang ini. Dan sekarang, dia sendirian. Samuel memungut senjata miliknya dan meletakkan kembali ke punggungnya. Ia berbalik arah meninggalkan Laura yang masih merengek memanggil-manggil Ibunya.
“Bahkan perang sudah melupakan ingatannya dariku.” Ujar Samuel pelan sekali, nyaris tak bersuara.

Keesokan harinya, Samuel datang menemui Laura kembali. Ia membawa sepiring makanan untuknya. Laura masih duduk di sudut ruangan itu, seperti semalam. Matanya memerah, sepertinya ia belum tertidur dari tadi malam.
“Ini untukmu. Makanlah!”
Laura tak bergerak. Ia tetap memeluk kedua lututnya, tanpa melepaskan pandangan was-was dari Samuel.
“Sudahlah. Aku tidak akan menyakitimu. Ini makanlah, kau pasti sangat kelaparan.”
Samuel mendekatkan piring itu ke arahnya. Awalnya Laura tetap bertahan di tempat tanpa menyentuh sedikit pun makanan itu. Namun, ketika Samuel menjauh, disambarnya piring tadi dan dengan lahap, ia langsung memakannya. Samuel sedikit lega, setidaknya Laura sedikit mempercayai dirinya. Samuel memnadang gadis kecil itu lamat-lamat. Penampilannya sudah benar-benar kusut dan tampak depresi. Kasihan sekali, gadis sekecil itu sudah dipaksa hidup pada zaman perang yang pasti akan mempengaruhi kondisi kejiwaannya.
Tiba-tiba salah seorang tentara lain memanggil Samuel dengan tergesa-gesa. “Cepat! Komandan akan segera ke sini!”
Samuel yang menyadari hal itu langsung bangkit dan menatap Laura tajam. “Kau, diamlah di sini! Jangan bergerak ataupun bersuara!” Tanpa mendengar jawaban dari Laura, Samuel langsung menutup bilik itu dan menguncinya dari luar. Berharap komandan tidak mengetahui bahwa Ia baru saja menyelamatkan seorang anak yang seharusnya dibunuh.

###

“Kau gila Samuel! Ini tidak main-main, kau menyelamatkan seorang anak dan menyimpannya di dalam markas? Kita bisa dibunuh oleh Komandan.” Seorang laki-laki tegap dan gagah yang diketahui adalah pemimpin pasukan itu berteriak keras, membentak Samuel. Ia sangat terkejut mengetahui keberadaan Laura di markas itu.
“Mana mungkin aku tega membunuhnya?” Balas Samuel dengan nada yang tak kalah keras. Pikirannya berkecamuk. Ia merasa sangat tersudutkan kala itu. Tentu saja teman-temannya berada di pihak pemimpin pasukan. Benar saja, menyelamatkan seorang anak adalah kesalahan yang fatal apalagi jika perbuatan itu disengaja. Bisa saja komandan perang menjatuhkan hukuman yang berat bagi seluruh pasukan.
“Ingat Samuel, nyawa seluruh pasukan akan menjadi ancamannya. Cepat atau lambat dia harus dibunuh.” Pemimpin pasukan itu berucap sekali lagi kemudian pergi meninggalkan Samuel sendirian di sana. Begitu pun dengan rekan-rekannya yang terlihat mengikuti pemimpin pasukan tersebut.
Samuel terdiam lama sekali. Ia meremas kepalanya keras. Pikirannya benar-benar memberontak, Apa yang harus dilakukannya sekarang? Benar-benar tak ada niat untuk membunuh gadis kecil itu. Ia berjalan mendekati bilik miliknya. Ketika dibukanya pintu tersebut, Samuel mendapati Laura yang lagi-lagi sedang terlelap tidur.
“Mungkin sudah saatnya aku membuatnya bahagia untuk terakhir kali.”
Laura yang mendengar gumaman Samuel langsung terbangun, sontak ia bergerak mundur ke sudut ruangan kembali. Sepertinya ia masih takut dengannya.
            “Apa kau mau kutunjukkan boneka dan keberadaan keluargamu?”
Laura terdiam. Tentu saja ia ingin sekali bertemu dengan keluarganya, apalagi memiliki boneka kesayangannya yang belum sempat ia temukan saat bom itu meledakkan pengungsian. Namun, Ia tak langsung percaya dengan perkataan Samuel walaupun begitu, matanya berbinar-binar memandang Samuel penuh harap.
“Apakah aku terlihat berbohong? Apakah aku pernah menyakitimu selama ini?”
Laura berpikir kembali. Ya, ia sadar, selama ini tak sedikit pun Samuel menyakitinya, bahkan membentaknya pun tak pernah. Samuel memang tentara yang berbeda. Laura pun akhirnya mengangguk, menyetujui bujukan Samuel.
Samuel tersenyum, dihampirinya Laura perlahan. Dan untuk pertama kalinya juga, ketakutan Laura terhadap Samuel lenyap. Bahkan Ia menggenggam tangan Samuel erat. Harapan untuk bertemu keluarga dan memiliki bonekanya kembali sudah sangat dirindukan.
Mereka berjalan menembus kegelapan malam. Langkah mereka menapak pelan sekali, mengendap-endap perlahan berusaha tak menimbulkan suara dan membangunkan tentara lain yang sudah tertidur. Samuel membawa Laura ke tempat yang cukup jauh dari markas. Mereka berjalan ke sebuah tanah lapang. Laura heran, mana mungkin ia menemukan keluarganya di sini. Tempat ini sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda keberadaan keluarganya. Namun perlahan, mereka menemui sebuah rumah kecil yang hampir rubuh. Samuel menghentikan langkahnya.
“Nah, di tempat itulah mereka berada, Ayah, Ibu, kakak, dan bonekamu. Kamu berani mengambilnya, bukan?”
Samuel menunjuk sebuah rumah di hadapan mereka. Awalnya Laura ragu, karena rumah itu sudah tampak rusak dan tidak mungkin untuk dihuni lagi. Namun, karena Laura sudah terlanjur mempercayai Samuel, ia pun langsung menuruti perkataan tentara itu dan berlari ke arah rumah tersebut. Sesampainya di sana, dibukanya pintu rumah itu perlahan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas kondisi rumah tersebut, penerangan yang minim menghalanginya untuk bergerak cepat ke dalam.
“Ibu, Ayah, kakak?”
Laura terus memanggil satu per satu keluarganya tersebut tanpa henti. Namun, semakin dalam ia memasuki rumah itu, tak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Laura hampir putus asa. Hingga akhirnya, senyumnya terkembang saat ditemuinya boneka teddy bear kesayangannya tergeletak di atas kursi tua tak jauh dari keberadaannya.
“Aah, kau di sini rupanya!”
Laura berjalan perlahan ke arah boneka itu. Di raihnya boneka itu dan dipeluknya erat hingga kemudian ledakan besar menghancurkankan rumah itu. Samuel mematung lama sekali. Ia masih menatap rumah dengan api yang menyala-nyala itu.
“Maafkan kakak, Laura.”
Hatinya hancur saat mendapati kenyataan bahwa ia telah membunuh Laura, adik kesayangannya itu dengan tangannya sendiri. Satu tetes air mata itu berhasil mengalir di pipinya. Sekarang, ia tidak bisa menatap wajah adiknya lagi apalagi melindunginya. Namun setidaknya, ia telah memberikan harapan dan kebahagiaan kepada laura, sesaat sebelum boneka itu meledak bersama dirinya.
“Ayah, Ibu, Laura, kita akan bertemu setelah ini.”
Samuel berjalan perlahan dan tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke dalam jurang tak jauh dari tempatnya berdiri. Hingga kemudian ledakan besar kembali terjadi. Inilah akhir bahagia baginya, sebuah akhir di mana Samuel telah menyudahi penderitaan akibat perang, sebuah akhir di mana ia dapat berhenti membunuh manusia tanpa dosa, tetapi, menjadi sebuah awal bagi ia dan keluarganya memulai kehidupan baru di alam sana.

TAMAT

Minggu, 23 Agustus 2015

[Cerpen] Cahaya dari Papua



 “Kamu yakin?” Ujar Laki-laki itu sembari memicingkan alisnya. Keraguan dan kekhawatiran terus terulas di wajahnya ketika didapati keinginan putri semata wayangnya itu.
Elvi sadar, keputusan ini pasti sangatlah berat, mengingat umurnya yang sudah menginjak 22 tahun. Usia yang selayaknya sudah menikah, namun ia memilih untuk mengabdi di daerah terpencil usai menamatkan pendidikannya di bangku kuliah.
“Pikirkanlah kembali Elvi jangan tergesa-gesa! Apakah kamu benar-benar mantap untuk mengajar di Papua selama 5 tahun? Papua itu berbeda dengan Jawa, sulit untuk beradaptasi di sana. Ibu khawatir engkau tidak betah.”
Elvi menundukkan wajahnya. Pikirannya berkecamuk. Sebuah keputusan yang sulit ketika ia dihadapkan antara keinginan Ibunya atau pengabdian yang sudah ia nanti-nantikan sedari dulu. Ibu Elvi adalah wanita yang sangat menjunjung adat Jawa. Sudah berulangkali beliau menginginkan Elvi untuk menikah di usia muda seperti layaknya gadis-gadis Jawa lainnya. Tetapi Elvi masih ingin melakukan hal lain, ia masih ingin menggenggam harapan dan belajar mengabdi untuk menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya dengan mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak di Papua, apakah keputusannya salah?
“Elvi harap Ibu merestui saya.”
Ya, keputusannya sudah bulat. Inilah jalan hidup yang akan dia ambil, sebuah jalan yang dia harap dapat memberi hikmah lebih bagi kehidupannya, sebuah jalan yang ia harap akan menuntunnya menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain.
 “Baiklah Ibu merestuimu Nak, jaga dirimu baik-baik!” Ucap Ibu lembat sembari mendekap Elvi penuh ketulusan. Hatinya trenyuh. Senyumnya seketika terkembang sembari dibalasnya pelukan Ibu. Terima kasih Ibu.
****
Elvi  menatap ke luar jendela pesawat terbang tersebut. Terlintas sebentar ekspresi Ibu dan Bapak kemarin sebelum keberangkatannya ke Papua hari ini. Begitu berat meninggalkan dua orang yang begitu dicintainya dalam waktu lama. Namun, inilah jalan kehidupan yang telah ia pilih.
Setelah 3 jam penerbangan, pesawat tersebut lepas landas tepat di Bandara Sentani, Jayapura, Papua. Elvi tidak sendiri, ia bersama 12 orang lain yang tergabung dalam program tahunan pemerintah. Program ini bertujuan untuk mengirimkan guru-guru di pulau Jawa untuk mengabdi selama 5 tahun di Papua.
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencapai sekolah yang berada di Distrik Kiwirok Kabupaten Jayapura.  Baru di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi berhenti. Pantas saja, medan yang mereka lalui tidak bisa dilewati dengan kendaraan. Sekolah itu berada di area pegunungan dan sangat jauh untuk ditempuh. Medan yang becek dan terjal memaksa mereka untuk berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. Sebuah awal yang berat, hingga akhirnya kaki – kaki itu menapaki sebuah sekolah dasar  tempat pengabdian mereka selama 5 tahun ke depan.  Sebuah tempat yang menjadi awal dari segalanya.
***
Hari ini Elvi dan rombongan menuju SD Kiwirok. Ketika pertama kali bertemu, Elvi dapat melihat binar-binar mata anak-anak yang sangat antusias menyambut mereka. Berbeda dengan SD di Jawa, jumlah murid di sini tidak terlalu banyak, hanya sekitar 10 hingga 15 orang di setiap kelasnya. Kebetulan Elvi dan Tomi, teman satu kelompoknya mendapat jatah mengajar kelas 2 SD.
Nara gerotelo?”
Sapaan Tomi  dengan bahasa Papua tersebut langsung disambut riuh oleh anak-anak. Semua  menjawab baik, membuat Elvi paham jika Tomi baru saja menanyakan kabar mereka.
Sekolah ini sangat unik, meski bangunannya sederhana dan hanya terdiri dari beberapa ruang saja, tapi ketika menengok ke luar, bentangan pegunungan nan hijau terpampang indah menyejukkan mata. Fakta lain yang baru Elvi sadari, murid-murid di sini tidak memakai sepatu dan membawa banyak bukuseperti anak-anak sekolah pada umumnya. Elvi maklum bahwa medan yang terjal dan becek tidak memungkinkan untuk dilalui dengan sepatu itu, begitu pun dengan harga buku yang terlampau mahal untuk dibeli. Benar-benar rintangan yang berat.
Elvi mengajak mereka untuk belajar bercerita. Sembari membentuk posisi duduk melingkar, Elvi menunjuk satu per satu dari mereka bergiliran bercerita. Fakta lain yang mengejutkan Elvi adalah rata-rata dari mereka berangkat ke sekolah pukul 3 dini hari hanya untuk datang ke sekolah tepat waktu. Tak disangka mereka akan berjuang sekeras ini untuk mengenyam pendidikan. Mereka benar-benar hebat, semangat merekalah yang meyakinkannya untuk tetap tinggal dan menjalani pengabdian dengan penuh ketulusan.
“Oke adik-adik, karena waktu sudah siang, pelajaran dicukupkan sampai saat ini dahulu, besok disambung lagi ya.”
Tampak raut-raut wajah kecewa anak-anak saat mendapati pelajaran telah usai. Ketika Elvi dan Tomo akan kembali, terlihat  beberapa anak mengikuti mereka.
“Kakak, boleh kami ikut? Ingin main bersama kakak-kakak.”
Elvi dan Tomo bertatapan penuh keheranan, hingga akhirnya Tomo tersenyum menatap mereka. “Boleh, ayo ikut!” Ujar Tomo ceria sembari menggandeng tangan-tangan mungil mereka, begitu pun dengan Elvi.
Di tengah perjalanan pulang, Elvi serombongan begitu pun dengan anak-anak tadi bercerita banyak hal. Hingga tanpa sengaja, Elvi tersandung akar pohon yang membuatnya tersungkur ke tanah.
“Ah, kakiku!”
Erangnya berteriak kesakitan. Beberapa teman datang mendekat dan menolong Elvi, sepertinya kaki Elvi terkilir, Elvi pun harus dibantu berjalan oleh rekan-rekannya. Sesampainya di rumah, Elvi beristirahat sejenak sembari mengurut-urut kakinya yang terluka. Rasanya sakit sekali. Tiba-tiba anak-anak yang menemani Elvi tadi membawakannya sebuah mangkuk berisi cairan hijau.
“Itu untuk apa?” Ujarnya penasaran,
“Ini untuk kaki kakak. Kami biasa menggunakan ramuan ini untuk mengobati sendi yang terkilir.” Jelas mereka polos
Aku menatap cairan tersebut dengan sedikit ragu. Namun melihat sikap tulus dan kepedulian anak-anak itu mendorongku untuk mencoba ramuan tersebut. Kubiarkan mereka mengurut-urut kakiku dengan ramuan tadi, lagi-lagi aku kagum dengan mereka. Anak – anak sekecil mereka sudah pandai mengobati luka seperti ini, hebat sekali.
“Terima kasih ya! Ngomong-ngomong kalian tidak dimarahi orang tua kalian jika pulang terlambat?” Tanya Elvi tiba-tiba kepada empat murid di hadapannya.
“Tidak kok. Orang tua kami mengerti jika sekolah kami jauh. Kami pun sering menginap di rumah ibu dan bapak guru. Hari ini bolehkah kami menginap di sini?”
Elvi cukup terkejut mendengar hal ini. Jika dipikir kembali perkataan mereka ada benarnya juga, jarak rumah yang jauh menjadi faktor enggannya anak-anak Papua untuk bersekolah. Elvi pun tersenyum kemudian mengangguk menyetujui permintaan mereka. Seketika saja mereka bersorak penuh kegirangan.
Semenjak tinggal di Papua, Elvi benar-benar harus menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan yang begitu kontras dengan Jawa, entah dari segi makanan hingga kehidupan beragama. Elvi harus membiasakan diri dengan makanan ubi jalar dan sayur-sayuran setiap hari. Begitu pun dengan mayoritas masyarakat yang beragama non muslim di sini, terkadang Elvi begitu merindukan suara adzan yang menggema ketika memasuki waktu sholat.
***
Ibu sakit nak
Kalimat singkat yang baru saja  Elvi terima membuatnya mematung di tempat. Elvi terdiam lama sekali, raut wajahnya mendadak cemas dan keringat dingin keluar begitu saja. Tomi terkejut melihat ekspresi Elvi yang tiba-tiba berubah ini. Begitu pun dengan anak-anak di depannya, mereka terlihat kebingungan mengetahui ekspresi Elvi yang berubah panik pasca membuka handphone dan membaca pesan singkat yang baru saja masuk.
Tanpa berkata apapun, Elvi segera meninggalkan kelas dan berlari keluar. Pikirannya sudah tak tentu arah lagi, hanya ada satu orang di pikirannya kala itu. Ibu yang amat dicintainya sakit sedangkan dia tidak bisa menemaninya. Elvi terduduk di samping pohon yang terletak cukup jauh dari kelas. Ia membuka handphone kembali kemudian menggoyang-goyangkan ke atas, berusaha mendapatkan sinyal untuk mengirimkan sms balasan kepada Ibu. 
Rasanya begitu menyakitkan ketika mendapati kabar tentang Ibu. Ingin rasanya segera pulang, namun tidak semudah itu. Jarak Jawa dan Papua tidaklah dekat, apalagi ia tidak bisa melanggar ketentuan dari program pengabdian yang diikutinya. Elvi menenggelamkan wajah pada kedua lututnya, menyembunyikan tangisan yang mendadak ingin diluapkan.
“Kakak kenapa?”
Tiba-tiba suara kecil itu terdengar begitu dekat. Elvi mendongakkan wajahnya dan ditemuilah murid-murid yang sedang memandanginya dengan penuh kecemasan. Sesegera mungkin, dihapus air matanya itu.
“Tidak apa-apa. Kakak hanya merindukan Ibu di rumah.” Ujarnya lemah.
 “Kakak yang sabar ya. Mari berdoa untuk kebahagiaan Ibu di rumah.”
Kata-kata penghiburan dari anak-anak tadi justru semakin membuatnya menitikkan air mata lagi dan lagi. Tiba-tiba anak-anak itu memeluknya bersamaan, menghibur Elvi tanpa lelah kemudian menangis bersamanya. Mereka seolah ikut tenggelam dalam kesedihan Elvi. Di saat yang bersamaan Elvi terharu melihat kepeduliaan mereka. Sebuah kepeduliaan yang mampu menenangkan hatinya sejenak Sebuah kepeduliaan yang justru membuatnya lebih kuat dan tabah menghadapi ujian ini. Anak-anak, kalianlah alasan untuk tetap bertahan di sini, kalianlah alasan untuk lebih kuat menjalani kehidupan ini.
***
Tak terasa 1 tahun terlewati sudah di desa Kiwirok ini. Alhamdulillah, Ibu sudah sembuh. Walaupun Elvi sempat berputus asa pasca kambuhnya penyakit Ibu satu bulan yang lalu, namun berkat hiburan dan semangat dari anak-anak, membuatnya tersadar bahwa ia tidak boleh larut dalam kesedihan terus menerus.
Elvi mengambil banyak pelajaran berharga di sini. Elvi belajar dari anak-anak yang tak pernah menyerah dalam menempuh pendidikannya. Anak-anak yang rela berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, menghadapi lelah dan penat yang tak sedikitpun mengggoyahkan tekadnya untuk meraih cita-cita. Tentu saja ujian yang ia hadapi tak pernah bisa menandingi rintangan mereka. Harusnya ia malu, jika Elvi berada di posisi mereka mungkin ia sudah tidak mau sekolah.
Di sepertiga malam itu, Elvi mengenang kembali bagian perjalanan yang akan terus berlanjut ini. Sebuah perjalanan dengan berjuta harapan mengiringi pengabdian kecilnya itu. Dalam kesunyian, ia berdoa “Untuk murid-muridku tercinta, tetaplah menjadi cahaya bagi Papua, tetaplah menjadi cahaya harapan bagi negeri ini. Kalianlah para penerus negeri, kalianlah sosok penuh semangat yang tidak pernah tertandingi. Semoga gerbang kesuksesan menghantarkan kalian menjadi insan-insan emas bangsa dan tumbuh menjadi cahaya harapan bagi Indonesia di masa depan”.
TAMAT